Sep 11, 2026
Hukum

Aljazair Tuding UEA Picu Konflik Geopolitik di Kawasan Sahel

Ketegangan diplomatik yang selama ini berembus samar di balik pintu-pintu tertutup Afrika Utara kini resmi pecah ke permukaan. Hubungan bilateral antara Al

Aljazair Tuding UEA Picu Konflik Geopolitik di Kawasan Sahel

Ketegangan diplomatik yang selama ini berembus samar di balik pintu-pintu tertutup Afrika Utara kini resmi pecah ke permukaan. Hubungan bilateral antara Aljazair dan Uni Emirat Arab (UEA) berada di titik terendah dalam sejarah modern mereka. Keretakan ini bukan sekadar friksi diplomatik biasa, melainkan manifestasi dari benturan kepentingan geopolitik yang jauh lebih luas dan berbahaya di kawasan Sahel Afrika serta Libya. Di Algiers, kewaspadaan militer dan tingkat siaga diplomatik ditingkatkan seiring bayang-bayang intervensi asing yang dinilai mengancam stabilitas kawasan Sahara.

Perselisihan ini mencerminkan dinamika persaingan daya pengaruh yang sengit di wilayah Afrika bagian barat dan utara. Aljazair, sebagai kekuatan tradisional Afrika Utara yang berbatasan langsung dengan jalur ketegangan Sahel, memandang manuver politik luar negeri Abu Dhabi sebagai bentuk perambahan yang merugikan kedaulatan strategis kawasan tersebut.

Akar Ketegangan dan Manuver Geopolitik Abu Dhabi

Pengamat politik internasional menyoroti bahwa langkah-langkah agresif UEA dalam beberapa tahun terakhir di Libya dan negara-negara Sahel telah memicu keresahan mendalam di Algiers. Keterlibatan finansial, militer, dan penguasaan infrastruktur strategis seperti pelabuhan serta tambang emas oleh entitas berpengaruh dari Teluk dinilai mengganggu keseimbangan kekuasaan yang selama ini dijaga oleh negara-negara Maghreb.

"Keputusan dan ketegangan saat ini merupakan reaksi langsung terhadap tindakan Uni Emirat Arab yang secara sistematis merugikan posisi Aljazair di tingkat regional, khususnya di kawasan Sahel Afrika dan konflik Libya," tegas Prof. Smail Debeche, guru besar hubungan internasional di University of Algiers III.

Menurut Debeche, Aljazair menganggap infiltrasi kebijakan luar negeri UEA di negara-negara tetangganya seperti Mali, Niger, dan Libya bukan sekadar investasi ekonomi, melainkan upaya membentuk blok aliansi baru yang berpotensi mengisolasi peran stabilisator tradisional Aljazair. Konflik proksi di Libya—di mana dukungan terhadap faksi-faksi bersenjata kerap berseberangan dengan pendekatan diplomasi inklusif yang didukung Aljazair—menjadi salah satu titik didih utama perselisihan ini.

Konflik Proksi: Membedah Kepentingan Strategis di Kawasan

Untuk memahami lebih dalam eskalasi ini, investigasi terhadap peta kekuatan regional menunjukkan jurang perbedaan pendekatan antara kedua negara dalam mengelola krisis Afrika Utara:

Domain Perbedaan Pendekatan Aljazair Pendekatan Uni Emirat Arab (UEA)
Kawasan Fokus Sahel, Mali, Libya, Maghreb Libya, Tanduk Afrika, Sahel
Strategi Utama Diplomasi non-intervensi, integritas teritorial Investasi infrastruktur, dukungan faksi militer
Visi Keamanan Penyelesaian internal tanpa campur tangan luar Proyeksi kekuatan ekonomi & militer Teluk

Eskalasi ketegangan ini menorehkan fakta kunci bahwa persaingan kekuatan Teluk kini telah bergeser jauh ke pedalaman benua Afrika. Lebih dari 3.000 kilometer batas darat Aljazair kini berhadapan langsung dengan zona ketidakstabilan Sahel yang rawan disusupi kelompok radikal dan pengaruh aktor non-regional. Dampak dari perselisihan ini mengancam akan melumpuhkan upaya kolaborasi keamanan dalam Uni Afrika (African Union) serta memutus jalur komunikasi kritis dalam penyelesaian krisis Mali pasca-kudeta.

Implikasi Terhadap Stabilitas Kawasan Sahel

Kawasan Sahel, yang sudah lama rapuh akibat kudeta militer beruntun dan kebangkitan kelompok pemberontak, kini harus menanggung beban tambahan dari persaingan dua kekuatan besar ini. Para analis mengkhawatirkan bahwa jika friksi ini terus dibiarkan tanpa mediasi tingkat tinggi, perselisihan Aljazair-UEA dapat memicu fragmentasi yang lebih parah di antara negara-negara Afrika Utara dan Subsahara.

Pada akhirnya, retaknya hubungan diplomatik ini menjadi alarm keras bagi komunitas internasional. Kebijakan luar negeri Aljazair diprediksi akan semakin memperketat ruang gerak pengaruh Abu Dhabi di kawasan Maghreb, sembari memperkuat aliansi pertahanan internal guna mengamankan perbatasan selatan mereka dari potensi dampak domino stabilitas yang kian rapuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User