BSI Rilis Hasanah KKI Card, Kartu Pembiayaan Syariah Pertama di Indonesia

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per Desember 2024, pangsa aset perbankan syariah nasional tercatat sekitar 7,4 persen dari total aset industri perbankan, dengan nilai aset yang terus tumbuh do...

Aug 21, 2026 - 12:33
0 0
BSI Rilis Hasanah KKI Card, Kartu Pembiayaan Syariah Pertama di Indonesia

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per Desember 2024, pangsa aset perbankan syariah nasional tercatat sekitar 7,4 persen dari total aset industri perbankan, dengan nilai aset yang terus tumbuh double digit secara year-on-year. Di tengah tren itu, PT Bank Syariah Indonesia (BSI) mengambil langkah baru dengan meluncurkan BSI Hasanah KKI Card, yang diklaim sebagai kartu pembiayaan syariah pertama di Indonesia untuk transaksi digital. Produk ini diharapkan memperluas kanal transaksi non-tunai nasabah sekaligus memperkuat portofolio fee-based income perseroan.

Kartu pembiayaan syariah pada dasarnya adalah padanan kartu kredit konvensional, namun beroperasi tanpa bunga. Sebagai gantinya, bank menerapkan akad sesuai prinsip syariah, misalnya ujrah atau ijarah, sehingga tidak ada unsur riba. Bagi pembaca awam, perbedaan utamanya sederhana: pemegang kartu tetap bisa bertransaksi kini dan membayar kemudian, tetapi bank tidak mengenakan bunga berbunga, melainkan imbalan yang disepakati di awal.

Posisi BSI di Peta Industri Syariah

Langkah ini datang dari pemain terbesar di segmennya. Per akhir 2024, BSI mengelola aset sekitar Rp 357 triliun dengan laba bersih lebih dari Rp 7 triliun, atau tumbuh sekitar 23 persen year-on-year. Jumlah nasabahnya telah menembus sekitar 20 juta orang, menjadikannya bank syariah dengan basis pelanggan terluas di kawasan. Sebagai pembanding, total kartu kredit konvensional yang beredar di Indonesia baru sekitar 17–18 juta unit per 2024, sementara nilai transaksinya mendekati Rp 600 triliun dalam setahun.

Artinya, pasar kartu pembayaran di dalam negeri masih jauh dari jenuh. BSI juga membawa infrastruktur digital yang sudah terbangun: aplikasi BSI Mobile telah digunakan sekitar 7 juta nasabah dan nilai transaksi digitalnya diklaim tumbuh di kisaran 30–40 persen year-on-year. Dengan basis itu, peluncuran kartu baru bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari strategi memperbesar porsi pendapatan non-bunga.

Dua Sisi Peluncuran: Pro dan Kontra

Di satu sisi, produk ini memperkaya pilihan masyarakat yang selama ini hanya mengenal kartu kredit konvensional. Inklusi keuangan syariah mendapatkan kendaraan baru, dan persaingan antar bank syariah bisa semakin sehat. Pengamat melihat momentum yang tepat, mengingat tren transaksi digital masyarakat terus mengalami kenaikan setiap tahun.

“Kehadiran kartu pembiayaan syariah bisa menjadi katalis pertumbuhan fee-based income BSI, tetapi kuncinya ada pada edukasi nasabah. Tanpa pemahaman akad yang baik, risiko salah persepsi justru bisa menimbulkan sentimen negatif di masyarakat,” ujar seorang analis perbankan yang memantau industri syariah.

Di sisi lain, tantangannya tidak kecil. Pertama, penetrasi kartu kredit di Indonesia masih rendah dibandingkan negara tetangga, sehingga potensi pasarnya belum tentu sebesar yang dibayangkan. Kedua, ekosistem merchant yang menerima pembayaran kartu syariah harus ikut berkembang. Ketiga, persaingan dengan layanan buy now pay later yang lebih fleksibel bisa menggerus minat calon pemegang kartu. Terakhir, risiko pembiayaan bermasalah atau non-performing financing tetap menjadi variabel yang harus dijaga ketat ketika bank agresif menambah portofolio baru.

Likuiditas, Sentimen Pasar, dan Valuasi

Dari sisi makro, peluncuran produk konsumer ini berjalan beriringan dengan pelonggaran moneter. Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan secara bertahap sejak September 2025, yang secara teori meringankan biaya dana bank dan mendukung pertumbuhan pembiayaan. Inflasi yang terjaga di kisaran 2–3 persen turut menjaga daya beli masyarakat, sementara indeks saham syariah mengalami kenaikan sepanjang tahun berjalan seiring membaiknya sentimen pasar. Meski demikian, risiko capital outflow akibat ketidakpastian global tetap menjadi pengganggu yang harus dipantau.

Namun, analis mengingatkan agar ekspektasi tidak berlebihan. Kontribusi kartu terhadap pendapatan BSI pada tahun pertama kemungkinan masih kecil dibandingkan segmen pembiayaan utama seperti kredit pemilikan rumah syariah dan modal kerja. Valuasi BSI saat ini dinilai sudah mencerminkan sebagian besar prospek pertumbuhan, sehingga apresiasi harga saham ke depan akan sangat bergantung pada realisasi angka, bukan sekadar narasi produk baru.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Ke depan, keberhasilan produk ini akan diukur dari tiga indikator: jumlah kartu yang diterbitkan, volume transaksi bulanan, dan rasio pembiayaan bermasalah. Jika eksekusi berjalan mulus, BSI berpotensi menggeser peta persaingan di segmen pembayaran ritel. Sebaliknya, jika edukasi pasar lambat, produk ini bisa menjadi ceruk sempit yang hanya melayani nasabah existing.

Terlepas dari hasil akhirnya, langkah BSI menandai pendewasaan fundamental industri keuangan syariah Indonesia: dari sekadar mengejar pertumbuhan aset, kini mulai merambah inovasi produk ritel yang bersaing langsung dengan bank konvensional. Bagi konsumen, kehadiran lebih banyak pilihan selalu menjadi kabar baik, selama fitur, biaya, dan akadnya dipahami sebelum tanda tangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User