Modal KUR BRI, Rosidah Kembangkan Usaha Gula Merah di Sumenep

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM serta Otoritas Jasa Keuangan per Juni 2024, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kembali menunjukkan tren kenaikan, dengan target pemerintah menembus Rp 3...

Modal KUR BRI, Rosidah Kembangkan Usaha Gula Merah di Sumenep

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM serta Otoritas Jasa Keuangan per Juni 2024, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kembali menunjukkan tren kenaikan, dengan target pemerintah menembus Rp 300 triliun sepanjang tahun. Skema pembiayaan bersubsidi dengan bunga maksimal 3 persen per tahun ini menjadi pintu masuk permodalan bagi sekitar 64 juta pelaku UMKM di Tanah Air. Salah satu penerimanya adalah Rosidah, perajin gula merah di Kabupaten Sumenep, Madura, yang telah menggeluti usaha ini selama dua dekade terakhir.

Kisah Rosidah bukan sekadar potret sukses individu. Ia mewakili realitas UMKM yang menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional dan menyumbang hampir 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut kerap dikutip dalam forum-forum ekonomi, tetapi jarang diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari: sebuah dapur produksi di kampung yang menopang biaya sekolah, mempekerjakan tetangga sekitar, dan menghidupkan rantai pasok kelapa di wilayahnya.

Dua Dekade Menekuni Tradisi, Modal KUR Menjadi Titik Balik

Gula merah bagi Rosidah bukan barang baru. Ia mewarisi keterampilan memasak nira kelapa menjadi gula cetak dari orang tuanya dan terus mengembangkannya selama lebih dari dua puluh tahun. Namun, dalam kurun waktu yang panjang itu, laju usahanya bergerak lambat. Keterbatasan modal membuat kapasitas produksi sulit mengalami kenaikan signifikan, sementara harga bahan baku dan kayu bakar kerap bergejolak mengikuti musim.

Titik balik datang ketika ia mengakses KUR melalui BRI. Tambahan likuiditas itu ia manfaatkan untuk menambah peralatan memasak, memperbesar pasokan nira dari petani kelapa setempat, dan memperluas jangkauan pemasaran. Hasilnya, produksi mengalami kenaikan year-on-year yang konsisten, dan omzet pun ikut merangkak naik. Kesejahteraan keluarga membaik; dari keuntungan yang sebelumnya hanya cukup untuk kebutuhan harian, kini tersisa ruang untuk tabungan dan pengembangan usaha.

Dampak itu tidak berhenti di pintu rumahnya. Sebagian tetangga kini ikut terlibat dalam proses produksi, mulai dari penyadap nira hingga pengemas gula. Dengan kata lain, satu kredit kecil di tingkat mikro ikut memperkuat fundamental ekonomi desa: pendapatan masyarakat bertambah, dan rantai pasok lokal berputar lebih cepat.

Di Satu Sisi: Bunga Rendah Mempercepat Skala dan Inklusi Keuangan

Dari kacamata kebijakan, cerita Rosidah adalah bukti bahwa akses pembiayaan murah dapat mengubah trajektori usaha mikro. Selisih antara bunga KUR sebesar 3 persen dan kredit komersial yang bisa dua kali lipat lebih tinggi membuat beban angsuran jauh lebih ringan, sehingga pelaku usaha memiliki ruang napas untuk berinvestasi alih-alih sekadar bertahan. Lebih dari itu, KUR mendorong inklusi keuangan: pelaku yang sebelumnya beroperasi sepenuhnya di luar sistem kini tercatat, memiliki riwayat pembayaran, dan perlahan menjadi bankable di mata lembaga keuangan.

Di Sisi Lain: Bunga Murah Bukan Jaminan Keberlanjutan

Namun, analisis dua sisi menuntut kejujuran atas risiko yang mengintai. Bunga murah hanyalah satu variabel; keberlanjutan usaha tetap bergantung pada pengelolaan arus kas, ketersediaan bahan baku, dan stabilitas harga. Fluktuasi harga gula merah di pasar, cuaca yang mengganggu produksi nira, serta kenaikan biaya energi dapat menggerus margin dalam sekejap. Jika pendapatan turun sementara kewajiban angsuran berjalan, risiko gagal bayar menjadi nyata — terutama bagi debitur dengan literasi keuangan yang masih terbatas.

Kritik lain menyangkut ketergantungan. Ketika pertumbuhan usaha ditopang oleh skema bersubsidi yang bergantung pada anggaran negara, ada pertanyaan tentang kesiapan pelaku usaha saat subsidi menyempit. Para pengamat menilai pendampingan, pelatihan manajemen, dan akses pasar harus berjalan beriringan dengan penyaluran kredit agar pertumbuhan tidak berhenti ketika bantuan ditarik.

Ekosistem dan Proyeksi ke Depan

Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi sekadar menyalurkan kredit, melainkan membangun ekosistem. Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam menyediakan infrastruktur, memfasilitasi sertifikasi produk, dan membuka akses ke pasar yang lebih luas — termasuk pasar ekspor untuk produk gula merah premium. Selama harga komoditas pangan tetap stabil dan permintaan gula merah bertahan, proyeksi usaha serupa masih menjanjikan, terutama dengan tren konsumen yang kembali melirik produk pangan tradisional yang alami.

"KUR adalah pintu masuk, bukan garis finis. Yang menentukan keberlanjutan adalah kemampuan pelaku usaha membaca pasar, mengelola keuangan, dan berinovasi di atas modal yang mereka terima," ujar seorang analis UMKM yang memantau penyaluran kredit usaha rakyat di Jawa Timur.

Kisah Rosidah mengajarkan bahwa kombinasi antara tradisi yang dirawat lama dan akses modal yang tepat dapat menghasilkan pertumbuhan yang nyata. Namun, pelajaran yang sama juga mengingatkan bahwa kredit hanyalah salah satu roda; mesin utamanya tetap pada pengelolaan, inovasi, dan keberanian untuk terus naik kelas. Jika seluruh elemen itu berjalan seiring, potensi UMKM — dari Sumenep hingga ujung negeri — masih jauh dari kata selesai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User