BI Pertahankan Suku Bunga 5,75% pada RDG Perdana Destry

Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar pada pertengahan Agustus 2026, otoritas moneter memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75%....

Aug 21, 2026 - 11:49
0 0
BI Pertahankan Suku Bunga 5,75% pada RDG Perdana Destry

Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar pada pertengahan Agustus 2026, otoritas moneter memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,75%. Keputusan ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya rapat dipimpin langsung oleh Gubernur Bank Indonesia yang baru, Destry Damayanti, penerus Perry Warjiyo. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran.

Bersamaan dengan itu, Bank Indonesia juga menahan suku bunga deposit facility pada 5,00% dan suku bunga lending facility pada 6,50%. Bagi pembaca awam, deposit facility adalah bunga yang diterima perbankan ketika menyimpan kelebihan likuiditas di bank sentral, sedangkan lending facility adalah bunga yang dibayarkan bank ketika meminjam dana darurat. Ketiga instrumen ini bergerak seirama karena menjadi tuas utama pengendali likuiditas di pasar uang.

Keputusan di Tengah Ketidakpastian Global

Keputusan menahan suku bunga diambil di tengah dinamika ekonomi global yang masih bergejolak. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang kembali memanas mendorong penguatan indeks dolar, yang pada gilirannya menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kondisi ini membuat Bank Indonesia memilih sikap hati-hati alih-alih langsung melonggarkan kebijakan, mengingat risiko capital outflow atau hengkangnya modal asing masih membayangi pasar keuangan domestik.

Dari sisi domestik, inflasi tercatat masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia, yaitu 2,5 persen plus minus satu persen secara year-on-year. Meski demikian, tekanan dari harga pangan yang bergejolak atau volatile food tetap perlu diwaspadai, karena kenaikan harga bahan pokok dapat mendorong ekspektasi inflasi masyarakat. Kepemimpinan baru dinilai membawa kesinambungan, bukan perubahan arah kebijakan: sebagai sosok yang lama berkarier di bank sentral, Destry dipandang memahami betul keseimbangan antara stabilitas harga dan dukungan terhadap pertumbuhan.

Dua Sisi: Stabilitas Rupiah Versus Pertumbuhan

Di satu sisi, menahan suku bunga pada level 5,75% menjaga daya tarik aset keuangan dalam negeri. Dengan selisih bunga yang tetap lebar terhadap suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tetap kompetitif, sehingga aliran portofolio asing diharapkan bertahan dan risiko pelarian modal dapat diredam. Dalam bahasa ekonomi, suku bunga yang tinggi membuat obligasi domestik lebih menggiurkan dibandingkan negara lain, dan hal itu menopang nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka panjang memiliki ongkos tersendiri. Biaya pinjaman yang masih mahal dapat menahan laju kredit perbankan, memperlambat ekspansi dunia usaha, dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Sejumlah ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya cukup kuat — cadangan devisa yang memadai, rasio utang luar negeri yang terkendali, serta inflasi yang rendah — sehingga ruang untuk mulai menurunkan suku bunga sebenarnya sudah terbuka. Perdebatan ini mencerminkan dilema klasik kebijakan moneter: memprioritaskan stabilitas nilai tukar atau mengakselerasi pertumbuhan.

Reaksi Pasar dan Proyeksi Arah Kebijakan

Sentimen pasar terhadap pengumuman ini cenderung tenang. Indeks harga saham dan pasar obligasi diperkirakan tidak bergerak liar karena keputusan menahan suku bunga sudah banyak diantisipasi pelaku pasar. Dalam istilah ekonomi, kebijakan yang sesuai ekspektasi atau in line with expectation biasanya tidak memicu gejolak besar, karena harga aset telah lebih dulu mencerminkan skenario tersebut. Sebaliknya, kejutan kebijakan justru berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan.

Ke depan, arah suku bunga akan sangat bergantung pada dua variabel utama: pergerakan nilai tukar rupiah dan lintasan inflasi. Jika tekanan eksternal mereda dan inflasi inti — yaitu inflasi yang tidak menghitung harga pangan dan energi yang bergejolak — mengalami penurunan secara bertahap, Bank Indonesia memiliki peluang untuk melonggarkan kebijakan pada paruh kedua tahun ini. Sebagian analis memperkirakan penurunan bertahap sebesar 25 basis poin, atau setara 0,25 persen, dapat terjadi apabila data ekonomi mendukung.

Catatan: Keberlanjutan di Tangan Data

Terlepas dari perdebatan dua sisi tersebut, sikap Bank Indonesia yang memilih menahan suku bunga menunjukkan pendekatan yang mengedepankan kehati-hatian. Dalam proyeksi jangka menengah, stabilitas makroekonomi tetap menjadi fondasi utama sebelum otoritas moneter berani mengubah arah kebijakan. Publik dan pelaku pasar kini menunggu data inflasi berikutnya serta perkembangan nilai tukar sebagai sinyal apakah tren penurunan suku bunga akan terealisasi atau kembali ditunda.

Yang jelas, keputusan ini mengirim pesan bahwa bank sentral tidak akan terburu-buru. Dengan mempertahankan BI-Rate di 5,75%, Bank Indonesia memberi ruang bagi perekonomian untuk bernapas sambil tetap menjaga perisai stabilitas, dan valuasi aset keuangan domestik tetap terjaga. Kini, bola berada di tangan data: semakin cepat inflasi dan nilai tukar menunjukkan stabilitas, semakin besar pula peluang pelonggaran kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User