Sep 11, 2026
Hukum

JAKARTA — Riset PISA Ungkap 53 Persen Pelajar Indonesia Gunakan AI

Lanskap pendidikan nasional kini tengah mengalami pergeseran tektonik seiring masifnya penetrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) di kalangan generasi muda

JAKARTA — Riset PISA Ungkap 53 Persen Pelajar Indonesia Gunakan AI

Lanskap pendidikan nasional kini tengah mengalami pergeseran tektonik seiring masifnya penetrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) di kalangan generasi muda. Laporan terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 mengungkap fakta mengejutkan mengenai kebiasaan belajar siswa di tanah air, di mana sebanyak 53 persen pelajar Indonesia tercatat aktif memanfaatkan platform chatbot AI untuk membantu tugas sekolah setidaknya sekali dalam sepekan.

Temuan ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat adopsi kecerdasan buatan generatif tertinggi di sektor pendidikan kawasan berkembang. Fenomena ini menunjukkan lompatan teknologi yang melampaui kesiapan kurikulum resmi dan memicu perdebatan mendalam mengenai efektivitas serta integritas proses belajar-mengajar.

Evolusi Adopsi Kecerdasan Buatan di Ruang Kelas

Pemanfaatan perangkat berbasis kecerdasan buatan telah berkembang pesat dalam rentang waktu singkat. Jika dua tahun lalu penggunaan teknologi digital masih didominasi oleh mesin pencari konvensional, kini siswa beralih ke interaksi berbasis dialog instan:

  1. Fase Penjajakan Awal: Pelajar mulai mengenal aplikasi generatif seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini untuk mencari ringkasan materi pelajaran yang rumit.
  2. Fase Integrasi Rutin: Penggunaan AI meluas ke penyusunan draf esai, penyelesaian soal matematika bertingkat, hingga simulasi tanya-jawab menjelang ujian.
  3. Fase Ketergantungan Pembelajaran: Lebih dari separuh populasi pelajar menjadikan chatbot AI sebagai asisten utama, dengan frekuensi pemakaian rutin setiap pekan.
"Lonjakan adopsi ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi membuka akses informasi tanpa batas, namun di sisi lain berisiko mengikis daya nalar kritis siswa jika tidak diimbangi bimbingan pedagogis yang tepat," ujar salah seorang pengamat pendidikan teknologi.

Sorotan Data Kunci dan Implikasi Pedagogis

Laporan investigatif PISA 2025 merinci sejumlah variabel penting terkait bagaimana ekosistem digital membentuk pola pikir siswa Indonesia saat berinteraksi dengan AI:

  • Aksesibilitas Tinggi: Penetrasi gawai pintar yang tinggi di kalangan remaja mempercepat adaptasi alat bantu belajar berbasis AI di luar jam sekolah.
  • Penyelesaian Tugas Instan: Sebanyak 53 persen siswa mengaku menggunakan AI sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) secara cepat.
  • Kesenjangan Pemahaman Konseptual: Ketergantungan berlebih memunculkan kekhawatiran terkait penurunan kemampuan pemecahan masalah (problem solving) secara mandiri.

Tantangan Integritas Akademik dan Kesenjangan Digital

Tingginya angka keterlibatan pelajar dengan AI menuntut langkah konkret dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Investigasi lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar institusi pendidikan belum memiliki regulasi yang jelas terkait batasan etika penggunaan generative AI di ruang kelas.

Kondisi ini menimbulkan dilema di kalangan pendidik yang kesulitan membedakan karya autentik siswa dengan hasil sintesis mesin. Tanpa adanya pedoman evaluasi yang adaptif serta peningkatan literasi digital yang merata ke seluruh pelosok daerah, lonjakan adopsi teknologi berisiko memperlebar jurang kualitas pendidikan antardaerah di Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User