Sep 14, 2026
Nasional

BKSDA Kalbar dan YIARI Evakuasi Tiga Orangutan Terdampak Karhutla

Operasi penyelamatan darurat kembali digelar di tengah pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Balai Konservas

BKSDA Kalbar dan YIARI Evakuasi Tiga Orangutan Terdampak Karhutla

Operasi penyelamatan darurat kembali digelar di tengah pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) berhasil mengevakuasi tiga individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang terjebak di kantong-kantong habitat sempit yang terfragmentasi oleh kobaran api.

Ketiga satwa dilindungi tersebut—terdiri dari satu pasang induk dan anak serta satu individu jantan remaja—ditemukan dalam kondisi memprihatinkan akibat kelaparan ekstrem dan paparan asap tebal berkepanjangan. Langkah evakuasi taktis terpaksa diambil mengingat vegetasi pakan di lokasi tersebut telah hangus terbakar, memicu ancaman kelaparan dan risiko konflik satwa dengan permukiman warga terdekat.

Kronologi Operasi Penyelamatan di Lapangan

Tim gabungan Rescue BKSDA Kalbar dan YIARI bergerak cepat setelah menerima laporan dari masyarakat sekitar mengenai keberadaan primata endemis tersebut yang mulai merangsek ke kebun warga demi mencari sisa-sisa makanan. Berikut adalah rangkaian operasi penyelamatan yang berlangsung dramatis:

  1. Deteksi dan Verifikasi Lapangan: Tim patroli gabungan menelusuri batas hutan gambut yang terbakar untuk memetakan koordinat presisi sarang dan pergerakan satwa yang terkepung titik api (hotspot).
  2. Sedasi Terukur: Dokter hewan YIARI melakukan anestesi jarak jauh menggunakan senapan bius terhadap sang induk dan individu remaja demi meminimalkan tingkat stres satwa saat evakuasi.
  3. Evakuasi Cepat: Bayi orangutan yang bergantung pada tubuh induknya diamankan secara manual begitu sang induk terbius aman di atas jaring penangkap darurat.
  4. Pemeriksaan Medis Awal: Tim medis langsung melakukan penanganan dehidrasi, pemberian cairan infus, serta pembersihan saluran pernapasan di lokasi darurat.
"Kondisi lanskap yang hangus terbakar menyisakan ruang gerak yang sangat minim bagi satwa liar. Jika tidak segera dievakuasi, ketiga individu ini berisiko tinggi mati akibat dehidrasi berat, pneumonia infeksi asap, atau terancam perburuan saat masuk ke area perkebunan," tegas perwakilan tim medis satwa YIARI.

Dampak Karhutla terhadap Ekosistem Rawa Gambut

Tragedi ini menyingkap fakta lapangan mengenai ancaman laten karhutla yang terus menggerus koridor jelajah satwa liar. Berdasarkan investigasi tim konservasi, kerusakan habitat gambut di kawasan ini menyebabkan kerentanan kritis:

  • Defisit Sumber Pakan Alami: Lebih dari 70 persen pohon buah dan vegetasi pakan di koridor tersebut hangus dilalap api musiman.
  • Tingginya Ancaman ISPA Satwa: Paparan partikel debu halus dan karbon monoksida dari gambut terbakar memicu infeksi saluran pernapasan akut pada primata.
  • Fragmentasi Habitat: Hutan yang terbelah-belah memaksa kelompok orangutan terisolasi di pulau-pulau kecil habitat yang tidak lagi layak huni.

Penanganan Medis Lanjutan di Pusat Rehabilitasi

Pascaevakuasi, ketiga orangutan tersebut segera dilarikan menuju Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Ketapang. Di fasilitas karantina, ketiganya menjalani serangkaian tes kesehatan komprehensif, mencakup rontgen paru-paru, uji darah, serta evaluasi perilaku.

BKSDA Kalimantan Barat menegaskan komitmennya untuk memperketat patroli di kawasan penyangga serta menindak tegas segala bentuk kelalaian maupun kesengajaan pembukaan lahan dengan cara membakar yang secara langsung mengorbankan kelestarian satwa langka Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User