Berdasarkan data penyelenggara per Oktober 2026, ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika menghadirkan 30 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal dalam sebuah bazar yang menyertai rangkaian balapan kelas dunia tersebut. Kehadiran puluhan pelaku usaha ini menjadi salah satu sorotan karena berpotensi menggerakkan perekonomian kawasan, khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang selama ini bergantung pada sektor pertanian dan pariwisata.
UMKM yang diterjunkan mencakup beragam sektor, mulai dari kuliner khas daerah, kriya tangan, hingga produk fashion berbasis bahan lokal. Mereka menempati area niaga di sekitar sirkuit sehingga dapat menjangkau penonton domestik maupun mancanegara yang datang selama periode balapan. Angka 30 UMKM ini menjadi lebih besar dibandingkan gelaran tahun-tahun sebelumnya, yang menurut catatan penyelenggara biasanya berkisar belasan hingga dua puluhan pelaku usaha.
Kenaikan Partisipasi dan Proyeksi Nilai Transaksi
Secara year-on-year, jumlah partisipasi UMKM mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Jika pada edisi 2024 tercatat sekitar 20-an pelaku usaha, maka pada 2026 angka itu mendekati 30 peserta, atau naik sekitar 50 persen. Tren ini menunjukkan bahwa penyelenggara mulai menempatkan pemberdayaan usaha kecil sebagai bagian dari fundamental penyelenggaraan event, bukan sekadar pelengkap.
Dari sisi nilai transaksi, penyelenggara memproyeksikan setiap tenant dapat membukukan penjualan di kisaran puluhan juta rupiah selama tiga hari penyelenggaraan. Dengan asumsi 30 UMKM dan rata-rata capaian Rp 15 juta per tenant, potensi perputaran uang di bazar ini mencapai Rp 450 juta. Angka tersebut belum termasuk efek berganda terhadap sektor akomodasi, transportasi, dan jasa lainnya di sekitar Mandalika.
"Event berskala internasional seperti ini menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk menguji produknya di pasar yang lebih luas. Ini bukan hanya soal omzet jangka pendek, tetapi juga soal kurva pembelajaran dan penguatan portofolio usaha," ujar seorang pengamat ekonomi kerakyatan di Mataram.
Di Satu Sisi: Peluang Ekspansi dan Likuiditas Pelaku Usaha
Di satu sisi, kehadiran UMKM di ajang MotoGP memberikan dampak positif terhadap likuiditas pelaku usaha kecil. Dengan lonjakan kunjungan wisatawan, arus kas masuk menjadi lebih deras dalam waktu singkat. Bagi pelaku usaha kuliner, misalnya, momentum ini bisa menjadi ajang memperkenalkan produk khas daerah kepada konsumen dari berbagai negara, memperluas pangsa pasar, dan memperkuat merek lokal.
Selain itu, penyelenggara biasanya menyediakan pendampingan, pelatihan kemasan, dan standar higienitas kepada para pelaku usaha. Hal itu berpotensi meningkatkan kualitas produk, sehingga UMKM tidak lagi hanya berjualan di pasar tradisional, tetapi juga mampu bersaing di segmen modern. Efek jangka panjangnya adalah peningkatan nilai tambah dan daya saing UMKM NTB secara keseluruhan.
Di Sisi Lain: Tantangan Skalabilitas dan Ketergantungan Event
Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa pemberdayaan UMKM berbasis event bersifat musiman. Setelah rangkaian balapan usai, permintaan dapat menurun tajam. Tanpa keberlanjutan pasar, lonjakan omzet selama beberapa hari berisiko tidak berkorelasi dengan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.
Tantangan lain adalah kapasitas produksi. Ketika permintaan melonjak, tidak semua UMKM mampu memenuhi pesanan secara konsisten. Hal ini berkaitan dengan akses permodalan, bahan baku, dan tenaga kerja. Jika tidak diantisipasi, peluang besar justru bisa berubah menjadi sentimen pasar yang negatif ketika konsumen kecewa terhadap kualitas atau ketersediaan produk.
Selain itu, ketimpangan antar-UMKM menjadi catatan. Pelaku usaha yang memiliki jaringan dan modal lebih besar cenderung mendominasi lokasi strategis di area bazar. UMKM pemula berisiko hanya menjadi pelengkap tanpa memperoleh akses pasar yang setara. Diperlukan skema rotasi tenant dan pendampingan berkelanjutan agar manfaat event tersebar lebih merata.
Fundamental Ekonomi Mandalika dan Proyeksi ke Depan
Dari perspektif makro, kontribusi sektor UMKM terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB memang masih didominasi usaha mikro. Data menunjukkan bahwa sektor perdagangan, hotel, dan restoran menjadi penopang utama, dengan kontribusi di atas 20 persen. Karena itu, setiap gelaran event besar memiliki arti penting bagi perputaran ekonomi daerah.
Ke depan, keberhasilan bazar UMKM di Pertamina Grand Prix 2026 akan menjadi indikator apakah Mandalika mampu mengembangkan ekosistem usaha yang mandiri. Bila pelaku usaha dapat menjaga kualitas, memperluas kanal digital, dan membangun kemitraan dengan industri pariwisata, maka capital outflow ke luar daerah dapat ditekan karena belanja wisatawan berputar di komunitas lokal.
Secara keseluruhan, kehadiran 30 UMKM ini adalah langkah awal yang positif, namun bukan tujuan akhir. Pemerintah daerah, penyelenggara, dan pelaku usaha perlu memastikan bahwa dampak positif tidak berhenti saat lampu lintasan padam. Dengan begitu, ajang balapan bukan hanya menyisakan tontonan, melainkan juga warisan ekonomi yang nyata bagi masyarakat Mandalika.
Comments (0)