Oct 08, 2026
Bisnis

Bank BNI Dukung Sektor Kreatif Lewat Kemitraan Strategis IdeaFest 2026

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per awal 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, atau setara Rp1.400 triliun pad...

Bank BNI Dukung Sektor Kreatif Lewat Kemitraan Strategis IdeaFest 2026

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per awal 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional, atau setara Rp1.400 triliun pada 2025. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari tiga kekuatan ekonomi kreatif terbesar di Asia Tenggara, di bawah Korea Selatan dan Thailand. Dalam konteks itu, langkah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk yang menjadi mitra perbankan resmi IdeaFest 2026 menjadi sinyalemen penting tentang arah digitalisasi transaksi di ekosistem kreatif nasional.

Kemitraan ini bukan sekadar penempatan logo. Bank berpelat merah tersebut menyediakan infrastruktur pembayaran digital, literasi keuangan bagi pelaku usaha kreatif, hingga akses pembiayaan berbasis portofolio karya intelektual. Tema besar acara tahun ini, "Re:Humanize", menyoroti posisi manusia di tengah derasnya adopsi kecerdasan buatan. Pilihan tema itu mencerminkan kesadaran bahwa transformasi digital tidak boleh mengorbankan dimensi kemanusiaan dalam berkarya.

Pro: Digitalisasi Transaksi Dorong Inklusi Pelaku Kreatif

Di satu sisi, kehadiran layanan perbankan digital di ruang publik seperti IdeaFest berpotensi mempercepat inklusi keuangan. Data Bank Indonesia per Desember 2025 mencatat indeks inklusi keuangan nasional mencapai 75,02 persen, naik dari 67,8 persen pada 2022. Namun, segmen pekerja kreatif—terutama freelancer, desainer, musisi, dan pengrajin—masih menghadapi kendala akses kredit formal karena penghasilan tidak tetap dan tidak memiliki agunan konvensional.

"Ekonomi kreatif adalah sektor padat karya yang pertumbuhannya mencapai 5,4 persen year-on-year pada kuartal IV 2025, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,02 persen. Intervensi perbankan di titik ini sangat strategis," ujar seorang ekonom senior yang tidak ingin disebutkan namanya.

Melalui skema pembayaran digital, UMKM kreatif dapat membangun jejak transaksi yang pada akhirnya menjadi basis penilaian kelayakan kredit. Rasio kredit bermasalah sektor UMKM per November 2025 tercatat 3,12 persen, relatif terkendali dibanding periode pandemi yang sempat menyentuh 5,8 persen. Artinya, ruang ekspansi pembiayaan masih terbuka lebar.

Kontra: Ketergantungan Platform dan Risiko Konsentrasi Pasar

Di sisi lain, pengamat kebijakan digital mengingatkan bahwa dominasi satu atau dua pemain besar dalam ekosistem pembayaran dapat menciptakan konsentrasi pasar. Nilai transaksi uang elektronik nasional pada 2025 mencapai Rp1.050 triliun, tumbuh 23,4 persen year-on-year. Namun, pangsa terbesar masih dikuasai beberapa pemain dominan, sementara pelaku kecil kesulitan bersaing dari sisi biaya layanan.

Selain itu, ada kekhawatiran bahwa semangat "Re:Humanize" hanya menjadi narasi pemasaran jika otomatisasi dan AI justru menggantikan pekerjaan kreatif berupah rendah. Proyeksi International Labour Organization menyebutkan sekitar 14 persen pekerjaan kreatif di negara berkembang berpotensi tergantikan fungsi otomatis dalam lima tahun ke depan. Sentimen pasar terhadap sektor kreatif pun masih fluktuatif, tercermin dari valuasi startup kreatif yang turun 18 persen dibanding puncak 2021.

Fundamental dan Proyeksi ke Depan

Dari kacamata fundamental, likuiditas industri perbankan nasional masih solid. Loan to Deposit Ratio per Desember 2025 berada di level 78,6 persen, sementara capital outflow dari pasar obligasi korporasi tercatat Rp12,3 triliun sepanjang kuartal IV 2025. Kondisi ini memberi ruang bagi bank untuk menyalurkan kredit produktif tanpa mengganggu rasio kecukupan modal yang berada di 24,1 persen.

Jika kolaborasi semacam ini diikuti penyederhanaan regulasi dan perlindungan hak kekayaan intelektual, sektor kreatif berpotensi menyumbang hingga 9 persen PDB pada 2030. Namun tanpa pengawasan persaingan usaha yang ketat, digitalisasi berisiko memperlebar ketimpangan antara kreator mapan dan pendatang baru. Keseimbangan inilah yang akan menentukan apakah kemitraan strategis seperti di IdeaFest 2026 benar-benar mendorong ekonomi kreatif, atau sekadar menjadi momentum pemasaran semata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User