Sep 09, 2026
Hukum

CAWANG — Tangga JPO Turun ke Tengah Jalan, Pramono Desak Pengembang Segera Benahi

Deru mesin kendaraan bermotor meraung saban hari di kawasan Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur. Di tengah padatnya arus lalu lintas yang agresif, te

CAWANG — Tangga JPO Turun ke Tengah Jalan, Pramono Desak Pengembang Segera Benahi

Deru mesin kendaraan bermotor meraung saban hari di kawasan Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur. Di tengah padatnya arus lalu lintas yang agresif, terpampang sebuah pemandangan tak lazim yang mengancam keselamatan warga. Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang seharusnya menjadi benteng perlindungan pejalan kaki, justru menjelma menjadi jebakan berbahaya. Salah satu tangga akses naik-turun fasilitas publik tersebut mendarat persis di tengah badan jalan aktif, memaksa penyeberang jalan melangkah langsung ke jalur kendaraan.

Kondisi anomali ini memicu keresahan mendalam bagi publik yang melintas. Bagi warga yang terbiasa menggunakan sarana penyeberangan tersebut, menjejakkan kaki di anak tangga paling bawah membutuhkan kewaspadaan ekstra. Pejalan kaki yang baru saja turun dari jembatan tidak disambut oleh trotoar yang aman, melainkan langsung berhadapan dengan aspal keras dan lalu lalang sepeda motor serta mobil. Desain infrastruktur yang dinilai tidak masuk akal ini memicu gelombang kritik pedas dari berbagai lapisan masyarakat.

Potret Buram Perencanaan Infrastruktur Publik

Kasus tangga JPO di Cawang ini membuka tabir buram mengenai lemahnya koordinasi dan pengawasan dalam pembangunan fasilitas perkotaan. Bagaimana mungkin sebuah konstruksi fisik berukuran besar dapat rampung tanpa memperhitungkan ruang aman bagi pejalan kaki? Berdasarkan pemantauan di lokasi, posisi muara tangga yang memakan sebagian bahu jalan aktif ini menaruh ratusan Pejalan Kaki harian dalam risiko kecelakaan lalu lintas yang sangat tinggi.

Para penguna jalan dan masyarakat setempat mempertanyakan fungsi audit keselamatan sebelum fasilitas ini diizinkan untuk digunakan. Penempatan tangga di area lalu lintas tidak hanya mengancam nyawa pejalan kaki, tetapi juga membahayakan para pengendara yang bisa saja terkejut saat melihat adanya pergerakan manusia secara mendadak dari balik struktur tangga.

Pramono Desak Pengembang Bertanggung Jawab

Menanggapi polemik yang kian menjadi sorotan publik ini, calon Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberikan teguran keras. Ia mendesak pihak pengembang yang mengerjakan atau mengelola JPO tersebut untuk mengambil tindakan cepat dan tidak lepas tangan atas bahaya yang ditimbulkan dari desain fisik jembatan penyeberangan itu.

"Ini sangat membahayakan keselamatan warga. Pengembang harus segera membenahi dan mengembalikan fungsi JPO tersebut agar sesuai dengan standar keselamatan pejalan kaki. Pembangunan kota tidak boleh mengorbankan nyawa manusia," tegas Pramono saat memberikan keterangannya terkait keluhan masyarakat.

Pramono menegaskan bahwa fasilitas umum harus menempatkan aspek keselamatan warga di atas prioritas lainnya. Kritik tegas ini mencerminkan kejenuhan publik terhadap hasil pembangunan fisik yang sering kali terkesan asal jadi dan minim perencanaan jangka panjang.

Perbandingan Kondisi JPO Cawang dengan Standar Keselamatan

Untuk memahami betapa jauhnya ketimpangan antara kondisi riil di lapangan dengan regulasi teknis pembangunan JPO, berikut adalah tabel perbandingan analisis keselamatan:

Parameter Evaluasi Standar Ideal JPO (Regulasi Kementerian PUPR) Kondisi Realita JPO Dewi Sartika Cawang
Muara Akses Tangga (Landing) Terhubung langsung ke trotoar/pedestrian bebas hambatan Mendarat di tengah badan jalan aktif kendaraan
Tingkat Risiko Kecelakaan Sangat Rendah (Terisolasi penuh dari arus lalu lintas) Sangat Tinggi (Berhadapan langsung dengan kendaraan melaju)
Interaksi Pejalan Kaki & Kendaraan Terpisah secara fisik dan aman Tercampur pada titik turun tangga JPO

Anomali Pembangunan yang Harus Segera Dibongkar

Para pengamat tata kota memandang keberadaan tangga JPO yang berada di tengah jalan sebagai bentuk kecerobohan teknis yang fatal. Dalam pembangunan ruang publik, hak pejalan kaki seharusnya menjadi aspek utama yang dilindungi, bukan malah dikorbankan demi menyelaraskan sisa lahan proyek yang terbatas.

Desakan kini tertuju penuh kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan serta Dinas Bina Marga untuk segera mengevaluasi izin dan memanggil pengembang proyek. Perombakan ulang posisi tangga harus dilakukan secara menyeluruh, bukan sekadar penambahan rambu darurat. Publik berharap perbaikan segera direalisasikan sebelum jatuhnya korban jiwa akibat kelalaian perencanaan infrastruktur di kawasan Cawang tersebut.

Fasilitas pejalan kaki di Jalan Dewi Sartika, Cawang, dikeluhkan warga karena tangga aksesnya mendarat persis di badan jalan aktif. Pramono Anung mengecam kecerobohan perencanaan ini dan meminta perbaikan darurat dilakukan pengembang demi keselamatan warga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User