Aug 24, 2026
Bisnis

Cibis Travel Fair 2026 Soroti Tren Staycation dan Wisata Dekat Jakarta

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan II 2026, jumlah perjalanan wisatawan nusantara selama semester pertama tahun ini diperkirakan menembus 300 juta perjalanan, mengalami kenaikan...

Cibis Travel Fair 2026 Soroti Tren Staycation dan Wisata Dekat Jakarta

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan II 2026, jumlah perjalanan wisatawan nusantara selama semester pertama tahun ini diperkirakan menembus 300 juta perjalanan, mengalami kenaikan sekitar 11 persen secara year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Angka ini menjadi pijakan utama Cibis Travel Fair 2026 yang digelar di kawasan Jakarta Selatan. Pameran tahunan tersebut mengangkat tema liburan dekat: staycation dan destinasi wisata dengan jarak tempuh singkat dari Ibu Kota, menyasar pekerja perkantoran serta keluarga yang ingin memangkas biaya sekaligus waktu perjalanan.

Lebih dari 100 pelaku industri pariwisata, mulai dari hotel, maskapai, hingga operator perjalanan, dilaporkan ambil bagian dalam pameran yang berlangsung selama tiga hari itu. Panitia membidik transaksi langsung maupun pemesanan paket liburan jangka pendek, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap akomodasi dalam kota dan destinasi sekitarnya seperti Puncak, Bandung, hingga Anyer. Dengan tiket masuk yang terjangkau dan berbagai promo bundling, ajang ini diharapkan menjadi etalase bagi konsumen yang masih selektif dalam membelanjakan anggaran rekreasi.

Staycation: Jawaban atas Efisiensi Waktu dan Anggaran

Staycation, yang merujuk pada aktivitas liburan dengan menginap di hotel dalam kota atau sekitarnya tanpa perjalanan jauh, semakin populer di kalangan pekerja. Bagi pekerja, konsep ini memangkas biaya transportasi yang belakangan mengalami kenaikan, sementara bagi perusahaan, kegiatan kebersamaan tim menjadi lebih mudah direncanakan tanpa mengganggu jadwal operasional. Indikator pendukungnya terlihat dari tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang di DKI Jakarta yang pada Juni 2026 tercatat sekitar 62 persen, mengalami kenaikan sekitar 4 poin persentase dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Tren akhir pekan menjadi penopang utama, dengan okupansi hotel perkotaan kerap menembus 80 persen pada Jumat hingga Minggu.

Pro dan Kontra: Efisiensi versus Pengalaman Baru

Pro: Staycation dinilai lebih rasional dari sisi keuangan. Dengan anggaran sekitar dua juta rupiah, sebuah keluarga dapat memperoleh paket menginap satu malam lengkap dengan fasilitas kolam renang dan sarapan, tanpa harus mengeluarkan biaya tiket transportasi antarkota. Rasio biaya terhadap kepuasan menjadi lebih sehat, terutama bagi keluarga dengan anak kecil yang tidak membutuhkan perjalanan jauh untuk sekadar beristirahat.

Kontra: Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa liburan jenis ini belum tentu memberikan efek pemulihan psikologis yang setara dengan perjalanan ke destinasi baru. Lingkungan hotel yang mirip dengan rutinitas kota dapat membatasi sensasi refreshing, sehingga sebagian wisatawan tetap memilih perjalanan dua hingga tiga jam dari Jakarta. Perbedaan preferensi inilah yang membuat pasar bergerak dua arah: akomodasi perkotaan tumbuh, tetapi destinasi pegunungan dan pesisir tetap ramai dikunjungi pada akhir pekan.

Sentimen Pasar dan Proyeksi Fundamental Pariwisata

Dari sisi makro, sektor pariwisata menunjukkan fundamental yang kian solid. Indeks harga saham emiten perhotelan dan restoran tercatat menguat dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan sentimen pasar yang positif terhadap pemulihan permintaan domestik, sementara valuasinya dinilai masih berada pada level yang wajar. Namun, pelaku industri tetap waspada terhadap risiko capital outflow dari pasar keuangan domestik yang dapat menekan nilai tukar dan pada gilirannya mendorong biaya operasional hotel yang bergantung pada barang impor. Likuiditas perbankan yang longgar turut menjadi penopang, memungkinkan masyarakat mengakses pembiayaan konsumtif untuk kebutuhan liburan. Tak kalah penting, banyak operator mulai memperluas portofolio paket staycation guna menangkap permintaan segmen korporat. Proyeksi pertumbuhan jumlah perjalanan wisatawan nusantara hingga akhir 2026 diperkirakan berada di kisaran 8 hingga 10 persen, dengan staycation menyumbang porsi signifikan dari tambahan permintaan tersebut.

Cibis Travel Fair 2026 menjadi cermin bagaimana industri pariwisata beradaptasi dengan perilaku konsumen yang lebih sadar anggaran. Di satu sisi, tren staycation menawarkan efisiensi dan fleksibilitas; di sisi lain, kebutuhan akan pengalaman baru tetap menjadi daya tarik destinasi jarak dekat. Bagi para pelaku usaha, memahami dua sisi permintaan ini menjadi kunci menjaga daya saing di tengah persaingan yang kian ketat, tanpa perlu menjanjikan keuntungan instan melainkan layanan yang sesuai dengan kebutuhan nyata konsumen.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User