Cabai Rawit Nyaris Rp 60 Ribu per Kg, Inflasi Pangan Disorot

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, harga cabai rawit di sejumlah pasar induk mengalami kenaikan tajam hingga nyaris menyentuh Rp 60.000 per kilogram, atau naik sekitar 30 ...

Aug 10, 2026 - 11:27
0 0
Cabai Rawit Nyaris Rp 60 Ribu per Kg, Inflasi Pangan Disorot

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026, harga cabai rawit di sejumlah pasar induk mengalami kenaikan tajam hingga nyaris menyentuh Rp 60.000 per kilogram, atau naik sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan rata-rata harga normal yang berkisar Rp 40.000 hingga Rp 45.000 per kilogram. Kenaikan ini tidak terjadi sendirian. Komoditas pangan strategis lain seperti beras, daging sapi, dan daging ayam ras juga menunjukkan tren penguatan harga, sehingga menambah tekanan terhadap inflasi kelompok bahan makanan.

Inflasi volatile food, yakni komponen harga yang mudah bergejolak akibat faktor musiman dan pasokan, tercatat menjadi penyumbang utama inflasi nasional dalam beberapa bulan terakhir. Bank Indonesia memperkirakan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari 2026 berada di kisaran 2,6 persen year-on-year, masih berada dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, namun kontribusi komponen pangan bergejolak terus meningkat dan patut diwaspadai.

Faktor Pasokan Menjadi Pemicu Utama

Dari sisi fundamental, lonjakan harga cabai rawit umumnya dipicu oleh gangguan pasokan akibat curah hujan tinggi di sentra produksi seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan. Intensitas hujan berlebih menurunkan produktivitas tanaman serta memicu serangan hama, sehingga hasil panen menyusut. Rasio antara permintaan yang relatif stabil dengan pasokan yang menyempit secara otomatis mendorong harga bergerak naik.

Selain faktor cuaca, biaya produksi juga mengalami kenaikan. Harga pupuk, pestisida, dan ongkos logistik dari daerah sentra menuju pasar induk meningkat seiring penyesuaian harga energi. Kondisi ini memperlebar selisih antara harga di tingkat petani dan harga eceran yang dibayar konsumen akhir, sekaligus menunjukkan adanya inefisiensi rantai distribusi yang belum terselesaikan.

Di Satu Sisi: Daya Beli Konsumen Tertekan

Di satu sisi, kenaikan harga pangan berdampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah yang mengalokasikan lebih dari 25 persen pengeluarannya untuk bahan makanan. Cabai termasuk komoditas dengan elastisitas permintaan rendah, artinya konsumen tetap membeli meski harga naik, sehingga pengeluaran rumah tangga otomatis membengkak dan mengurangi ruang belanja untuk kebutuhan lain.

Kenaikan harga pangan yang berkepanjangan berpotensi menggerus konsumsi riil rumah tangga, yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi sekitar 53 persen terhadap produk domestik bruto, ujar seorang ekonom dari lembaga riset keuangan di Jakarta.

Jika tren ini berlanjut, sentimen pasar terhadap prospek konsumsi domestik berisiko melemah. Pelaku usaha ritel dan kuliner juga menghadapi tekanan margin, karena tidak selalu mampu meneruskan kenaikan biaya bahan baku ke harga jual tanpa kehilangan pelanggan.

Di Sisi Lain: Momentum Positif bagi Petani

Di sisi lain, penguatan harga cabai memberikan keuntungan bagi petani yang berhasil panen. Nilai tukar petani (NTP), yakni rasio harga yang diterima petani terhadap harga yang dibayarkan untuk kebutuhan produksi dan konsumsi, berpotensi membaik di sentra produksi. Bagi petani cabai, harga di atas Rp 40.000 per kilogram di tingkat pengepul umumnya sudah melampaui titik impas biaya produksi.

Kenaikan harga juga menjadi sinyal pasar yang mendorong perluasan tanam pada musim berikutnya. Dari perspektif portofolio komoditas, penguatan harga pangan turut menopang kinerja emiten sektor agrikultur dan barang konsumsi di pasar modal, meski dampaknya terhadap indeks harga saham gabungan cenderung terbatas karena bobot sektor ini relatif kecil.

Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan

Ke depan, proyeksi harga cabai rawit sangat bergantung pada masa panen raya yang diperkirakan berlangsung pada Maret hingga April 2026. Jika pasokan kembali normal, harga berpeluang terkoreksi ke kisaran Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per kilogram. Namun, risiko anomali cuaca tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi dan dapat mengubah skenario tersebut.

Pemerintah memiliki sejumlah instrumen, mulai dari operasi pasar, fasilitasi distribusi antarpulau, hingga pengelolaan cadangan pangan strategis. Bank Indonesia, melalui bauran kebijakan moneter dan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), diharapkan menjaga likuiditas serta ekspektasi inflasi tetap terjangkar. Keseimbangan antara perlindungan konsumen dan insentif bagi petani menjadi kunci agar stabilitas harga pangan tercapai tanpa mengorbankan salah satu pihak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User