Danantara Dorong IPO BUMN di BEI: Peluang Likuiditas dan Tantangannya
Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir September 2025, aliran modal asing di pasar saham domestik masih bergerak fluktuatif, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di kisaran 7.000 hin...
Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir September 2025, aliran modal asing di pasar saham domestik masih bergerak fluktuatif, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di kisaran 7.000 hingga 7.400 sepanjang tahun berjalan. Adapun Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kapitalisasi pasar sekitar Rp 12.800 triliun dengan rata-rata nilai transaksi harian Rp 11 triliun hingga Rp 13 triliun. Di tengah kondisi tersebut, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyampaikan rencana membawa sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) melantai di bursa melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Tujuannya adalah memperdalam pasar modal sekaligus meningkatkan likuiditas, yakni kemudahan suatu aset diperjualbelikan tanpa menggerakkan harga secara berlebihan.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa pencatatan saham BUMN di bursa dirancang untuk menambah kedalaman pasar, bukan sekadar mencari dana segar. Dua nama yang disebut berada dalam radar rencana ini adalah PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan PT Angkasa Pura Indonesia. Keduanya merupakan BUMN hasil konsolidasi besar: Pelindo lahir dari penggabungan empat entitas pelabuhan pada Oktober 2021, sedangkan Angkasa Pura Indonesia terbentuk dari merger Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II yang berlaku efektif pada 2024. Danantara sendiri, yang resmi beroperasi Februari 2025, mengelola aset BUMN dengan nilai agregat yang diproyeksikan menembus US$900 miliar atau lebih dari Rp 14.000 triliun, menjadikannya salah satu sovereign wealth fund (dana kekayaan negara) terbesar di Asia.
Di Satu Sisi: Pendalaman Pasar dan Efek Ganda Likuiditas
Di satu sisi, rencana IPO BUMN berpotensi memperkuat fundamental pasar modal Indonesia. Saat ini jumlah emiten di BEI sekitar 940 perusahaan, namun kapitalisasi masih terkonsentrasi pada segelintir saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan pelat merah. Masuknya emiten dari sektor pelabuhan dan kebandarudaraan akan memperkaya diversifikasi sektoral bagi portofolio investor, baik domestik maupun asing.
Dari sisi likuiditas, tambahan emiten besar berarti tambahan pasokan saham berkualitas yang aktif diperdagangkan. Sejumlah IPO BUMN dan anak usahanya dalam lima tahun terakhir mencatat tren kelebihan permintaan (oversubscription) berlipat ganda, menandakan minat pasar yang kuat terhadap aset negara yang dikelola transparan. Selain itu, perusahaan tercatat wajib mematuhi standar tata kelola dan keterbukaan informasi sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang pada gilirannya dapat memperbaiki valuasi, yakni penilaian kewajaran harga saham oleh pasar.
"BUMN yang melantai di bursa akan lebih disiplin karena diawasi publik, sementara pasar memperoleh instrumen baru yang likuid. Jika valuasinya wajar, ini saling menguntungkan," ujar seorang ekonom pasar modal di Jakarta.
Di Sisi Lain: Risiko Valuasi dan Tekanan Capital Outflow
Di sisi lain, rencana ini bukan tanpa tantangan. Pertama, soal valuasi. Pelindo dan Angkasa Pura adalah perusahaan infrastruktur dengan belanja modal tinggi dan umur investasi panjang, sehingga rasio utang terhadap ekuitas cenderung lebih besar dibanding emiten sektor konsumer. Jika harga IPO dipatok terlalu agresif, saham berisiko mengalami penurunan setelah pencatatan dan justru menekan sentimen pasar.
Kedua, faktor eksternal. Tren capital outflow, yakni keluarnya modal asing dari pasar domestik, masih membayangi sepanjang 2025 seiring kebijakan suku bunga global yang tinggi. Rata-rata nilai transaksi harian BEI tahun ini diperkirakan mengalami penurunan sekitar 5 persen hingga 8 persen secara year-on-year dibanding periode yang sama 2024, sehingga penyerapan IPO berskala besar bisa lebih berat. Ketiga, muncul kekhawatiran sebagian publik bahwa pelepasan saham BUMN strategis akan mengurangi kontrol negara atas pelabuhan dan bandara, meskipun dalam skema umum pemerintah tetap mempertahankan porsi mayoritas di atas 51 persen.
Proyeksi: Momentum dan Kesiapan Menjadi Penentu
Menilik pipeline pencatatan, BEI hingga akhir 2025 masih didominasi IPO perusahaan swasta skala menengah. Kehadiran BUMN sekelas Pelindo, yang mengoperasikan lebih dari 100 pelabuhan, atau Angkasa Pura dengan jaringan puluhan bandara berpotensi menjadi katalis signifikan bagi indeks dan volume perdagangan. Namun prosesnya tidak singkat: audit laporan keuangan, restrukturisasi anak usaha, hingga persetujuan Kementerian BUMN dan OJK diperkirakan memakan waktu 12 hingga 24 bulan.
Pada akhirnya, keberhasilan rencana Danantara akan ditentukan tiga variabel: kewajaran valuasi, momentum pasar, dan kejelasan penggunaan dana hasil IPO. Jika ketiganya terpenuhi, pasar modal Indonesia berpeluang naik kelas dengan likuiditas yang lebih dalam. Sebaliknya, bila dipaksakan di tengah kondisi pasar yang rapuh, risikonya adalah penurunan kepercayaan investor yang sulit dipulihkan dalam jangka pendek.
Comments (0)