Kabar duka menyelimuti dunia usaha nasional. Rachmat Gobel, figur sentral di balik kejayaan Gobel Group sekaligus mantan Menteri Perdagangan, tutup usia pada Jumat dini hari. Kepergiannya menandai akhir sebuah era bagi industri elektronik tanah air yang selama lebih dari empat dekade ia besarkan bersama sang ayah, Thayeb Mohammad Gobel. Publik mengenangnya bukan hanya sebagai pengusaha sukses, tetapi juga sebagai negarawan yang gigih memperjuangkan kedaulatan teknologi dalam negeri.
Rachmat Gobel wafat dalam usia 68 tahun. Hingga berita ini diturunkan, keluarga belum mengungkapkan secara rinci penyebab meninggalnya. Namun, sejumlah kolega dekat menyebutkan bahwa mendiang sempat menjalani perawatan intensif dalam beberapa waktu terakhir akibat komplikasi penyakit. Jenazah disemayamkan di rumah duka kawasan Cipete, Jakarta Selatan, dan akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata setelah salat Jumat. Presiden beserta sejumlah menteri dikabarkan akan melayat.
Perjalanan Hidup Sang Pewaris
Nama Gobel telah melekat dalam ingatan kolektif bangsa melalui produk-produk elektronik legendaris seperti radio dan televisi merek National yang kemudian bertransformasi menjadi Panasonic. Rachmat bukan sekadar pewaris tahta bisnis. Ia adalah arsitek modernisasi Grup Gobel yang berhasil membawa perusahaan keluarganya bermitra strategis dengan raksasa elektronik Jepang, Matsushita Electric Industrial Co., Ltd. Kolaborasi itu melahirkan PT Panasonic Gobel Indonesia, pabrikan yang kelak menjadi salah satu basis produksi peralatan elektronik terbesar di Asia Tenggara.
Lahir di Jakarta pada 1959, Rachmat menghabiskan masa kecilnya menyaksikan langsung bagaimana sang ayah merintis bengkel radio sederhana di kawasan Kwitang menjadi pabrik transistor pertama di Indonesia. Pendidikan formalnya ia tempuh di Jepang, lulus dari Universitas Chuo dengan spesialisasi teknik industri. Bekal akademik itu membentuk pola pikir teknokratis yang kelak mengilhami langkah-langkah strategisnya. Sepulang dari Jepang, ia tidak langsung menduduki posisi puncak, melainkan merangkak dari divisi produksi hingga akhirnya memimpin perusahaan pada tahun 1990-an, tepat saat Indonesia memasuki fase industrialisasi yang agresif.
Kontribusi untuk Negeri
Di bawah kendali Rachmat, Grup Gobel tak sekadar mengejar keuntungan korporasi. Ia menjadikan perusahaan sebagai motor penggerak kemandirian teknologi. Bersama Panasonic, ia mendorong agar pabrik-pabrik di Cikarang tidak hanya melakukan perakitan, tetapi juga memproduksi komponen-komponen inti seperti printed circuit board (PCB) dan motor listrik. Langkah itu menciptakan ribuan lapangan kerja terampil dan menekan ketergantungan pada impor. Pada puncak kejayaannya, kompleks manufaktur Gobel mampu memasok hampir separuh kebutuhan televisi nasional dan mengekspor produk elektronik ke puluhan negara.
Dedikasinya terhadap industri nasional mengantarkan Rachmat ke tampuk kepemimpinan di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Ia lantang menyuarakan perlindungan bagi pelaku usaha lokal dari gempuran produk impor murah, sekaligus mendesak pemerintah menciptakan iklim investasi yang ramah bagi pengembangan teknologi tinggi. Istilah "hilirisasi industri" yang kini menjadi jargon populer sudah ia gaungkan jauh sebelum menjadi isu arus utama. Prinsipnya sederhana: Indonesia jangan hanya menjadi pasar, tetapi harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Dunia Politik dan Kepemimpinan
Kiprah Rachmat merambah ke ranah politik praktis. Pada Kabinet Kerja 2014-2015, ia didapuk Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Perdagangan. Meski masa jabatannya tidak genap dua tahun, warisan regulasi yang ia tinggalkan cukup signifikan. Ia aktif membenahi tata niaga pangan dan memperketat pengawasan produk elektronik bersertifikasi. Setelahnya, Rachmat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai NasDem, meneruskan perjuangannya melalui jalur legislasi.
Bagi rekan separtai dan lawan politik sekalipun, Rachmat dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, jauh dari citra pengusaha yang elitis. Ia kerap turun langsung ke pabrik, berdiskusi dengan operator mesin, dan mendengarkan masukan teknisi. Gaya kepemimpinannya yang “blusukan” sebelum istilah itu populer membuatnya dihormati di semua lini. Seorang kolega di Kadin mengenang, “Pak Rachmat selalu bilang, jangan pernah malu belajar dari teknisi di lapangan. Merekalah profesor sesungguhnya.”
Warisan yang Abadi
Kepergian Rachmat Gobel meninggalkan tanya besar tentang arah Grup Gobel ke depan. Saat ini, korporasi tersebut tengah bertransformasi dari manufaktur konvensional menuju solusi energi terbarukan dan perangkat cerdas. Pasar mencatat saham-saham entitas terafiliasi sempat bergerak volatil pasca kabar duka, namun analis menilai fundamental bisnis tetap kokoh berkat diversifikasi portofolio yang telah dirintis mendiang.
Lebih dari sekadar lembar neraca, yang tak ternilai adalah semangat yang ia tanamkan: bahwa bangsa ini mampu memproduksi teknologi kelas dunia. Ribuan insinyur dan teknisi Indonesia pernah menimba ilmu di pabrik-pabrik Gobel, dan kini banyak di antaranya telah menyebar, membangun start-up atau perusahaan rekayasa sendiri. Bisa jadi, itulah pencapaian terbesar Rachmat—bukan pabrik megah atau laba korporasi, melainkan ekosistem pengetahuan yang terus hidup.
Malam itu, langit Jakarta gerimis. Di kediaman duka, karangan bunga terus berdatangan dari mitra bisnis Jepang, kolega kabinet, hingga pekerja pabrik yang pernah ia sapai. Sebuah kutipan dari wawancara lama Rachmat kembali beredar di kalangan jurnalis: “Elektronik mungkin barang mati, tetapi semangat membangun bangsa adalah arus yang tak boleh padam.” Semangat itu kini menjadi obor yang akan terus menyala, meski sang pembawa obor telah berpulang.
Comments (0)