BNI Rilis wondrZ, Tabungan Anak untuk Pendidikan Keuangan Generasi Muda
Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per November 2024, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mengalami kenaikan signifikan menja...
Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per November 2024, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mengalami kenaikan signifikan menjadi 65,43 persen, naik dari 49,68 persen pada 2022. Sebaliknya, indeks inklusi keuangan justru mengalami penurunan menjadi 75,02 persen dari 85,10 persen pada periode pembanding yang sama, antara lain akibat perubahan metodologi penghitungan. Yang tak kalah penting, kelompok usia 15–17 tahun tercatat memiliki indeks literasi keuangan di kisaran 52 persen, terendah di antara seluruh kelompok umur. Pada titik inilah kehadiran produk tabungan khusus anak dan remaja menjadi relevan. Bank Negara Indonesia (BNI) baru-baru ini memperkenalkan wondrZ, layanan simpanan yang menyasar nasabah usia dini dan remaja, dengan seluruh pengelolaannya dilakukan melalui aplikasi perbankan digital wondr.
wondrZ: Rekening Pertama di Genggaman Anak dan Orang Tua
Secara garis besar, wondrZ adalah produk simpanan yang dirancang agar anak dan remaja dapat berlatih mengatur uang mereka sendiri, sementara orang tua tetap memegang kendali pengawasan. Setiap transaksi tercatat secara digital dan dapat dipantau orang tua dari jarak jauh, sehingga pola belanja anak menjadi transparan. Fitur semacam ini menjawab kebutuhan orang tua modern yang ingin mengenalkan pengelolaan keuangan tanpa harus mencabut sepenuhnya otoritas pengawasan. Bagi BNI, produk ini sekaligus menjadi jembatan untuk memperkenalkan ekosistem layanan digitalnya kepada generasi berikutnya sejak usia dini.
Di Satu Sisi: Pendidikan Finansial yang Dimulai dari Hal Kecil
Di satu sisi, produk ini menawarkan sejumlah keuntungan nyata. Pertama, pendidikan finansial yang dimulai dari transaksi nyata jauh lebih efektif dibanding teori di kelas; anak belajar membedakan kebutuhan dan keinginan ketika ia sendiri yang memasukkan nominal ke rekening. Kedua, transparansi transaksi membantu orang tua mendeteksi kebiasaan belanja anak lebih awal. Ketiga, potensi pasarnya besar: BPS memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia mencapai 281,6 juta jiwa pada 2024, dan hampir sepertiganya berusia di bawah 18 tahun. Jika sebagian dari kelompok itu memiliki rekening, simpanan ritel perbankan berpotensi mengalami pertumbuhan year-on-year yang stabil, sekaligus memperkuat likuiditas jangka panjang bank di tengah tren suku bunga yang menurun. Bagi perbankan, dana tabungan anak termasuk dana pihak ketiga (DPK) yang relatif tidak mudah berpindah, sehingga menjadi penopang fundamental bisnis perbankan ritel.
“Keberhasilan tabungan anak seharusnya diukur dari dua hal: kemampuan anak menabung secara rutin dan keterlibatan orang tua dalam mendampingi. Tanpa keduanya, produk secanggih apa pun hanya menjadi rekening pasif,” ujar seorang analis perbankan yang enggan disebutkan namanya kepada Beritadua.
Di Sisi Lain: Risiko Digital dan Kesiapan Orang Tua
Di sisi lain, produk tabungan digital untuk anak tidak lepas dari sejumlah kekhawatiran. Pertama, risiko keamanan siber: rekening yang terhubung aplikasi tetap rentan terhadap penipuan daring, phishing, hingga penyalahgunaan data pribadi anak, yang kini dilindungi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Kedua, paparan gawai yang meningkat justru bisa mendorong perilaku konsumtif jika fitur transaksinya tidak dibatasi dengan baik. Ketiga, efektivitas produk sangat bergantung pada literasi orang tua; jika orang tua sendiri belum memahami konsep bunga, inflasi, atau anggaran, fungsi edukasinya bisa berhenti di level administratif. Sejumlah pengamat juga menilai produk semacam ini berpotensi menjadi sekadar perluasan portofolio simpanan bank dalam bingkai edukasi, bukan perubahan perilaku yang sesungguhnya. Apalagi, kompetisi antarbank kian ketat, sehingga nilai tambah wondrZ akan diuji oleh kualitas fitur, bukan sekadar merek.
Proyeksi dan Catatan Penutup
Ke depan, tren tabungan anak berbasis aplikasi diperkirakan akan terus meningkat seiring makin digitalnya layanan keuangan. Bank Indonesia sendiri terus mendorong perluasan akses keuangan digital, sementara sentimen pasar keuangan domestik yang sempat tertekan arus modal keluar (capital outflow) pada 2024 kini berangsur membaik, memberikan ruang bagi bank untuk mengembangkan produk ritel jangka panjang. Namun, proyeksi optimistis itu tetap harus diimbangi pengawasan. Pada akhirnya, valuasi keberhasilan wondrZ tidak diukur dari jumlah rekening yang terbuka, melainkan dari perubahan perilaku keuangan anak dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Jika edukasi berjalan beriringan dengan pengawasan, produk semacam ini bisa menjadi salah satu pilar penting dalam menaikkan rasio literasi keuangan generasi muda. Jika tidak, ia hanya akan menjadi satu lagi produk simpanan yang bersaing di tengah lautan fitur digital.
Comments (0)