Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral per pertengahan 2026, potensi sumber daya panas bumi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 24 gigawatt (GW), atau hampir 40 persen dari total potensi dunia. Namun kapasitas terpasang yang telah beroperasi baru berada di kisaran 2,5 GW, sehingga masih menyisakan ruang ekspansi yang sangat lebar. Di tengah kondisi itu, Ahmad Yani, sosok yang memimpin Pertamina Geothermal Energy (PGE), resmi dipercaya memegang tampuk kepemimpinan Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) untuk periode 2026-2029.
Keputusan ini diambil melalui mekanisme musyawarah anggota yang berlangsung di Jakarta, dengan Ahmad Yani memperoleh dukungan mayoritas dari para pelaku industri pembangkit listrik tenaga panas bumi. Jabatan ini menempatkan dirinya sebagai jembatan antara pemerintah, badan usaha, dan lembaga keuangan dalam mendorong percepatan pengembangan energi panas bumi nasional. Dengan rekam jejak panjang di sektor hulu migas dan panas bumi, kepemimpinannya dinilai membawa kombinasi pengalaman operasional dan pemahaman pasar energi.
Mandat Baru di Tengah Target Energi Bersih
Terpilihnya Ahmad Yani datang pada momen yang strategis. Pemerintah menargetkan bauran energi baru terbarukan mencapai 23 persen pada 2025, meski realisasinya masih di bawah angka tersebut. Untuk panas bumi, Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) memproyeksikan penambahan kapasitas secara bertahap hingga dekade berikutnya, menjadikan komoditas ini salah satu tulang punggung transisi energi nasional menuju net zero emission pada 2060.
Mandat utama yang diemban API di bawah kepemimpinan barunya antara lain memperjuangkan percepatan perizinan, mendorong skema harga yang menarik bagi investor, serta menyuarakan kebutuhan pendanaan jangka panjang. Asosiasi juga diharapkan aktif mendampingi pengembangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) baru yang selama ini kerap tersendat di tahap eksplorasi.
"Kepemimpinan yang kuat di asosiasi sangat menentukan, karena banyak pekerjaan rumah industri ini bersifat kolektif, mulai dari harmonisasi regulasi hingga pembiayaan eksplorasi berisiko tinggi," ujar seorang peneliti energi dari lembaga riset independen di Jakarta.
Di Satu Sisi: Momentum dan Fundamental yang Menguat
Dari sisi positif, industri panas bumi domestik tengah mengalami tren pertumbuhan yang menjanjikan. Kapasitas terpasang nasional tercatat mengalami kenaikan year-on-year dalam beberapa tahun terakhir, seiring rampungnya sejumlah proyek pengembangan di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Pertumbuhan ini didukung fundamental sumber daya yang melimpah serta karakter pembangkit panas bumi yang mampu beroperasi sebagai beban dasar, tidak tergantung cuaca seperti halnya tenaga surya atau angin.
Dari sisi investor, proyek panas bumi dinilai memiliki profil arus kas yang stabil setelah tahap konstruksi selesai, dengan rasio utilitas yang tinggi. Hal ini menarik minat lembaga pembiayaan multilateral dan bank pembangunan, yang semakin gencar menyalurkan dana hijau. Kehadiran pemimpin industri di kursi asosiasi juga diyakini dapat memperkuat posisi tawar Indonesia di forum internasional, sekaligus membuka pintu bagi masuknya modal swasta ke dalam portofolio energi bersih nasional.
Di Sisi Lain: Tantangan Biaya, Risiko, dan Regulasi
Namun, optimisme tersebut tidak boleh mengabaikan sejumlah pekerjaan rumah yang berat. Pertama, proyek panas bumi bersifat padat modal dengan biaya investasi awal yang tinggi, sementara masa pengembangannya bisa mencapai tujuh hingga sepuluh tahun dari tahap eksplorasi hingga komersial. Risiko kegagalan sumur pada fase pengeboran masih menjadi momok utama, dan hal ini kerap membuat calon investor menahan diri.
Kedua, ketidakpastian regulasi dan skema tarif masih menjadi hambatan struktural. Negosiasi harga jual listrik antara pengembang dan PT PLN (Persero) kerap memakan waktu lama, sehingga margin proyek menjadi tipis di tengah kenaikan biaya material dan peralatan. Di sisi lain, sebagian proyek yang tertunda sempat menimbulkan kekhawatiran terjadinya capital outflow dari sektor ini, karena investor menunggu kejelasan kebijakan sebelum menanamkan dana tambahan.
Belum lagi persoalan pembebasan lahan dan penerimaan masyarakat di sekitar lokasi pengeboran, yang dalam sejumlah kasus memperpanjang jadwal konstruksi. Likuiditas pendanaan jangka panjang juga masih terbatas, mengingat tidak semua bank domestik bersedia mengambil eksposur risiko eksplorasi yang besar.
Proyeksi Jangka Menengah: Sentimen Pasar dan Valuasi
Ke depan, proyeksi industri panas bumi Indonesia sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan keberanian pemerintah menahan risiko di tahap awal pengembangan. Sentimen pasar terhadap sektor ini mulai membaik, tercermin dari meningkatnya minat investor asing terhadap proyek geothermal yang ditawarkan melalui mekanisme lelang WKP. Valuasi perusahaan-perusahaan panas bumi juga dinilai masih menarik dibandingkan sektor energi terbarukan lainnya, meski tetap sensitif terhadap perubahan suku bunga global.
Di satu sisi, percepatan proyek baru dapat mengerek kapasitas terpasang secara signifikan dan memperkuat ketahanan energi nasional. Di sisi lain, tanpa perbaikan iklim investasi yang menyeluruh, target ambisius berisiko kembali meleset seperti yang terjadi pada periode sebelumnya. Kepemimpinan Ahmad Yani di API akan menjadi salah satu faktor penentu apakah industri ini mampu beranjak dari wacana menuju realisasi. Yang jelas, panggung telah disiapkan, dan kini publik menunggu langkah konkret di bawah kepemimpinan barunya.
Comments (0)