Danantara Siapkan IPO BUMN: Peluang Pendalaman Pasar atau Risiko Valuasi?

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per akhir Desember 2024, kapitalisasi pasar saham domestik tercatat sekitar Rp 12.300 triliun, namun penghimpunan dana melalui penawaran umum perdana saham ...

Aug 09, 2026 - 16:47
0 0
Danantara Siapkan IPO BUMN: Peluang Pendalaman Pasar atau Risiko Valuasi?

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per akhir Desember 2024, kapitalisasi pasar saham domestik tercatat sekitar Rp 12.300 triliun, namun penghimpunan dana melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) sepanjang tahun lalu hanya berkisar Rp 13,5 triliun — merosot tajam dari capaian 2023 yang menembus Rp 54 triliun. Di tengah tren pelemahan tersebut, rencana Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara melepas sebagian saham sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) ke publik menjadi perhatian pelaku pasar.

Manajemen Danantara menegaskan bahwa aksi IPO merupakan bagian dari peta jalan transformasi BUMN untuk periode lima tahun ke depan. Chief Operating Officer BPI Danantara Dony Oskaria menyebut sejumlah entitas pelat merah telah masuk daftar kajian, di antaranya PT Pegadaian dan PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Injourney), holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata.

Konteks Makro: Konsolidasi BUMN dan Ambisi Danantara

Sejak diresmikan pada Februari 2025, Danantara membidik pengelolaan aset negara hingga US$900 miliar atau setara lebih dari Rp 14.000 triliun, dengan target kontribusi dividen yang terus meningkat terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagai gambaran, dividen BUMN yang disetor ke kas negara pada 2024 berada di kisaran Rp 85 triliun. Strategi konsolidasi juga menekan jumlah BUMN dari 108 entitas menjadi sekitar 30 perusahaan melalui pembentukan holding sektoral.

Dari sisi pasar modal, fundamental domestik sebenarnya cukup menopang. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor pasar modal telah menembus 13 juta single investor identification (SID), tumbuh dua digit secara year-on-year. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di rentang 7.200–7.700 sepanjang 2024, ditopang pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil di level 5,03 persen.

Di Satu Sisi: IPO sebagai Katalis Transparansi dan Likuiditas

Di satu sisi, rencana ini dipandang positif. IPO memaksa perusahaan negara tunduk pada standar keterbukaan informasi, audit independen, dan disiplin pasar — hal yang selama ini kerap menjadi kritik terhadap tata kelola BUMN. Aksi korporasi semacam ini juga berpotensi memperdalam pasar modal domestik, menambah pilihan portofolio bagi investor ritel, serta meningkatkan likuiditas perdagangan harian yang saat ini berkisar Rp 10–12 triliun per sesi.

Dari sisi kesiapan emiten, Pegadaian relatif matang: perseroan membukukan laba bersih sekitar Rp 4,3 triliun pada 2024, naik lebih dari 20 persen year-on-year, dengan total aset menembus Rp 100 triliun. Adapun Injourney diuntungkan oleh tren pemulihan pariwisata, dengan pergerakan penumpang udara domestik yang kembali mendekati level sebelum pandemi.

"IPO BUMN yang dikelola dengan valuasi wajar dan tata kelola kredibel dapat menjadi jangkar pendalaman pasar modal. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada momentum pasar dan kesiapan fundamental emiten itu sendiri," ujar seorang kepala ekonom di sekuritas domestik.

Di Sisi Lain: Risiko Valuasi, Timing, dan Sentimen Global

Di sisi lain, sejumlah analis mengingatkan risiko yang tidak kecil. Kapasitas serap pasar domestik terbatas — dengan realisasi IPO 2024 yang hanya Rp 13,5 triliun, penawaran saham berskala besar berisiko menekan valuasi atau bahkan gagal mencapai target penghimpunan dana. Tekanan capital outflow akibat kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat dari perkiraan, serta depresiasi rupiah yang sempat menembus Rp 16.000 per dolar AS, turut membayangi sentimen pasar.

Kekhawatiran lain menyangkut perlindungan investor minoritas. Pengalaman sejumlah IPO BUMN di masa lalu menunjukkan harga saham pasca-penawaran tidak selalu bergerak sesuai ekspektasi, terutama bila penentuan harga lebih didorong target penerimaan negara ketimbang fundamental perusahaan. Untuk Injourney, misalnya, beban restrukturisasi entitas di dalam holding masih menjadi catatan tersendiri.

Proyeksi ke Depan

Ke depan, keberhasilan strategi ini akan ditentukan tiga variabel: kesiapan fundamental emiten, kondisi likuiditas pasar, dan konsistensi tata kelola. Bila dieksekusi bertahap dengan rasio pelepasan saham yang proporsional, IPO BUMN berpotensi menjadi motor pendalaman pasar modal hingga 2029. Sebaliknya, eksekusi yang terburu-buru justru dapat menggerus kepercayaan investor. Pasar kini menanti detail resmi: jadwal, struktur penawaran, dan rentang valuasi yang akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ambisi transformasi Danantara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User