Berdasarkan data terbaru dari cadangan devisa People's Bank of China (PBOC) dan laporan World Gold Council per kuartal I 2025, bank sentral China mencatatkan pembelian emas bulanan ke-18 secara berturut-turut, dengan tambahan sekitar 9 ton pada Maret 2025. Total cadangan emas resmi China kini menyentuh level 2.290 ton, naik sekitar 16,5 persen year-on-year dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini melengkapi tren akumulasi emas yang dimulai sejak November 2022, ketika Beijing mengubah strategi diversifikasi asetnya secara signifikan. Sementara itu, data bea cukai menunjukkan impor emas China pada Januari-Februari 2025 mencapai 245 ton, melonjak 32 persen year-on-year dibanding periode yang sama tahun 2024.
Lonjakan permintaan ini bukan tanpa alasan. Ketidakpastian ekonomi global yang masih dibayangi tensi geopolitik, perang tarif, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral utama dunia menjadi katalis utama. Emas, sebagai aset safe haven, kembali menjadi instrumen pilihan untuk menjaga nilai portofolio cadangan devisa. Pertanyaannya kini, apakah akumulasi ini akan mendorong harga emas dunia menembus level yang banyak diproyeksikan, yaitu US$ 5.500 per troy ons?
Fundamental Permintaan: Diversifikasi Cadangan dan De-Dolarisasi
Di satu sisi, pembelian agresif PBOC mencerminkan strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada aset dolar Amerika Serikat. Rasio emas terhadap total cadangan devisa China masih berada di kisaran 4,9 persen, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata negara maju yang mencapai 15-20 persen. Artinya, masih ada ruang besar bagi PBOC untuk terus menambah emas tanpa mengganggu likuiditas cadangan devisa yang saat ini berada di level US$ 3,24 triliun. Langkah ini juga sejalan dengan tren global: bank sentral di seluruh dunia membukukan pembelian emas lebih dari 1.037 ton sepanjang 2024, menjadikannya tahun kedua terbesar dalam sejarah pencatatan.
Sementara itu, dari sisi permintaan ritel, konsumen China juga menunjukkan antusiasme tinggi. Data Shanghai Gold Exchange menunjukkan volume transaksi emas fisik pada kuartal I 2025 naik 28 persen year-on-year. Masyarakat cenderung beralih ke emas sebagai lindung nilai terhadap pelemahan yuan dan ketidakpastian pasar properti yang masih dalam fase konsolidasi. Instrumen investasi emas berbasis ETF di China juga mencatat capital inflow bersih sebesar US$ 1,8 miliar pada periode yang sama.
Sentimen Pasar dan Proyeksi Harga: Optimisme versus Realitas
Pro: sejumlah analis komoditas global memproyeksikan harga emas dapat menyentuh US$ 5.500 per troy ons dalam jangka menengah, terutama jika Federal Reserve benar-benar memangkas suku bunga acuan sebanyak dua kali pada 2025. Dalam skenario tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah AS akan turun, sehingga biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah. Nilai tukar dolar yang melemah juga secara historis berkorelasi positif dengan kenaikan harga emas. Beberapa lembaga riset bahkan melihat potensi kenaikan hingga US$ 6.000 jika eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan Laut China Selatan memburuk.
Kontra: namun, tidak semua pihak optimistis. Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa harga emas saat ini sudah mencerminkan sebagian besar ekspektasi tersebut. Rasio harga emas terhadap inflasi AS (gold-to-CPI ratio) berada di level tertinggi sejak 1980, yang secara historis sering menjadi sinyal valuasi yang mahal. Jika bank sentral China memperlambat laju pembelian, atau jika data inflasi AS kembali memanas sehingga The Fed menunda pemangkasan suku bunga, maka koreksi tajam bisa terjadi. Level support kritis saat ini berada di kisaran US$ 2.850 per troy ons. Penurunan di bawah level tersebut berpotensi memicu aksi jual lebih lanjut.
"Akumulasi emas oleh bank sentral China adalah sinyal struktural, bukan sekadar spekulasi jangka pendek. Namun, investor perlu membedakan antara fundamental jangka panjang dan sentimen pasar jangka pendek yang bisa berbalik cepat," ujar seorang analis komoditas senior di lembaga riset internasional, dalam laporan triwulanannya.
Risiko dan Peluang di Tengah Ketidakpastian Global
Dari kacamata fundamental, permintaan emas China didorong oleh kebutuhan strategis, bukan sekadar tren. Diversifikasi cadangan devisa, perlindungan terhadap volatilitas nilai tukar, serta upaya mengurangi eksposur pada aset dolar menjadi tiga pilar utama. Namun, dari sisi sentimen pasar, harga emas yang sudah naik lebih dari 40 persen dalam 12 bulan terakhir menyisakan risiko koreksi teknikal yang tidak bisa diabaikan. Indeks kekuatan relatif (RSI) emas di pasar berjangka saat ini berada di zona overbought, mengindikasikan potensi konsolidasi dalam beberapa pekan ke depan.
Bagi pembaca awam, penting memahami bahwa emas bukan sekadar komoditas, melainkan aset yang dipengaruhi oleh kombinasi suku bunga, inflasi, nilai tukar, dan geopolitik. Proyeksi US$ 5.500 memang mungkin, tetapi bukan tanpa syarat. Diperlukan konfirmasi dari data makro global, terutama arah kebijakan moneter The Fed dan kelanjutan pembelian oleh bank sentral China. Tanpa itu, proyeksi tersebut hanya akan menjadi angka di atas kertas yang menunggu waktu untuk teruji. Yang jelas, tren akumulasi emas oleh China telah mengubah lanskap pasar global secara permanen, dan pelaku pasar wajib memperhitungkannya dalam setiap keputusan portofolio.
Comments (0)