Aug 25, 2026
Bisnis

BRI Peduli Dongkrak Kapasitas Kelompok Wanita Tani Pala Bogor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Maret 2026, kontribusi usaha mikro yang dikelola perempuan terhadap produk domestik bruto sektor pertanian mencapai 37,8 persen, naik 2,1 poin persentase sec...

BRI Peduli Dongkrak Kapasitas Kelompok Wanita Tani Pala Bogor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Maret 2026, kontribusi usaha mikro yang dikelola perempuan terhadap produk domestik bruto sektor pertanian mencapai 37,8 persen, naik 2,1 poin persentase secara year-on-year. Namun, angka partisipasi angkatan kerja perempuan di perdesaan masih terpaut 14 poin di bawah laki-laki. Kesenjangan ini sering kali bermuara pada akses terbatas terhadap pembiayaan, teknologi pascapanen, dan jaringan pasar. Program AURA BRI Peduli hadir untuk menjembatani celah tersebut, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Tani Mysari Pala di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, menjadi salah satu potret keberhasilannya.

Dari Butiran Pala ke Produk Bernilai Tinggi

Selama bertahun-tahun, pala hanya dijual dalam bentuk biji kering dengan harga yang sepenuhnya ditentukan tengkulak. Kini, berkat pendampingan intensif selama 14 bulan, KWT Bina Tani mengolah pala menjadi minyak atsiri, sirup, selai, dan teh celup. Harga jual produk turunan ini tercatat 3 hingga 5 kali lipat lebih tinggi dibanding biji pala mentah. Per kilogram pala kering yang semula dihargai Rp65.000, setelah diolah menjadi 50 ml minyak atsiri bisa menembus Rp120.000-Rp150.000 per botol. Sementara itu, limbah daging buah yang dulu terbuang kini diubah menjadi sirup dan selai dengan margin keuntungan bersih di kisaran 40-55 persen. Proses ini tidak hanya meningkatkan pendapatan rumah tangga anggota—yang berjumlah 32 orang—tetapi juga membuka empat lapangan kerja baru bagi warga sekitar untuk bagian pengemasan dan distribusi.

Dukungan AURA: Lebih dari Sekadar Modal Usaha

Di satu sisi, program AURA BRI Peduli memberikan bantuan permodalan hibah sebesar Rp150 juta yang dialokasikan untuk mesin destilasi minyak atsiri kapasitas 20 kilogram per siklus, alat pengering, serta kemasan standar ekspor. Namun, di sisi lain, nilai tambah sejati terletak pada pelatihan literasi keuangan, branding produk, dan akses ke pasar digital. Kelompok ini kini memiliki akun di dua marketplace nasional dan satu platform ekspor, menghasilkan omzet rata-rata Rp28,5 juta per bulan dalam tiga bulan terakhir, naik 340 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, pro dan kontra tetap muncul. Pendukung model ini menilai hibah langsung mendorong adopsi teknologi tepat guna, tetapi kritikus mengingatkan agar ketergantungan pada donasi tidak menciptakan entitas bisnis yang rapuh ketika program berakhir. Menjawab hal itu, pendamping AURA telah membentuk koperasi simpan-pinjam internal yang kini memiliki aset Rp45 juta—sebagai fondasi kemandirian pascaprogram.

Proyeksi dan Jalan Terjal ke Depan

Prospek bisnis pala olahan di pasar domestik dan ekspor cukup positif. Data Kementerian Perindustrian mencatat permintaan minyak atsiri nasional tumbuh rata-rata 8,2 persen per tahun, dengan tujuan utama India, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab. KWT Bina Tani telah menjajaki kerja sama dengan dua calon pembeli dari Timur Tengah untuk pengiriman sampel per Agustus 2026. Namun, ada sisi lain yang patut dicermati. Fluktuasi mutu pala akibat perubahan iklim mikro, kenaikan harga bahan bakar untuk destilasi, serta persaingan dari produsen di Maluku dan Sumatera Utara merupakan tantangan yang tak bisa diabaikan. Ekonom pertanian dari IPB University, Dr. Sari Murni, dalam sebuah wawancara menyatakan,

“Model seperti ini sangat potensial direplikasi asalkan ada kepastian pasokan bahan baku, standarisasi mutu, dan kemitraan offtaker jangka panjang. Tanpa itu, kelompok akan mudah terjebak dalam siklus produksi musiman dan kehilangan pasar.”
Sementara itu, BRI menargetkan replikasi program serupa di 12 sentra rempah lain pada 2027, dengan fokus pada komoditas yang didominasi tenaga kerja perempuan. Jika dijalankan dengan tata kelola yang matang, sinergi antara perbankan, pemerintah daerah, dan akademisi ini berpotensi mengerek rasio kewirausahaan perempuan perdesaan yang saat ini masih tertahan di angka 21,4 persen. Pendapatan rata-rata anggota KWT pun diproyeksikan menembus Rp4,2 juta per bulan per orang pada akhir 2026, hampir dua kali lipat upah minimum Kabupaten Bogor. Namun, angka itu hanya akan terwujud jika tantangan struktural—mulai dari infrastruktur jalan ke sentra produksi hingga sertifikasi halal dan izin edar—mendapat perhatian yang sama besarnya dengan penguatan kapasitas produksi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User