Aug 25, 2026
Bisnis

Zulhas: Kopdes Merah Putih Bukan Supermarket, Fokus Stabilisasi Pangan

Semarang – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menepis kritik bahwa Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMMP) tidak akan mampu bersaing dengan minimarket waralaba maupun waru...

Zulhas: Kopdes Merah Putih Bukan Supermarket, Fokus Stabilisasi Pangan

Semarang – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menepis kritik bahwa Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMMP) tidak akan mampu bersaing dengan minimarket waralaba maupun warung-warung Madura yang menjamur. Dalam sebuah kuliah umum di hadapan mahasiswa, Zulhas justru menegaskan bahwa fungsi dasar Kopdes Merah Putih bukan sebagai pesaing di pasar ritel, melainkan sebagai instrumen stabilisasi harga pangan sekaligus penggerak ekonomi desa yang berbasis komunitas.

Bukan Supermarket, Ini Beda Mendasar Kopdes Merah Putih

Pertanyaan kritis itu muncul dari seorang mahasiswa yang meragukan daya saing koperasi desa di tengah dominasi jaringan minimarket seperti Alfamart dan Indomaret serta ribuan Warung Madura yang telah teruji mampu melayani konsumen dengan jam operasional panjang dan fleksibilitas kredit. Zulhas dengan gamblang memisahkan dua ranah yang berbeda. “Kopdes bukanlah supermarket. Kita tidak akan menjual ribuan item atau mengejar margin setinggi-tingginya. Tugas utama Kopdes adalah memastikan warga desa mendapatkan beras, minyak goreng, gula, telur, dan barang kebutuhan pokok lain dengan harga yang wajar, sesuai harga acuan pemerintah,” jelasnya.

Perbedaan fundamental terletak pada struktur kepemilikan dan misi ekonomi. Sementara minimarket waralaba berorientasi pada laba pemegang saham, Kopdes Merah Putih dimiliki oleh warga desa setempat. Keuntungan yang diperoleh akan dikembalikan kepada anggota dalam bentuk sisa hasil usaha (SHU) atau digunakan untuk pengembangan usaha dan layanan sosial desa. Model ini diperkuat dengan rencana pemerintah membangun 70.000 unit Kopdes di seluruh Indonesia. Tiap unit bakal menerima modal awal sekitar Rp5 miliar yang bersumber dari APBN dan partisipasi masyarakat, sehingga total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp350 triliun dalam beberapa tahun ke depan. Setiap koperasi dilengkapi fasilitas penyimpanan dingin, kendaraan distribusi, dan sistem digital yang menghubungkan petani langsung dengan konsumen, memotong rantai pasok yang selama ini menekan harga di tingkat produsen.

Kritik dan Kekhawatiran Soal Daya Saing

Sejumlah kalangan masih menyuarakan skeptisisme. Pengalaman buruk dengan koperasi-koperasi serupa di masa lalu—yang kerap terbebani mismanajemen, kurangnya profesionalisme, hingga intervensi politik—membuat target ambisius ini diawasi ketat. Minimarket waralaba dan Warung Madura telah membangun loyalitas konsumen melalui kenyamanan, variasi produk, dan kemudahan transaksi non-tunai. Zulhas mengakui bahwa Kopdes tidak akan dan tidak perlu menandingi model bisnis tersebut secara langsung. Sebaliknya, pemerintah merancang Kopdes sebagai pemasok grosir bagi warung-warung kecil dan bahkan menjalin kerja sama dengan minimarket untuk menyalurkan barang bersubsidi pemerintah. Di daerah percontohan, Kopdes sudah berperan sebagai penentu harga eceran tertinggi (HET) di tingkat desa, memastikan tidak ada lonjakan harga di luar kendali.

Merespons kekhawatiran tata kelola, Zulhas menekankan penerapan sistem audit digital berbasis blockchain yang tengah diuji coba. Setiap transaksi akan tercatat real-time dan dapat dipantau oleh aparat desa, pemerintah daerah, hingga masyarakat. “Kita ingin membalik paradigma lama. Kopdes ini bukan proyek titipan. Anak muda, mahasiswa, inilah tempat kalian berkarya menjadi manajer, pengembang aplikasi, atau konsultan keuangan bagi koperasi di desa masing-masing,” ujarnya, mengundang partisipasi generasi muda.

Dampak Ekonomi dan Respons Pasar

Dari kacamata makroekonomi, suntikan dana sebesar Rp350 triliun untuk ribuan koperasi desa berpotensi menjadi pengungkit daya beli di perdesaan yang selama ini tertinggal. Ketika harga pangan stabil dan pendapatan petani membaik karena akses pasar yang lebih adil, konsumsi rumah tangga di desa dapat meningkat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kontribusi konsumsi perdesaan terhadap produk domestik bruto masih di bawah 30 persen—ruang pertumbuhan yang besar jika distribusi pendapatan membaik.

Di satu sisi, kalangan pelaku pasar menyambut proyek ini sebagai katalis bagi industri logistik dan rantai dingin. Permintaan akan truk berpendingin, gudang desa, dan sistem manajemen stok digital diperkirakan melonjak. Di sisi lain, ada kekhawatiran mengenai daya serap anggaran yang masif dan potensi kebocoran apabila pengawasan tidak berjalan ketat. Valuasi saham emiten pangan seperti produsen beras dan minyak goreng bergerak variatif, mencerminkan ekspektasi bahwa Kopdes bisa menjadi kanal distribusi baru yang memangkas peran tengkulak, namun juga bisa membanjiri pasar dengan stok pemerintah yang berdampak pada dinamika harga komoditas.

Zulhas menegaskan bahwa Kopdes bukanlah eksperimen jangka pendek. Program ini dirancang dengan peta jalan hingga 2029, lengkap dengan indikator kinerja seperti penurunan disparitas harga antarwilayah, kenaikan skor kesejahteraan petani, dan jumlah koperasi yang mencapai titik impas. “Kopdes tidak harus untung besar di tahun pertama. Yang utama ia menjadi penjaga stabilitas desa, seperti keberadaan Bulog di tingkat makro. Itu fungsi yang tidak bisa diukur sekadar dari persaingan melawan minimarket,” tutupnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User