Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2025, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen dari total tenaga kerja. Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih berada di kisaran 15,7 persen, jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Thailand yang mampu menembus angka di atas 25 persen. Kesenjangan inilah yang menjadi latar belakang langkah sejumlah institusi keuangan dalam mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah menembus rantai pasok global.
Salah satu upaya terbaru datang dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang memfasilitasi sejumlah UMKM binaannya untuk tampil di pameran Global Malaysian Business and Products Fair (GMBPF) 2026 di Macao. Ajang ini menjadi pintu masuk bagi produk lokal untuk bersaing di pasar internasional, khususnya kawasan Asia Timur yang memiliki daya beli tinggi. Kolaborasi dengan perwakilan diplomatik Indonesia di Hong Kong turut memperkuat akses pasar serta jaringan distribusi bagi para pelaku usaha yang selama ini hanya mengandalkan pasar domestik.
Fundamental UMKM dan Urgensi Diversifikasi Pasar
Di satu sisi, langkah ekspansi ke pasar global merupakan keniscayaan. Ketergantungan pada konsumsi domestik membuat UMKM rentan terhadap fluktuasi daya beli masyarakat. Ketika indeks keyakinan konsumen melemah atau inflasi pangan menggerus margin, permintaan produk UMKM bisa turun tajam dalam hitungan bulan. Diversifikasi pasar, dengan demikian, bukan sekadar ambisi, melainkan strategi mitigasi risiko yang fundamental.
Di sisi lain, ekspansi ke luar negeri menghadapi tantangan struktural yang tidak ringan. Standarisasi mutu, sertifikasi internasional, serta kemampuan produksi dalam skala konsisten sering menjadi penghambat utama. Sebagian UMKM yang lolos ke pameran internasional masih bergantung pada bantuan pembiayaan dan pendampingan teknis. Tanpa perbaikan kapasitas produksi, peluang ekspor bisa berhenti pada tahap transaksi awal tanpa keberlanjutan.
"UMKM yang berhasil menembus pasar ekspor umumnya memiliki tiga karakteristik utama: standar mutu yang terukur, kemampuan produksi yang konsisten, dan akses pembiayaan yang memadai. Ketiganya harus berjalan simultan," ujar seorang pengamat ekonomi yang menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam pengembangan UMKM.
Pro: pameran internasional memberikan eksposur langsung kepada pembeli global, membuka peluang kemitraan jangka panjang, dan mendorong transfer pengetahuan soal standar mutu. Kontra: biaya partisipasi, logistik, dan penyesuaian produk memerlukan modal besar, sementara hasilnya tidak selalu instan. Risiko capital outflow pun tidak relevan di sini, tetapi beban biaya operasional ekspor bisa menggerus margin jika tidak dikelola dengan cermat.
Peran Pembiayaan dan Likuiditas bagi Pelaku Usaha
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit UMKM pada 2025 berada di kisaran 7,2 persen secara year-on-year, masih di bawah target pertumbuhan kredit nasional yang dipatok di atas 10 persen. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan berada di level 19 persen, memperlihatkan ruang ekspansi yang masih luas. Likuiditas perbankan yang longgar menjadi modal penting untuk mendorong pembiayaan ke sektor produktif, termasuk UMKM berorientasi ekspor.
Namun, tantangan valuasi dan kelayakan usaha tetap menjadi pertimbangan. Perbankan perlu memastikan portofolio kredit UMKM tetap sehat, terutama ketika sentimen pasar global melemah. Proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 yang diperkirakan berada di kisaran 2,8 persen menjadi sinyal bahwa permintaan ekspor bisa terbatas. Karena itu, pendampingan berkelanjutan pasca-pameran menjadi kunci agar UMKM tidak sekadar hadir, tetapi juga bertransaksi dan memperluas jaringan.
Tren digitalisasi turut mengubah lanskap perdagangan lintas negara. Platform e-commerce lintas batas memungkinkan UMKM menjangkau pembeli tanpa harus hadir fisik di pameran. Kombinasi antara kehadiran fisik di ajang internasional dan pemanfaatan kanal digital dapat menjadi strategi ganda untuk memperkuat posisi UMKM di pasar global. Indeks daya saing digital UMKM Indonesia yang masih berada di bawah rata-rata ASEAN menjadi pekerjaan rumah yang perlu dituntaskan.
Secara fundamental, keberhasilan program semacam ini tidak diukur dari jumlah peserta, melainkan dari nilai transaksi berulang dan kontrak jangka panjang yang tercipta. Pemerintah, perbankan, dan perwakilan diplomatik perlu menyusun indikator keberhasilan yang terukur, termasuk tingkat konversi dari pameran menjadi ekspor riil. Tanpa itu, upaya mendorong UMKM ke pasar global hanya berhenti sebagai seremoni tahunan tanpa dampak struktural bagi perekonomian nasional.
Comments (0)