Asosiasi Bulion Nasional IBMA Resmi Dibentuk, BSI hingga Amman Terlibat

Berdasarkan data Bank Indonesia, cadangan emas nasional yang dikelola bank sentral tercatat sekitar 78 ton per akhir 2025, sementara harga emas dunia sepanjang tahun lalu sempat menembus rekor di atas...

Asosiasi Bulion Nasional IBMA Resmi Dibentuk, BSI hingga Amman Terlibat

Berdasarkan data Bank Indonesia, cadangan emas nasional yang dikelola bank sentral tercatat sekitar 78 ton per akhir 2025, sementara harga emas dunia sepanjang tahun lalu sempat menembus rekor di atas 3.500 dolar AS per troy ounce. Di tengah tren penguatan itu, ekosistem emas Indonesia memasuki babak baru dengan resminya pembentukan Indonesia Bullion Market Association (IBMA), asosiasi pelaku bulion nasional. Sejumlah nama besar ikut di dalamnya, mulai dari Bank Syariah Indonesia (BSI), Pegadaian, hingga PT Amman Mineral Internasional.

IBMA: Wadah Baru Pelaku Bulion Nasional

IBMA dirancang sebagai wadah konsolidasi bagi seluruh pemain di rantai nilai emas, dari hulu pertambangan, pengolahan dan pemurnian, hingga distribusi serta produk keuangan berbasis emas. Keterlibatan BSI dan Pegadaian menunjukkan bahwa sektor keuangan menjadi tulang punggung ekosistem ini, sementara kehadiran Amman Mineral menghubungkan asosiasi dengan sisi hulu produksi. Dalam praktiknya, asosiasi semacam ini lazim bertugas menyusun standar perdagangan, mendorong transparansi harga, serta menjadi mitra dialog bagi pemerintah dan otoritas.

Pembentukan IBMA juga menjawab kebutuhan akan satu suara di tengah pasar yang selama ini terpecah. Perdagangan emas di dalam negeri selama ini tersebar di berbagai kanal, mulai dari gerai pegadaian, layanan perbankan, hingga bursa berjangka. Dengan wadah tunggal, pelaku berharap kebijakan yang menyangkut komoditas ini bisa dirumuskan secara lebih terarah dan konsisten.

Pro: Peluang Membesarkan Pasar Emas Domestik

Di satu sisi, momentum pembentukan IBMA dinilai sangat tepat. Indonesia merupakan salah satu produsen emas terbesar dunia dengan produksi sekitar 120 ton per tahun, tetapi porsi perdagangan dan instrumen keuangan berbasis emas di dalam negeri masih jauh di bawah potensinya. Dengan asosiasi yang solid, pelaku usaha dapat menyatukan kekuatan untuk membangun harga acuan domestik, memperdalam likuiditas pasar, serta merancang standar penyimpanan dan produk yang seragam.

Emas juga memiliki keistimewaan sebagai aset yang sesuai prinsip syariah. Bagi BSI, kehadiran dalam asosiasi ini membuka ruang pengembangan portofolio produk berbasis emas yang lebih variatif. Sementara itu, fundamental permintaan emas tetap kuat karena fungsinya sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian global. Tren ini terlihat dari meningkatnya permintaan emas bank sentral berbagai negara dalam dua tahun terakhir, yang turut mendorong kenaikan indeks harga emas dunia.

“Pembentukan asosiasi ini merupakan langkah strategis untuk menciptakan harga acuan emas dalam negeri dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok emas global,” ujar seorang analis komoditas yang memantau perkembangan industri bulion.

Kontra: Likuiditas Tipis dan Persaingan Global

Di sisi lain, tantangan yang dihadapi IBMA tidak ringan. Pasar emas domestik selama ini masih terkonsentrasi pada produk tabungan, gadai, dan perhiasan, sementara instrumen derivatif serta perdagangan antarlembaga belum berkembang dalam. Akibatnya, likuiditas pasar sekunder masih tipis dibandingkan pusat perdagangan emas dunia seperti London dan Singapura. Tanpa kedalaman pasar, harga acuan yang dibangun berisiko tidak kompetitif dan kurang dipercaya pelaku internasional.

Persaingan global juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Banyak pelaku internasional telah mengantongi sertifikasi dan standar yang diakui luas, sehingga asosiasi baru perlu membangun kredibilitas dari nol. Selain itu, aspek perpajakan, biaya penyimpanan emas, dan keamanan fasilitas penyimpanan masih menjadi kendala yang bisa menggerus daya saing. Sebagian pengamat juga mengingatkan agar asosiasi tidak berhenti pada seremoni belaka. “Tanpa peta jalan dan target yang terukur, wadah ini berisiko menjadi organisasi administratif tanpa dampak nyata,” kata seorang pengamat industri keuangan.

Proyeksi dan Langkah Selanjutnya

Ke depan, keberhasilan IBMA akan sangat bergantung pada koordinasi dengan para otoritas, terutama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Dukungan regulasi yang jelas akan menentukan seberapa cepat asosiasi ini mampu membangun infrastruktur pasar, mulai dari fasilitas penyimpanan, mekanisme kliring, hingga sistem penetapan harga yang transparan.

Sejumlah lembaga riset memproyeksikan permintaan emas ritel di Asia Tenggara akan terus tumbuh seiring menguatnya kelas menengah dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya diversifikasi aset. Jika Indonesia mampu menangkap peluang itu, bukan tidak mungkin negeri ini berkembang dari sekadar produsen menjadi pusat perdagangan bulion kawasan. Namun, semua itu hanya akan terwujud apabila sisi hulu, sektor keuangan, dan regulasi berjalan beriringan. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan IBMA sederhana: seberapa besar pasar emas nasional menjadi lebih likuid, lebih transparan, dan lebih inklusif bagi masyarakat luas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User