Sebuah laporan investigasi terbaru yang dirilis oleh organisasi non-pemerintah internasional Global Witness mengungkap fakta kelam di balik perlindungan alam dunia. Sepanjang periode pemantauan terkini, tercatat sedikitnya 124 aktivis dan pembela hak atas tanah tewas dibunuh. Dari angka kematian yang mengerikan tersebut, kawasan Amerika Latin menjadi episentrum kekerasan paling mematikan dengan menyumbang 85 persen dari total kasus pembunuhan global.
Laporan bertajuk "Poder Colectivo" (Kekuatan Kolektif) ini memetakan bagaimana konflik perebutan wilayah adat, ekspansi industri ekstraktif, serta keberadaan kelompok bersenjata ilegal secara sistematis membungkam suara-suara perlawanan masyarakat lokal yang berupaya menjaga hutan dan ekosistem mereka.
Jejak Peluru di Lembah Cauca: Tragedi Edgar Tumiñá
Salah satu tragedi paling disorot dalam laporan investigasi ini menimpa Edgar Tumiñá Gembuel. Pembela wilayah adat tersebut tewas seketika setelah diberondong sembilan peluru oleh sekelompok pria bersenjata bermotor di kawasan pegunungan Valle del Cauca, Kolombia. Kematian Edgar memicu kecaman keras hingga ke kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) di Bogota.
"Ancaman terhadap para penjaga tanah adat bukan sekadar intimidasi kosong, melainkan pola kekerasan terstruktur yang didorong oleh impunitas dan perebutan kontrol wilayah," ungkap Toby Stirling Hill, peneliti hak asasi manusia dari Global Witness.
Edgar bukan korban pertama di keluarganya; saudara laki-lakinya dibunuh 11 tahun sebelumnya, disusul pembunuhan rekan aktivisnya. Korban diketahui kerap menerima ancaman pembunuhan dari kelompok pembangkang bersenjata eks-FARC karena perannya yang aktif dalam Guardia Indígena—satuan pengamanan swadaya masyarakat adat yang berpatroli secara damai tanpa senjata demi menjaga kedaulatan tanah ulayat.
Pola Eskalasi Kekerasan terhadap Pembela Lingkungan
Berdasarkan dokumentasi lapangan yang dihimpun Global Witness, represi terhadap aktivis lingkungan di berbagai belahan dunia mengikuti tahapan kekerasan yang berulang:
- Intimidasi dan Pengawasan: Pelaku kejahatan dan milisi lokal memantau pergerakan tokoh adat serta melancarkan teror verbal maupun tertulis agar mereka menghentikan aksi advokasi.
- Kriminalisasi dan Stigmatisasi: Aktivis kerap dituduh menghambat pembangunan ekonomi nasional atau dituduh berafiliasi dengan faksi ekstremis oleh pihak yang berkepentingan.
- Eksekusi Bersenjata: Ketika penolakan terus berlanjut, kelompok bersenjata bayaran atau disiden mengeksekusi aktivis secara terencana di lokasi terpencil.
- Impunitas Hukum: Sebagian besar pelaku intelektual maupun eksekutor lapangan tidak pernah diadili, memicu rantai kekerasan baru di komunitas yang sama.
Kolombia Jadi Negara Paling Mematikan di Dunia
Data Global Witness mengonfirmasi bahwa Kolombia menempati posisi teratas sebagai negara paling berbahaya bagi pembela lingkungan hidup, dengan menyumbang hampir sepertiga dari total korban tewas di seluruh dunia. Konflik bersenjata berkepanjangan dan sengketa penguasaan lahan agraria menjadi faktor pendorong utama tingginya mortalitas aktivis di negara tersebut.
Selain Kolombia, daftar hitam kekerasan mematikan ini mencakup sejumlah negara kunci:
- Brasil: Konflik deforestasi ilegal dan pertambangan liar di kawasan Amazon menyumbang angka kekerasan tinggi terhadap suku asli.
- Filipina: Menjadi satu-satunya negara Asia di jajaran teratas dengan insiden kekerasan ekstrem terkait proyek agribisnis dan energi.
- Honduras dan Meksiko: Menghadapi ancaman terorganisasi dari kartel serta korporasi tambang gelap yang merebut sumber mata air warga.
- Guatemala, Peru, Nikaragua, dan Ekuador: Melengkapi barisan negara Amerika Latin dengan eskalasi konflik teritorial yang terus menelan korban jiwa.
Laporan Global Witness menegaskan urgensi intervensi internasional serta komitmen pemerintah lokal untuk memberlakukan penegakan hukum konkret, demi memutus rantai impunitas yang selama ini melindungi para pelaku kejahatan lingkungan.
Comments (0)