30 UMKM di Sirkuit Mandalika, Dorong Ekonomi Lokal Berdaya
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per Oktober 2026, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap h...
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per Oktober 2026, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Angka ini menjadikan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian, sekaligus alasan mengapa berbagai ajang berskala internasional kini dirancang untuk memberi ruang bagi pelaku usaha kecil. Salah satu yang terbaru adalah keikutsertaan 30 UMKM dalam bazar yang menyertai gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat.
Langkah ini menjadi contoh bagaimana sebuah event olahraga bertaraf global dapat difungsikan sebagai katalis pertumbuhan ekonomi daerah. Namun di balik narasi positif tersebut, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa dampaknya perlu diukur dengan data, bukan sekadar sentimen pasar sesaat.
Mendorong Pasar Baru bagi Pelaku Usaha Mikro
Menurut keterangan penyelenggara, tiga puluh pelaku UMKM yang terpilih berasal dari berbagai sektor, mulai dari kuliner khas daerah, kriya, fesyen, hingga produk olahan hasil laut. Mereka ditempatkan di area bazar yang menjadi jalur utama penonton, sehingga berpotensi menjangkau ribuan pengunjung domestik maupun mancanegara selama rangkaian acara berlangsung.
Di satu sisi, kehadiran UMKM di ajang bergengsi seperti ini memberikan eksposur yang sulit diperoleh melalui kanal konvensional. Seorang pelaku usaha kuliner asal Lombok menyebut bahwa omzet hariannya melonjak hingga 3 kali lipat dibanding hari biasa selama event berlangsung. Ia juga mengaku mendapat sejumlah pesanan lanjutan dari pembeli luar daerah, yang membuka peluang ekspansi pasar secara year-on-year.
Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai lonjakan tersebut bersifat sementara dan sangat bergantung pada musim event. Tanpa pendampingan pasca-acara, UMKM berisiko kembali ke kondisi awal ketika keramaian berakhir. Karena itu, program semacam ini dinilai perlu disertai pembinaan berkelanjutan, misalnya pelatihan pemasaran digital, sertifikasi produk, dan akses pembiayaan.
"Event besar memang efektif untuk memperkenalkan produk, tetapi tantangan sesungguhnya adalah menjaga keberlanjutan setelah panggung ditutup," ujar seorang analis ekonomi daerah yang tidak ingin disebutkan namanya.
Dampak Berganda dan Tantangan Fundamental
Dari kacamata makro, penyelenggaraan ajang internasional di Mandalika diperkirakan menyumbang tambahan pertumbuhan ekonomi regional. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kunjungan wisatawan ke NTB cenderung mengalami kenaikan pada periode-periode penyelenggaraan event besar, yang berimbas pada sektor akomodasi, transportasi, dan perdagangan.
Pro: Multiplier effect dari belanja wisatawan dapat menggerakkan likuiditas di tingkat lokal, menciptakan permintaan baru, dan memperkuat portofolio produk UMKM. Indeks kepercayaan pelaku usaha di kawasan tersebut juga dilaporkan membaik pada kuartal yang bersangkutan.
Kontra: Ada kekhawatiran bahwa manfaat tersebut tidak terdistribusi merata. UMKM yang tidak terpilih dalam program serupa tetap menghadapi keterbatasan akses pasar, permodalan, dan infrastruktur. Selain itu, risiko capital outflow ke pemasok luar daerah dapat mengurangi nilai tambah yang benar-benar tinggal di NTB.
Sejumlah ekonom menekankan pentingnya evaluasi berbasis data, termasuk mengukur peningkatan pendapatan UMKM secara berkelanjutan, bukan hanya selama event. Rasio keberhasilan pun sebaiknya tidak diukur dari jumlah peserta, melainkan dari pertumbuhan pendapatan, jumlah kontrak lanjutan, dan perluasan jaringan distribusi pasca-acara.
Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan
Jika pola kemitraan antara perusahaan besar, penyelenggara event, dan UMKM terus diperkuat, proyeksi pertumbuhan sektor usaha mikro di kawasan timur Indonesia berpotensi lebih merata. Namun, fundamental seperti kualitas produk, kapasitas produksi, dan akses logistik tetap menjadi penentu utama apakah eksposur sesaat dapat dikonversi menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan.
Pendekatan dua sisi ini menunjukkan bahwa kolaborasi semacam itu bukan obat mujarab, melainkan bagian dari strategi yang lebih luas. Sentimen pasar yang positif perlu diterjemahkan menjadi kebijakan nyata: pendampingan berkelanjutan, penguatan rantai pasok lokal, dan integrasi UMKM ke dalam ekosistem ekonomi daerah. Tanpa itu, geliat ekonomi yang tercipta di sirkuit hanya akan menjadi riak, bukan arus yang menggerakkan perekonomian secara permanen.
Comments (0)