Berdasarkan data Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan hingga akhir 2024, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyumbang sekitar 60,3 persen dari Produk Domestik Bruto nasional, atau setara lebih dari Rp9.500 triliun, sekaligus menyerap hingga 97 persen angkatan kerja Indonesia. Di tengah lautan pelaku ekonomi raksasa itu, kisah-kisah kecil dari daerah kerap luput dari sorotan. Salah satunya datang dari Sumenep, Madura, Jawa Timur, tempat seorang pengusaha gula merah bernama Rosidah menorehkan jejak usaha selama dua dekade.
Fondasi Makro: KUR sebagai Jembatan Pembiayaan UMKM
Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan skema pembiayaan bersubsidi bunga yang dirancang pemerintah agar pelaku usaha kecil bisa mengakses modal dengan biaya murah. Alih-alih meminjam dari pemberi pinjaman tak resmi dengan bunga yang bisa menembus belasan persen per bulan, debitur KUR hanya dikenai suku bunga efektif 6 persen per tahun. Bank Rakyat Indonesia (BRI), melalui portofolio mikro dan ulayatnya, menjadi salah satu penyalur KUR terbesar di tanah air dengan realisasi penyaluran yang secara konsisten berada di kisaran puluhan triliun rupiah setiap tahunnya.
Bagi pembaca awam, cara kerja subsidi ini cukup sederhana: negara menanggung selisih antara bunga komersial dan bunga KUR, sehingga bank tetap memperoleh imbal hasil layak, sementara pengusaha kecil menikmati cicilan ringan. Skema inilah yang menjadi titik balik perjalanan usaha Rosidah.
Dua Dekade Mengasah Manisnya Madura
Gula merah, termasuk varian gula semut dan gula kelapa, adalah komoditas khas Madura yang diolah dari nira kelapa melalui perebusan secara tradisional. Rosidah memulai usahanya dari skala rumahan: dapur sederhana, cetakan terbatas, dan jaringan pemasaran yang hanya menjangkau pasar tradisional sekitar. Produksi pun bergantung pada cuaca serta ketersediaan nira, sehingga pendapatan berfluktuasi dari bulan ke bulan.
Tambahan likuiditas dari KUR BRI mengubah dinamika tersebut. Rosidah mampu menambah alat produksi, memperluas dapur olah, serta menyerap tenaga kerja warga sekitar. Volume produksi meningkat, rantai pasok nira bersama petani kelapa lokal ikut tergerak, dan kesejahteraan keluarga maupun komunitas di sekitarnya mengalami perbaikan nyata. Inilah contoh bagaimana satu unit kredit mikro berdampak berlapis: bukan hanya pada satu pemilik usaha, melainkan pada ekosistem ekonomi kampung secara keseluruhan.
“Modal yang tepat sasaran mampu mengubah usaha rumahan menjadi mesin ekonomi keluarga sekaligus pencipta lapangan kerja lingkungan,” ungkap Rosidah menggambarkan transformasi dua dekade usaha gulanya.
Di Satu Sisi: Dampak Positif yang Terukur
Di satu sisi, kisah Rosidah merefleksikan keberhasilan agenda inklusi keuangan nasional. Tingkat inklusi keuangan Indonesia telah menembus 75 persen populasi dewasa, melonjak signifikan dibandingkan tahun 2011 yang baru berada di kisaran 20 persen. Akses kredit formal membuka tiga hal penting bagi UMKM: kapasitas produksi yang lebih besar, pencatatan keuangan yang lebih tertib, serta jejak kredit yang memudahkan pengajuan pembiayaan lanjutan dengan plafon lebih besar.
Dari sisi fundamental bisnis, gula merah juga menyimpan cerita pertumbuhan yang menjanjikan. Tren gaya hidup sehat mendorong permintaan pemanis alami, baik di pasar domestik maupun mancanegara. Nilai ekspor gula kelapa Indonesia terus bergerak naik year-on-year, ditopang permintaan dari Asia Timur dan Eropa yang menghargai produk alami berlabel sertifikasi.
Di Sisi Lain: Risiko yang Tak Boleh Diabaikan
Di sisi lain, kesuksesan seperti milik Rosidah tidak otomatis terjadi pada semua debitur. Data OJK menunjukkan rasio kredit macet (NPL) pada segmen mikro umumnya lebih tinggi dibandingkan segmen korporasi, karena pelaku usaha informal rentan terhadap guncangan, mulai dari fluktuasi harga bahan baku hingga cuaca ekstrem yang mengganggu panen nira kelapa. Subsidi bunga pun menuai kritik: sebagian ekonom menilai skema ini berpotensi mendistorsi alokasi kredit dan menciptakan ketergantungan, ketika pengusaha memperbesar pinjaman tanpa disertai kesiapan manajemen yang matang.
Tantangan struktural industri gula merah juga nyata. Persaingan dengan gula kristal putih yang harga dan distribusinya lebih masif, standar higienitas produksi rumahan yang belum seragam, serta kemasan dan branding yang masih sederhana, membuat banyak produsen lokal tersangkut di pasar tingkat bawah. Tanpa pendampingan berkelanjutan pasca-penyaluran kredit, potensi gagal bayar dan stagnasi usaha senantiasa mengintai.
Proyeksi: Dari Dapur Menuju Pasar Ekspor
Melihat tren saat ini, masa depan produsen gula merah seperti Rosidah sangat bergantung pada tiga faktor: konsistensi kualitas, digitalisasi pemasaran, dan sertifikasi produk. Kehadiran di marketplace daring dapat melipatgandakan jangkauan pasar tanpa biaya sewa toko fisik, sementara sertifikasi organik dan izin edar resmi membuka gerbang ekspor dengan valuasi harga yang jauh lebih baik dibandingkan penjualan curah di pasar tradisional.
Bagi regulator dan bank penyalur, pelajaran dari Sumenep cukup jelas: penyaluran kredit idealnya berjalan seiring dengan pendampingan teknis dan peningkatan literasi keuangan. Angka-angka makro memang megah, namun pada akhirnya kualitas pertumbuhan UMKM diukur dari berapa banyak kisah seperti Rosidah yang mampu bertahan dan berkembang melewati batas dua dekade, sekaligus mengangkat ekonomi kampung bersamanya.
Comments (0)