Danantara Tanam 2,5 Miliar Dolar AS di Raksasa Daging Brasil

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia baru mencapai sekitar 2,6 kilogram per kapita per tahun, tertinggal jauh dibandingkan Malaysia ya...

Aug 09, 2026 - 15:21
0 0
Danantara Tanam 2,5 Miliar Dolar AS di Raksasa Daging Brasil

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia baru mencapai sekitar 2,6 kilogram per kapita per tahun, tertinggal jauh dibandingkan Malaysia yang menembus lebih dari 10 kilogram per kapita. Di tengah kesenjangan konsumsi protein hewani tersebut, Danantara Indonesia melalui Danantara Investment Management (DIM) menjalin kemitraan strategis jangka panjang dengan JBS Group, raksasa produsen daging asal Brasil, dengan komitmen investasi mencapai 2,5 miliar dolar AS atau setara kurang lebih Rp 40 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dolar AS.

Kolaborasi ini menandai salah satu langkah terbesar Danantara sejak resmi beroperasi sebagai badan pengelola investasi negara. Dana tersebut diarahkan untuk memperkuat rantai pasok protein hewani di dalam negeri, mulai dari pembangunan fasilitas produksi, penggemukan ternak, hingga sistem distribusi yang lebih efisien. JBS sendiri tercatat sebagai perusahaan pemrosesan daging terbesar di dunia dengan pendapatan tahunan menembus 72 miliar dolar AS pada 2024 dan beroperasi di lebih dari 20 negara.

Skala Investasi dalam Konteks Makroekonomi

Dari kacamata makroekonomi, nilai 2,5 miliar dolar AS setara sekitar 0,18 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang berada di kisaran 1,4 triliun dolar AS. Angka ini juga melampaui realisasi investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) sektor makanan dalam satu kuartal, yang berdasarkan data Kementerian Investasi umumnya berkisar antara 1 hingga 1,5 miliar dolar AS. Dengan kata lain, satu kesepakatan ini berpotensi menggerakkan jarum investasi sektor pangan secara signifikan.

Bank Indonesia per Februari 2025 mencatat cadangan devisa Indonesia berada di level 154,5 miliar dolar AS, sehingga arus modal masuk dari kemitraan ini berpotensi menambah amunisi stabilitas nilai tukar rupiah. Istilah arus modal asing atau capital inflow merujuk pada masuknya dana investor luar negeri ke aset domestik, yang secara tren memperkuat posisi neraca pembayaran suatu negara.

Di Satu Sisi: Peluang Ketahanan Pangan dan Transfer Teknologi

Di satu sisi, kemitraan ini dipandang sebagai katalis ketahanan pangan nasional. Indonesia masih bergantung pada impor daging sapi dengan volume mencapai lebih dari 200 ribu ton per tahun, sementara pemerintah menargetkan swasembada protein dalam lima tahun ke depan. Kehadiran JBS membawa potensi transfer teknologi peternakan modern, standar keamanan pangan global, serta akses pasar ekspor yang selama ini menjadi kelemahan industri peternakan lokal.

Dari sisi ketenagakerjaan, pembangunan fasilitas produksi berskala besar berpotensi menyerap ribuan tenaga kerja langsung maupun tidak langsung melalui rantai pasok, mulai dari peternak plasma, penyedia pakan, hingga logistik rantai dingin (cold chain). Sentimen pasar terhadap saham sektor konsumer di Bursa Efek Indonesia juga cenderung merespons positif kabar ekspansi semacam ini, tercermin dari pergerakan indeks sektor consumer non-cyclicals yang mengalami kenaikan secara year-on-year dalam beberapa periode terakhir.

Di Sisi Lain: Risiko bagi Peternak Lokal dan Ketergantungan Asing

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan risiko yang menyertai masuknya pemain global berskala raksasa. Fundamental peternak rakyat yang menguasai sebagian besar pasokan sapi potong lokal bisa tertekan jika tidak ada skema kemitraan yang inklusif. Pengalaman sejumlah negara menunjukkan konsolidasi industri daging oleh segelintir korporasi besar dapat memangkas margin pelaku usaha kecil dan menekan harga di tingkat peternak.

Investasi sebesar ini positif untuk neraca perdagangan pangan, tetapi desain kemitraannya menentukan siapa yang paling diuntungkan. Tanpa kewajiban kemitraan dengan peternak lokal dan kandungan lokal yang jelas, manfaatnya bisa menguap ke luar negeri dalam bentuk repatriasi laba, ujar seorang ekonom pertanian dari lembaga riset di Jakarta.

Risiko lain datang dari sisi valuasi dan likuiditas. Jika porsi kepemilikan asing terlalu dominan, potensi capital outflow di masa depan, yakni penarikan dana investor asing secara masif, dapat memicu volatilitas, terutama bila terjadi perubahan kebijakan global seperti kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat. Rasio ketergantungan terhadap satu mitra strategis juga perlu dikelola agar portofolio investasi Danantara tetap terdiversifikasi lintas sektor dan tidak terkonsentrasi pada satu industri saja.

Proyeksi dan Hal yang Perlu Dicermati Pasar

Ke depan, pasar akan mencermati tiga hal. Pertama, realisasi bertahap dari komitmen 2,5 miliar dolar AS tersebut, mengingat kesepakatan investasi kerap memerlukan waktu bertahun-tahun untuk terserap penuh. Kedua, struktur tata kelola proyek, termasuk porsi kepemilikan DIM dan mekanisme transfer teknologi. Ketiga, dampaknya terhadap neraca perdagangan sektor pangan yang sepanjang 2024 masih mencatat defisit pada komoditas daging dan susu.

Proyeksi sejumlah lembaga riset menyebutkan, bila investasi terealisasi penuh dalam lima tahun, kontribusinya terhadap produksi protein hewani domestik bisa mengalami kenaikan signifikan dan menekan impor hingga 15 sampai 20 persen. Namun bila eksekusi tersendat, kesepakatan ini berisiko berhenti sebagai komitmen di atas kertas. Bagi pelaku pasar, memantau realisasi proyek, bukan sekadar nilai headline, menjadi kunci menilai dampak sesungguhnya bagi fundamental ekonomi nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User