Oct 09, 2026
Bisnis

Danantara Buka Suara soal Dividen BUMN yang Tak Masuk APBN 2026-2027

Berdasarkan konfirmasi resmi jajaran eksekutif Danantara Indonesia pada awal pekan ini, dividen dari badan usaha milik negara yang berada di bawah pengelolaan mereka dipastikan tidak akan disetor ke k...

Danantara Buka Suara soal Dividen BUMN yang Tak Masuk APBN 2026-2027

Berdasarkan konfirmasi resmi jajaran eksekutif Danantara Indonesia pada awal pekan ini, dividen dari badan usaha milik negara yang berada di bawah pengelolaan mereka dipastikan tidak akan disetor ke kas negara dalam periode Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 maupun 2027. Keputusan ini disampaikan langsung oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, yang menegaskan bahwa skema tersebut memang dirancang sejak awal dan bukan merupakan penyimpangan kebijakan fiskal.

Pernyataan ini menjadi perhatian publik karena selama puluhan tahun dividen BUMN merupakan salah satu sumber pendapatan negara bukan pajak (PNBP) yang cukup signifikan. Pada 2023, setoran dividen BUMN ke APBN menembus angka Rp 82 triliun, sementara pada 2024 nilainya berfluktuasi seiring tekanan harga komoditas dan pelemahan nilai tukar rupiah yang memukul sektor energi dan pertambangan.

Dua Sisi Kebijakan: Reinvestasi vs Penerimaan Negara

Di satu sisi, keputusan menahan dividen di dalam struktur Danantara memiliki logika ekonomi yang kuat. Dana yang tidak disetor ke APBN dapat dialihkan sebagai modal investasi jangka panjang, memperkuat struktur permodalan, dan meningkatkan kapasitas pembiayaan proyek strategis nasional. Dalam kerangka ini, dividen diperlakukan sebagai laba ditahan yang menambah ekuitas, sehingga rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio) perseroan tetap terkendali dan biaya modal bisa ditekan. Jika dana itu diinvestasikan pada sektor dengan imbal hasil di atas 10 persen per tahun, nilai tambah dalam jangka panjang berpotensi melampaui setoran fiskal konvensional.

Di sisi lain, keputusan ini memunculkan pertanyaan tentang dampaknya terhadap likuiditas anggaran negara. Ketika dividen tidak lagi mengalir ke kas negara, pemerintah harus mencari sumber penerimaan lain atau menyesuaikan belanja. Dalam situasi defisit anggaran yang diproyeksikan masih berkisar 2,5 hingga 2,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto, hilangnya setoran dividen dapat memperbesar kebutuhan pembiayaan melalui Surat Berharga Negara (SBN). Konsekuensinya, tekanan pada pasar obligasi dan potensi kenaikan yield bisa muncul, yang pada akhirnya menambah beban bunga utang dalam jangka menengah.

Menteri Keuangan sebelumnya menargetkan penerimaan PNBP dari dividen BUMN sebesar Rp 90 triliun dalam RAPBN 2026. Jika target itu tidak lagi mencantumkan dividen Danantara, proyeksi pendapatan negara perlu direvisi. Namun, pemerintah menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari konsolidasi fiskal yang lebih luas, bukan semata-mata penurunan penerimaan.

Konteks Kelembagaan: Apa Itu Danantara?

Danantara Indonesia dibentuk sebagai sovereign wealth fund yang mengonsolidasikan kepemilikan saham negara pada sejumlah BUMN besar. Model ini mengadopsi pendekatan serupa dengan Temasek di Singapura atau Khazanah di Malaysia, di mana dividen diarahkan untuk reinvestasi demi pertumbuhan nilai aset. Dalam kerangka ini, dividen tidak dipandang sebagai pendapatan rutin, melainkan sebagai return on equity yang seharusnya dipertahankan dalam portofolio agar terjadi efek majemuk (compounding effect) yang menguntungkan negara dalam jangka panjang.

Pendekatan ini memerlukan tata kelola yang sangat disiplin. Transparansi laporan keuangan, audit independen, dan mekanisme pengawasan dari Kementerian BUMN serta Kementerian Keuangan menjadi kunci agar dana tidak mengendap atau dialokasikan pada proyek dengan valuasi yang tidak wajar. Tanpa pengawasan ketat, risiko moral hazard dan inefisiensi justru bisa menggerus manfaat reinvestasi, sehingga tujuan awal untuk memaksimalkan nilai aset negara tidak tercapai.

"Dana yang dikelola Danantara akan diarahkan pada instrumen produktif dan proyek strategis dengan tingkat pengembalian yang terukur," ujar Dony Oskaria dalam keterangan resminya, seraya menambahkan bahwa skema ini telah melalui kajian mendalam bersama pemangku kepentingan terkait.

Respons Pasar dan Proyeksi ke Depan

Dari sisi sentimen pasar, pernyataan ini memberikan sinyal positif bagi kalangan investor yang khawatir terhadap intervensi fiskal terhadap BUMN. Pasar modal cenderung menyukai kebijakan yang memberi ruang bagi korporasi untuk mengelola modalnya secara efisien. Indeks saham sektor energi dan infrastruktur tercatat relatif stabil dalam dua hari perdagangan setelah pernyataan tersebut, mencerminkan bahwa pelaku pasar melihat langkah ini sebagai bagian dari reformasi kelembagaan yang lebih fundamental.

Meski demikian, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa hilangnya setoran dividen tidak bisa diabaikan begitu saja. Dalam skenario pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan berada di kisaran 5 persen, penerimaan negara dari sektor pajak dan PNBP lain harus dipacu untuk menutup selisih. Pemerintah perlu memastikan bahwa reinvestasi Danantara benar-benar menghasilkan arus kas yang kembali ke negara, baik melalui penjualan aset, initial public offering unit usaha, maupun dividen di tahun-tahun berikutnya.

Dengan demikian, kebijakan ini menempuh dua jalur sekaligus: menahan dividen untuk membangun fundamental korporasi dan menyesuaikan struktur penerimaan negara demi menjaga keberlanjutan fiskal. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada disiplin eksekusi, transparansi, dan kemampuan Danantara menunjukkan kinerja investasi yang lebih tinggi daripada sekadar menyetor dividen ke APBN. Publik dan pasar tentu akan menilai bukan dari pernyataan awal, melainkan dari laporan kinerja tahunan dan dampak nyata terhadap perekonomian nasional.

Ke depan, proyeksi penerimaan negara, kualitas belanja, serta arah capital outflow menjadi tiga indikator yang layak dicermati untuk menilai apakah strategi ini benar-benar menguntungkan negara dalam jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User