China Peringatkan Ambisi Nuklir Jepang Picu Perlombaan Senjata Kawasan

Beijing, Beritadua.com — Beijing dan Moskow menyatakan menolak keras percepatan militerisasi Jepang serta wacana Tokyo untuk memiliki senjata nuklir. Duta

Aug 21, 2026 - 20:47
0 0
China Peringatkan Ambisi Nuklir Jepang Picu Perlombaan Senjata Kawasan

Beijing, Beritadua.com — Beijing dan Moskow menyatakan menolak keras percepatan militerisasi Jepang serta wacana Tokyo untuk memiliki senjata nuklir. Duta Besar China untuk Rusia, Zhang Hanhui, memperingatkan bahwa kebijakan itu berpotensi menghancurkan keseimbangan strategis di Asia Timur Laut dan memicu perlombaan senjata nuklir yang bisa meletus sewaktu-waktu.

Konsensus Tinggi Beijing-Moskow

Dalam artikel yang diterbitkan kantor berita Rusia TASS pada Kamis (20/8/2026), Zhang Hanhui mengungkapkan bahwa Moskow dan Beijing telah mencapai "tingkat konsensus yang tinggi" dalam menilai arah kebijakan pertahanan Jepang. Menurutnya, kedua ibu kota memandang perlu untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan terbaru di Tokyo, terutama yang berkaitan dengan kebijakan persenjataan.

"Beijing dan Moskow memandang perlu untuk tetap sangat waspada dan dengan tegas menentang remiliterisasi Jepang yang dipercepat serta upayanya untuk memperoleh senjata nuklir," tulis Zhang dalam artikel tersebut.

Ancaman Perlombaan Senjata Nuklir

Zhang menegaskan bahwa keputusan Tokyo untuk membangun senjata nuklirnya sendiri akan mengganggu keseimbangan strategis di kawasan Asia Timur Laut secara total. Ia menyebut risiko terburuknya adalah meletusnya perlombaan senjata nuklir di kawasan kapan saja. Peringatan ini disampaikan di tengah meningkatnya perdebatan di Jepang soal kemungkinan memiliki senjata atom, sebuah wacana yang sebelumnya dianggap tabu di negara yang pernah menjadi korban bom atom tersebut.

Berikut rangkaian pernyataan kunci Zhang Hanhui dalam artikel yang diterbitkan TASS:

  1. Beijing dan Moskow mencapai tingkat konsensus yang tinggi dalam menilai kebijakan pertahanan Jepang;
  2. Kedua negara dengan tegas menentang percepatan remiliterisasi Jepang;
  3. Kedua negara menentang upaya Jepang untuk memperoleh senjata nuklir;
  4. Kepemilikan senjata nuklir oleh Jepang akan menghancurkan keseimbangan strategis Asia Timur Laut;
  5. Perlombaan senjata nuklir di kawasan dapat meletus sewaktu-waktu;
  6. Pasukan sayap kanan Jepang diingatkan agar tidak bermain api dalam kebijakan nuklir.

"Bermain Api" di Ambang Sejarah

Zhang mengakhiri pernyataannya dengan peringatan yang bernuansa historis. "Jika pasukan sayap kanan Jepang terus bermain api dalam kebijakan nuklir, rakyat Jepang pada akhirnya akan kembali berdiri di dermaga sejarah," ujarnya. Ungkapan itu merujuk pada kekhawatiran bahwa dorongan militeristik di Jepang dapat membawa negara tersebut kembali pada jalan yang sama dengan masa lalu kelamnya.

Pernyataan ini muncul saat Tokyo mempercepat langkah persenjataan kembali dalam beberapa tahun terakhir. Jepang, yang selama ini menganut Tiga Prinsip Non-Nuklir — tidak memproduksi, tidak memiliki, dan tidak mengizinkan senjata nuklir masuk ke wilayahnya — kini menghadapi tekanan untuk meninjau ulang kebijakan tersebut di tengah memburuknya lingkungan keamanan kawasan. Sebagian kalangan politik di Jepang mulai memperdebatkan skema berbagi nuklir dengan Amerika Serikat sebagai payung pertahanan alternatif.

Konteks Ketegangan Kawasan

Peringatan Beijing dan Moskow tidak muncul dalam ruang hampa. Jepang memiliki sengketa wilayah dengan China di Laut China Timur serta dengan Rusia terkait kepulauan Kuril Selatan yang selama puluhan tahun menghambat penandatanganan perjanjian damai antara Tokyo dan Moskow. Kedua isu itu kerap menjadi sumber gesekan diplomatik yang memanaskan hubungan Jepang dengan Beijing maupun Moskow.

Anggaran pertahanan Jepang juga meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan Tokyo mencanangkan penguatan kapabilitas serangan balasan dan alokasi belanja militer terbesar sejak Perang Dunia II. Langkah tersebut, menurut Beijing dan Moskow, hanya akan memperbesar ketidakstabilan di kawasan alih-alih meningkatkan keamanan bersama.

Di sisi lain, sikap tegas Beijing dan Moskow terhadap Tokyo menjadi menarik karena kedua negara kerap berselisih dalam berbagai isu global. Kesamaan pandangan mereka soal Jepang menunjukkan bahwa dinamika keamanan di Asia Timur Laut kini menjadi perhatian bersama, sekaligus menandai babak baru persaingan strategis di kawasan yang juga melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya.

Respons Jepang Dinanti

Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Jepang atas pernyataan Zhang Hanhui. Namun, para pengamat menilai peringatan keras dari Beijing dan Moskow akan menambah tensi diplomatik Tokyo dengan kedua negara tersebut. Diskusi soal arsitektur keamanan Asia Timur Laut pun diprediksi semakin memanas, terutama jika debat nuklir di parlemen Jepang terus berlanjut.

[SOCIAL_TWEET]: China dan Rusia peringatkan Jepang soal ambisi nuklir: keseimbangan strategis Asia Timur Laut terancam dan perlombaan senjata bisa meletus sewaktu-waktu. #Jepang #SenjataNuklir[SOCIAL_TG]: 🇨🇳🇷🇺 China-Rusia menolak keras ambisi nuklir Jepang. Dubes Zhang Hanhui: "Jika sayap kanan Jepang terus bermain api, rakyat Jepang akan kembali berdiri di dermaga sejarah."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User