Sep 15, 2026
Nasional

Bangkok — Thailand Luncurkan Kampanye Bulan Nihao Gaet Turis Tiongkok

BANGKOK — Dalam upaya melepaskan diri dari keterpurukan sektor pariwisata pascapandemi dan melesunya pertumbuhan ekonomi regional, Otoritas Pariwisata Thai

Bangkok — Thailand Luncurkan Kampanye Bulan Nihao Gaet Turis Tiongkok

BANGKOK — Dalam upaya melepaskan diri dari keterpurukan sektor pariwisata pascapandemi dan melesunya pertumbuhan ekonomi regional, Otoritas Pariwisata Thailand (Tourism Authority of Thailand/TAT) secara resmi meluncurkan kampanye berskala besar bertajuk "Bulan Nihao" (Nihao Month) pada Senin (14/9). Langkah agresif ini dirancang khusus untuk memikat kembali jutaan pelancong asal Tiongkok yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Negeri Gajah Putih tersebut.

Investigasi tim Beritadua.com menunjukkan bahwa inisiatif ini bukan sekadar promosi wisata biasa, melainkan bagian dari strategi geopolitik-ekonomi Thailand untuk mengamankan pendapatan negara menyongsong musim libur akhir tahun dan peringatan 50 tahun hubungan diplomatik Thailand-Tiongkok. Pemerintah Thailand menargetkan kedatangan sedikitnya 7,3 juta hingga 8 juta wisatawan Tiongkok pada tahun ini, dengan proyeksi perputaran uang mencapai lebih dari 340 miliar Baht (sekitar Rp 153 triliun).

Strategi Kampanye dan Rebound Pasar Tiongkok

Kampanye "Bulan Nihao" yang berlangsung sepanjang September hingga Oktober bertepatan dengan momen krusial Golden Week di Tiongkok. TAT menggandeng berbagai platform digital raksasa Asia seperti Trip.com, Meituan, WeChat, dan Alipay untuk memberikan diskon penerbangan, kemudahan pembayaran digital, serta voucher penginapan eksklusif.

"Kami tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga memastikan kesiapan ekosistem digital dan kenyamanan transaksi bagi turis Tiongkok yang kini lebih menyukai perjalanan mandiri (FIT)," ungkap Thapanee Kiatphaibool, Gubernur TAT dalam keterangannya di Bangkok.

Selain insentif finansial, Thailand menjalankan serangkaian program taktis dalam kampanye ini untuk memulihkan kepercayaan publik:

  • Fasilitas Bebas Visa Permanen: Kebijakan reciprocal visa-free yang diberlakukan sejak awal tahun terus diperkuat dengan percepatan proses imigrasi di bandara utama.
  • Kolaborasi Influencer: Mengundang puluhan pembuat konten dan selebritas Tiongkok untuk melakukan siaran langsung (live streaming) dari lokasi wisata di Bangkok, Phuket, dan Chiang Mai.
  • Peningkatan Integrasi Pembayaran: Memastikan 90% pedagang UMKM lokal dapat menerima pembayaran QR berbasis aplikasi Tiongkok.

Dinamika Data Kinerja Industri Pariwisata Thailand

Untuk memahami betapa vitalnya kontribusi pasar Tiongkok bagi perekonomian Thailand, berikut adalah perbandingan data kunjungan wisatawan asing dan pendapatan sektor pariwisata Thailand:

Indikator Utama 2019 (Pra-Pandemi) 2023 (Pemulihan) 2024 (Target Kampanye)
Jumlah Turis Tiongkok 11,1 Juta 3,5 Juta 7,3 - 8,0 Juta
Kontribusi Pendapatan (Baht) 543 Miliar 190 Miliar 340-350 Miliar
Pangsa Pasar Turis Asing 27,8% 12,4% 22,0%

Tantangan Keamanan dan Isu Persepsi Publik

Meskipun target terpasang tinggi, analisis mendalam mengindikasikan bahwa Thailand menghadapi perlawanan berat terkait isu keamanan. Sentimen negatif di media sosial Tiongkok—yang dipicu oleh maraknya isu kejahatan siber lintas batas dan kasus penipuan di kawasan Asia Tenggara—sempat membuat calon wisatawan ragu untuk berkunjung.

Untuk mengatasi hambatan persepsi ini, pemerintah Thailand menyusun skema perlindungan berlapis bagi turis asing melalui tiga langkah utama:

  1. Pengaktifan kembali sistem darurat Tourist Police i-Alert-u yang terhubung langsung dengan pusat komando kepolisian.
  2. Penempatan personel polisi pariwisata bertutur bahasa Mandarin di seluruh titik transit publik dan destinasi utama.
  3. Pengawasan ketat terhadap biro perjalanan zero-dollar tour yang berpotensi merusak reputasi pariwisata lokal.

Para pengamat ekonomi regional menilai keberhasilan kampanye ini akan menjadi ujian penting apakah Thailand mampu mempertahankan dominasinya di Asia Tenggara. Menurut Dr. Somchai Jitsuchon, peneliti senior dari Thailand Development Research Institute (TDRI), persaingan kini jauh lebih ketat karena negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga menerapkan bebas visa bagi turis Tiongkok.

Melalui "Bulan Nihao", Thailand mempertaruhkan strategi ekonomi nasionalnya demi membuktikan bahwa Negeri Gajah Putih tetap menjadi destinasi paling ramah dan aman bagi pelancong dari Negeri Tirai Bambu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User