WOM Finance Pertahankan Target Pembiayaan di Tengah Tekanan Suku Bunga

Berdasarkan data Bank Indonesia per Februari 2026, BI Rate bertahan di level 6,25 persen setelah mengalami kenaikan bertahap sepanjang tahun 2025. Kondisi ini mendorong perusahaan pembiayaan untuk mer...

Aug 07, 2026 - 19:27
0 0
WOM Finance Pertahankan Target Pembiayaan di Tengah Tekanan Suku Bunga

Berdasarkan data Bank Indonesia per Februari 2026, BI Rate bertahan di level 6,25 persen setelah mengalami kenaikan bertahap sepanjang tahun 2025. Kondisi ini mendorong perusahaan pembiayaan untuk merancang ulang strategi bisnis mereka. PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) menjadi salah satu pemain yang menunjukkan optimisme dengan mempertahankan target pembiayaan sebesar Rp6,3 triliun hingga akhir tahun 2026. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sekitar 8,2 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,82 triliun.

Diversifikasi Pendanaan sebagai Kunci Utama

Di tengah tren suku bunga tinggi, WOM Finance mengandalkan diversifikasi pendanaan untuk menjaga likuiditas dan menekan biaya dana. Perusahaan tidak lagi bergantung pada satu sumber pendanaan, melainkan mengombinasikan pinjaman bank, penerbitan obligasi, dan fasilitas pembiayaan dari lembaga keuangan non-bank. Berdasarkan laporan keuangan per kuartal III 2025, porsi pinjaman bank mencapai 58 persen dari total pendanaan, sementara obligasi menyumbang 27 persen, dan sisanya berasal dari sumber lainnya. Strategi ini dinilai mampu mengurangi risiko konsentrasi dan menjaga fleksibilitas dalam menghadapi fluktuasi suku bunga.

Di satu sisi, diversifikasi pendanaan memberikan keuntungan berupa akses yang lebih luas ke pasar modal dan perbankan. Direktur Keuangan WOM Finance menyatakan bahwa perusahaan telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 15 bank domestik dan asing, serta menerbitkan obligasi berkelanjutan dengan total plafon Rp2 triliun. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk memilih instrumen dengan biaya paling efisien. Di sisi lain, tantangan muncul dari meningkatnya biaya penerbitan obligasi yang mengikuti kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang kini berada di kisaran 7,1 persen. Meskipun demikian, manajemen optimistis bahwa margin pembiayaan tetap terjaga karena penyesuaian suku bunga kredit telah dilakukan secara selektif.

Proyeksi Pertumbuhan dan Sentimen Pasar

Proyeksi pertumbuhan pembiayaan WOM Finance sebesar 8,2 persen year-on-year (yoy) didukung oleh fundamental ekonomi yang masih solid. Berdasarkan data BPS per Januari 2026, penjualan sepeda motor baru tumbuh 4,5 persen yoy, sementara penjualan mobil bekas meningkat 6,1 persen. Kedua segmen ini merupakan portofolio utama WOM Finance, dengan komposisi sekitar 60 persen untuk sepeda motor dan 40 persen untuk mobil bekas. Sentimen pasar juga menunjukkan perbaikan, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang naik ke level 125,8 pada Januari 2026, naik dari 123,4 pada bulan sebelumnya.

Pro: Pertumbuhan ekonomi domestik yang stabil dan daya beli masyarakat yang terjaga menjadi pendorong utama permintaan pembiayaan. Konsumen cenderung tetap membutuhkan kendaraan untuk mobilitas, terutama di daerah tier-2 dan tier-3 yang menjadi fokus ekspansi WOM Finance. Kontra: Risiko capital outflow masih membayangi pasar keuangan Indonesia, terutama jika The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya. Hal ini dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan meningkatkan biaya dana perusahaan. Selain itu, rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) perlu diawasi, meskipun saat ini masih terkendali di level 2,8 persen, sedikit naik dari 2,5 persen pada tahun sebelumnya.

Strategi Penyaluran dan Efisiensi Operasional

Untuk mencapai target Rp6,3 triliun, WOM Finance memperluas jaringan pemasaran ke daerah-daerah yang belum tergarap maksimal. Perusahaan menargetkan penambahan 50 titik pemasaran baru di luar Jawa, dengan fokus pada Kalimantan dan Sulawesi. Selain itu, digitalisasi proses pengajuan kredit menjadi prioritas untuk mempercepat persetujuan dan mengurangi biaya operasional. Berdasarkan data internal, sekitar 45 persen pengajuan kini dilakukan melalui platform digital, meningkat dari 30 persen pada tahun 2025. Efisiensi ini diharapkan dapat menekan rasio biaya operasional terhadap pendapatan (BOPO) dari 89,5 persen menjadi 87 persen pada akhir tahun 2026.

Menurut analis ekonomi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, strategi diversifikasi pendanaan yang dilakukan WOM Finance merupakan langkah tepat di tengah ketidakpastian suku bunga. "Mereka tidak bergantung pada satu sumber dana, sehingga risiko likuiditas dapat diminimalkan. Namun, perlu diingat bahwa permintaan pembiayaan juga sangat sensitif terhadap suku bunga," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Dengan kombinasi diversifikasi pendanaan, ekspansi geografis, dan digitalisasi, WOM Finance optimistis dapat mencapai target meskipun suku bunga masih tinggi. Namun, perusahaan tetap waspada terhadap potensi perlambatan ekonomi global dan gejolak pasar keuangan. Manajemen berkomitmen untuk menjaga rasio kecukupan modal (CAR) di atas 30 persen, jauh di atas ketentuan minimum OJK sebesar 12 persen, sebagai bantalan jika terjadi kondisi yang tidak diinginkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User