Oct 20, 2026
Bisnis

Wondr by BNI Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Digitalisasi di IdeaFest 2026

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Bank Indonesia per awal 2025, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dengan nila...

Wondr by BNI Dorong Ekonomi Kreatif Lewat Digitalisasi di IdeaFest 2026

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Bank Indonesia per awal 2025, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dengan nilai mencapai Rp1.400 triliun pada 2024. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi kreatif terbesar di Asia Tenggara, dengan tren pertumbuhan year-on-year yang konsisten berada di kisaran 5–6 persen. Di tengah momentum tersebut, wondr by BNI kembali menegaskan posisinya sebagai Official Banking Partner dalam IdeaFest 2026, sebuah ajang yang mempertemukan pelaku industri kreatif, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta talenta digital muda.

Digitalisasi sebagai Fondasi Pertumbuhan Ekonomi Kreatif

Pilihan wondr by BNI untuk terlibat dalam IdeaFest 2026 bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Bank Indonesia per Desember 2024, nilai transaksi ekonomi digital nasional diperkirakan menembus USD90 miliar atau setara Rp1.400 triliun sepanjang tahun, dengan kontribusi pembayaran digital yang mengalami kenaikan signifikan. Indeks literasi keuangan digital juga tercatat naik dari 65 persen pada 2023 menjadi sekitar 72 persen pada 2024. Ini menunjukkan bahwa fundamental adopsi teknologi finansial di kalangan pelaku usaha kecil semakin kuat, meski masih menyisakan ruang besar untuk diperluas.

Kehadiran wondr by BNI sebagai mitra perbankan resmi dalam acara bertema "Re:Humanize" ini menekankan peran manusia di tengah derasnya arus kecerdasan buatan. Sentimen pasar terhadap produk digital perbankan memang tengah berada dalam fase ekspansif. Namun, likuiditas dan kecepatan transaksi harus tetap diimbangi dengan pendekatan personal agar pelaku UMKM tidak sekadar menjadi pengguna pasif, melainkan aktor utama transformasi.

"Sektor ekonomi kreatif memiliki potensi luar biasa, tetapi literasi keuangan dan akses pembayaran digital yang merata masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci," ujar seorang ekonom senior yang meneliti transformasi digital UMKM di Jakarta.

Pro dan Kontra Adopsi Pembayaran Digital

Di satu sisi, digitalisasi membuka peluang inklusi keuangan yang lebih luas. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan rasio inklusi keuangan naik dari 85,1 persen pada 2022 menjadi sekitar 88 persen pada 2024. Platform pembayaran berbasis aplikasi memungkinkan pelaku usaha kreatif menerima pembayaran lintas daerah tanpa hambatan geografis, sekaligus memperluas jangkauan portofolio pelanggan. Efisiensi transaksi membuat biaya operasional menurun, dan pencatatan keuangan menjadi lebih rapi sehingga valuasi usaha lebih mudah diukur ketika mengajukan pembiayaan.

Di sisi lain, tantangan tetap membayangi. Sebagian pelaku usaha di daerah masih menghadapi keterbatasan infrastruktur jaringan, biaya kuota, hingga kekhawatiran terhadap keamanan data. Risiko capital outflow melalui transaksi lintas batas digital juga perlu diwaspadai. Selain itu, ketergantungan berlebihan pada algoritma dan otomatisasi berpotensi mengikis sentuhan manusia dalam pelayanan, sebuah ironi di tengah tema Re:Humanize yang mengangkat kembali nilai kemanusiaan.

Proyeksi dan Fundamental Sektor Kreatif 2026

Proyeksi pemerintah menargetkan kontribusi ekonomi kreatif menyentuh 8 persen terhadap PDB pada 2026, dengan subsektor aplikasi dan permainan, desain, serta kriya sebagai motor utama. Keterlibatan institusi keuangan dalam acara berskala besar seperti IdeaFest menjadi sinyal positif bahwa sektor ini dipandang memiliki fundamental yang layak dibiayai, bukan sekadar tren sesaat. Indeks kepercayaan pelaku usaha kreatif terhadap layanan keuangan digital pun dilaporkan mengalami kenaikan pada survei kuartal terakhir.

Meski demikian, analis mengingatkan bahwa pertumbuhan yang sehat memerlukan keseimbangan antara ekspansi teknologi dan perlindungan konsumen. Rasio kredit bermasalah di segmen UMKM yang masih berada di kisaran 3–4 persen menjadi catatan penting. Tanpa pendampingan literasi yang memadai, digitalisasi berisiko menciptakan kesenjangan baru antara pelaku usaha di kota besar dan daerah.

Kehadiran wondr by BNI di IdeaFest 2026 setidaknya mencerminkan arah strategis industri perbankan dalam merangkul ekonomi kreatif. Namun keberhasilan sesungguhnya tidak diukur dari gemerlap panggung acara, melainkan dari seberapa nyata dampaknya bagi pelaku usaha di akar rumput. Selama digitalisasi berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas manusia, sektor ini berpotensi menjadi pilar pertumbuhan yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User