Yogyakarta – Ribuan peserta memadati Jogja Expo Center dalam gelaran Jogja Financial Festival 2024. Salah satu sesi yang paling dinanti adalah kehadiran Chairul Tanjung, pendiri CT Corp, yang hadir sebagai pembicara utama. Dalam pidatonya selama kurang lebih satu jam, CT tidak membahas strategi investasi rumit, melainkan menekankan dua fondasi menjadi pengusaha: kemampuan menciptakan peluang dan ketabahan belajar dari kegagalan.
Di hadapan audiens yang mayoritas generasi milenial dan Gen Z, CT menyampaikan bahwa situasi sulit adalah ladang paling subur untuk melahirkan inovasi. “Sering kali, orang menunggu keadaan sempurna untuk memulai usaha. Padahal, kesempurnaan itu tidak pernah ada. Justru di tengah keterbatasan, kita dipaksa berpikir lebih kreatif,” ujarnya, mengacu pada pengalamannya merintis bisnis dari bawah.
Menciptakan Peluang, Bukan Mencarinya
CT menekankan perbedaan mendasar antara pencari peluang dan pencipta peluang. Menurutnya, pengusaha sejati tidak pasif menanti celah pasar, melainkan aktif merancang serta mewujudkan kebutuhan yang bahkan belum disadari konsumen. Ia mencontohkan bagaimana pada era 1990-an, ketika minimarket modern masih jarang, CT mendirikan jaringan ritel yang kemudian menjadi cikal bakal Transmart. Ia tidak menunggu tren, melainkan menciptakan tren tersebut dengan memadukan konsep belanja dan hiburan di bawah satu atap.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rasio kewirausahaan Indonesia baru mencapai 3,47% pada 2023, jauh tertinggal dari Singapura yang 8,76% atau Malaysia 4,74%. CT memaparkan, rendahnya angka ini salah satunya disebabkan oleh budaya menunggu lowongan pekerjaan yang sudah mapan. Ia mengajak para hadirin untuk mengubah pola pikir dari pencari kerja menjadi pencipta kerja. “Setiap masalah yang kita jumpai sehari-hari sebenarnya adalah bahan baku ide bisnis. Mulai dari kemacetan, sampah, hingga kesulitan mengakses layanan keuangan—semua bisa diubah menjadi peluang,” urainya.
Menghadapi Kegagalan sebagai Proses, Bukan Akhir
Pesan kedua yang disorot CT adalah tentang kegagalan. Ia blak-blakan menceritakan sejumlah proyek bisnisnya yang sempat anjlok, termasuk usaha di bidang tekstil yang merugi puluhan miliar rupiah. Namun, bukannya menyerah, ia mengkaji ulang model bisnis dan mengalihkan fokus ke sektor yang lebih menjanjikan. “Kegagalan itu ibarat vaksin: menyakitkan, tetapi membuat kita lebih kuat dan kebal di masa depan,” katanya.
CT mengkritisi stigma negatif yang melekat pada kegagalan di Indonesia. Ia membandingkan dengan ekosistem startup di Silicon Valley, di mana founder yang pernah bangkrut justru lebih dihormati karena dianggap memiliki pengalaman berharga. Menurutnya, selama kegagalan tidak disebabkan oleh kecurangan, maka ia adalah modal pembelajaran yang tak tergantikan. Para investor, lanjut CT, lebih percaya pada pengusaha yang pernah jatuh dan bangkit daripada yang baru pertama kali melangkah.
Menanamkan Nilai Integritas dan Jaringan
Dalam kesempatan itu, CT juga menyelipkan nilai integritas sebagai fondasi bisnis jangka panjang. Ia menegaskan, kepercayaan adalah mata uang paling langka di dunia usaha. Tanpa integritas, jaringan seluas apa pun tidak akan menghasilkan kerja sama yang solid. Ia mencontohkan kemitraan strategis CT Corp dengan sejumlah perusahaan multinasional yang bertahan puluhan tahun karena dibangun di atas reputasi yang bersih.
“Di bisnis, Anda mungkin bisa menipu sekali atau dua kali, tetapi tidak akan bisa menipu selamanya. Nama baik adalah aset yang memberikan dividen seumur hidup,” tegasnya. Pesan ini disambut anggukan para peserta yang sebagian besar merupakan pebisnis pemula dan mahasiswa.
Harapan untuk Ekosistem Wirausaha Nasional
Menutup sesi, CT menyampaikan optimismenya terhadap masa depan kewirausahaan Indonesia. Dengan populasi muda yang melek teknologi dan akses informasi yang terbuka lebar, ia melihat potensi lahirnya lebih banyak unicorn dari dalam negeri. Namun, ia menggarisbawahi perlunya dukungan dari pemerintah, sektor keuangan, dan institusi pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi para pengambil risiko.
Festival yang berlangsung selama tiga hari ini diharapkan menjadi katalisator lahirnya pengusaha-pengusaha baru yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menciptakan dampak sosial. “Jangan takut salah, jangan takut gagal. Ciptakan peluangmu, karena masa depan Indonesia ada di tangan para pencipta, bukan penunggu,” pungkas CT, mengakhiri pidatonya dengan tepuk tangan bergemuruh.
Comments (0)