Oct 08, 2026
Bisnis

APP Group Masuk RE100, Tekan Biaya Energi di Tengah Transisi

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per akhir 2024, bauran energi terbarukan dalam listrik nasional baru mencapai sekitar 13,1%, sementara target pemerintah menetapkan 2...

APP Group Masuk RE100, Tekan Biaya Energi di Tengah Transisi

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per akhir 2024, bauran energi terbarukan dalam listrik nasional baru mencapai sekitar 13,1%, sementara target pemerintah menetapkan 23% pada 2025. Di tengah kesenjangan itu, langkah korporasi menjadi krusial. APP Group resmi bergabung dengan RE100, sebuah inisiatif global yang mewajibkan anggotanya menggunakan 100% listrik terbarukan secara bertahap. Keputusan ini menjadikan perusahaan pulp dan kertas tersebut salah satu entitas manufaktur nasional yang paling agresif mendeklarasikan komitmen dekarbonisasi di sektor energi.

RE100 sendiri adalah platform yang dihuni lebih dari 400 perusahaan multinasional dengan total konsumsi listrik setara ekonomi Inggris. Bagi pembaca awam, RE100 dapat dipahami sebagai klub perusahaan yang berjanji meninggalkan listrik berbasis batu bara, gas, dan diesel, lalu beralih ke matahari, angin, air, dan biomassa. Bagi APP Group, keanggotaan ini bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari strategi jangka panjang menghadapi tekanan pasar ekspor yang semakin ketat terhadap produk rendah karbon.

Di Satu Sisi: Sinyal Positif bagi Fundamental dan Akses Pasar

Dari perspektif fundamental, bergabungnya APP Group ke RE100 memperkuat posisi perusahaan di mata investor dan pembeli global. Uni Eropa telah memberlakukan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) secara bertahap sejak 2023, yang membebani impor produk padat energi dengan biaya karbon. Negara tujuan ekspor seperti Jepang dan Korea Selatan juga mulai mensyaratkan sertifikasi energi hijau. Dengan komitmen 100% listrik terbarukan, APP Group berpotensi mempertahankan pangsa pasar ekspor yang diperkirakan mencapai 60-70% dari total penjualan.

Sentimen pasar terhadap emiten dan perusahaan yang mengumumkan target energi bersih cenderung positif. Studi internasional menunjukkan perusahaan yang masuk indeks keberlanjutan menikmati biaya modal lebih rendah 5-10 basis poin dibandingkan perusahaan sejenis yang tidak memiliki komitmen lingkungan. Ini menyangkut likuiditas jangka panjang dan valuasi, karena dana pensiun serta manajer investasi global semakin mengalokasikan portofolio ke aset ramah lingkungan.

"Transisi energi bukan lagi opsi, melainkan prasyarat daya saing ekspor. Perusahaan yang lambat akan tergeser, bukan karena regulasi, tetapi karena pembeli sudah berubah," ujar seorang analis energi terbarukan di Jakarta, yang meminta namanya tidak disebut.

Di Sisi Lain: Tantangan Biaya dan Kesiapan Infrastruktur

Namun, narasi positif itu menyimpan pekerjaan rumah besar. Harga listrik dari pembangkit surya atap di Indonesia masih berkisar USD 6-8 sen per kWh, sementara tarif listrik PLN untuk industri berada di kisaran USD 7 sen per kWh. Artinya, transisi belum tentu langsung menekan biaya, bahkan berpotensi menaikkan biaya operasional pada tahap awal karena investasi panel surya, penyimpanan baterai, dan sertifikasi energi terbarukan membutuhkan belanja modal signifikan.

Tantangan kedua adalah keterbatasan pasokan listrik hijau di jaringan. Sertifikat Energi Terbarukan (REC) yang diterbitkan PLN memang tersedia, tetapi volumenya belum mampu menutup permintaan industri besar secara penuh. Bila banyak perusahaan mengikuti jejak APP Group, permintaan REC berpotensi melampaui pasokan, sehingga harga sertifikat naik dan menciptakan tekanan biaya baru. Ini adalah risiko nyata yang jarang dibahas dalam pengumuman korporasi.

Rasio emisi terhadap pendapatan juga perlu dicermati. Sektor pulp dan kertas termasuk intensif energi, dengan konsumsi listrik per ton produk bisa mencapai 500-700 kWh. Mengubah seluruhnya ke sumber terbarukan dalam waktu singkat berisiko mengganggu keandalan operasi. Karena itu, proyeksi transisi biasanya dibuat bertahap, misalnya 50% pada 2030 dan 100% pada 2040-2050, bukan dalam satu malam.

Dampak ke Ekonomi Makro dan Pasar Kerja Hijau

Langkah APP Group memberi sinyal bahwa permintaan tenaga kerja terampil di bidang energi terbarukan akan meningkat. Berdasarkan proyeksi lembaga riset energi, Indonesia membutuhkan tambahan 1,2 juta pekerja sektor energi bersih pada 2030. Perusahaan yang lebih dulu berinvestasi akan memiliki keunggulan dalam merekrut talenta dan membangun rantai pasok lokal, mulai dari pemasang panel surya hingga auditor energi.

Bagi investor, keanggotaan RE100 dapat dibaca sebagai pengurang risiko regulasi, tetapi bukan jaminan kinerja keuangan jangka pendek. Fundamental tetap ditentukan oleh harga komoditas, permintaan global, dan efisiensi operasional. Tren dekarbonisasi memperbaiki profil jangka panjang, tetapi sentimen pasar bisa berfluktuasi setiap kuartal. Yang jelas, keputusan APP Group menambah daftar tekanan bagi perusahaan sejenis untuk segera menyusun peta jalan energi bersih, atau menghadapi risiko kehilangan pembeli dan pembiayaan di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User