Waspadai Modus Baru Kejahatan M-Banking, Rekening Bisa Terkuras

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan laporan industri perbankan nasional per akhir 2024, insiden penipuan digital yang menyasar nasabah perbankan digital mengalami kenaikan signifikan. Ni...

Oct 11, 2026 - 17:21
0 0
Waspadai Modus Baru Kejahatan M-Banking, Rekening Bisa Terkuras

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan laporan industri perbankan nasional per akhir 2024, insiden penipuan digital yang menyasar nasabah perbankan digital mengalami kenaikan signifikan. Nilai kerugian akibat kejahatan siber di sektor keuangan diperkirakan menembus angka triliunan rupiah, dengan modus yang terus berevolusi setiap kuartal. Bagi masyarakat awam, istilah m-banking atau mobile banking merujuk pada layanan transaksi perbankan yang diakses lewat aplikasi di ponsel pintar. Kemudahan ini di satu sisi mendorong inklusi keuangan, namun di sisi lain membuka celah baru bagi pelaku kejahatan.

Anatomi Modus Baru yang Mengincar Saldo Rekening

Di satu sisi, pelaku kejahatan kini tidak lagi sekadar mengirim tautan palsu melalui pesan singkat. Pola terbaru menunjukkan kombinasi social engineering atau rekayasa sosial dengan penyadapan data teknis. Pelaku berpura-pura menjadi petugas bank, mengaku dari otoritas moneter, hingga mengirim berkas aplikasi berkedok pembaruan sistem. Korban diminta mengisi data pribadi seperti nomor kartu, PIN, dan one-time password (OTP), yaitu kode verifikasi sekali pakai yang seharusnya bersifat rahasia.

Di sisi lain, sebagian ahli menilai industri perbankan sudah meningkatkan lapisan keamanan secara material. Rasio keberhasilan pembobolan akun lewat celah sistem inti bank relatif rendah, karena kini banyak institusi menerapkan autentikasi berlapis dan pemantauan transaksi mencurigakan secara real-time. Artinya, banyak kasus justru terjadi karena kelalaian pengguna, bukan kegagalan fundamental teknologi bank.

"Sebagian besar insiden bermula dari korban yang menyerahkan data akses secara sukarela karena tertekan atau tertipu. Edukasi nasabah jauh lebih menentukan dibanding penambahan fitur keamanan semata," ujar sejumlah pengamat keamanan siber dalam berbagai forum industri.

Pro dan Kontra Literasi Digital Nasabah

Pro: Tingkat literasi digital masyarakat dilaporkan meningkat. Indeks literasi keuangan dan digital versi otoritas terkait menunjukkan tren naik dibanding periode lima tahun lalu. Nasabah kini lebih familiar dengan istilah phishing (penipuan lewat tautan palsu), smishing (penipuan lewat SMS), dan spoofing (pemalsuan identitas). Kemampuan mengenali ciri-ciri aplikasi ilegal juga membaik, terutama di kalangan usia produktif di kota besar.

Kontra: Kesenjangan pemahaman masih lebar. Kelompok lanjut usia, pelaku usaha mikro, dan pengguna baru sering menjadi sasaran empuk. Survei internal perbankan memperkirakan sekitar 60 persen hingga 70 persen nasabah belum pernah memeriksa izin aplikasi di ponselnya atau mengaktifkan notifikasi transaksi. Sentimen pasar terhadap keamanan digital pun fluktuatif, sewaktu-waktu melemah ketika kasus besar mencuat ke permukaan.

Langkah Perlindungan yang Bisa Diterapkan Nasabah

Pertama, jaga kerahasiaan kredensial. PIN, password, dan OTP tidak boleh diberikan kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku petugas resmi. Bank tidak pernah meminta data tersebut melalui telepon, pesan, atau tautan. Jika ada permintaan semacam itu, patut dicurigai sebagai upaya penipuan.

Kedua, batasi izin aplikasi. Banyak kasus bermula dari aplikasi tidak resmi yang meminta akses ke SMS dan notifikasi. Padahal, izin tersebut dapat dipakai membaca OTP secara otomatis. Unduh aplikasi hanya dari toko resmi, dan periksa ulasan serta jumlah penggunanya.

Ketiga, aktifkan notifikasi transaksi dan autentikasi dua faktor. Fitur ini memungkinkan nasabah memantau setiap pergerakan saldo. Jika ada transaksi mencurigakan, pelaporan cepat ke call center bank dapat memperbesar peluang pemulihan dana. Dari sisi industri, likuiditas dan kepercayaan nasabah merupakan fondasi stabilitas, sehingga respons cepat menjadi penting.

Keempat, perbarui perangkat lunak secara berkala. Sistem operasi dan aplikasi keamanan yang usang rentan terhadap eksploitasi. Hindari pula bertransaksi melalui jaringan Wi-Fi publik tanpa perlindungan tambahan.

Kelima, gunakan rekening terpisah untuk transaksi harian dan penyimpanan dana besar. Strategi portofolio rekening ini mengurangi eksposur jika satu akun berhasil dibobol. Dari kacamata fundamental, pemisahan risiko semacam ini menyerupai prinsip diversifikasi dalam investasi.

Proyeksi dan Sikap Industri

Ke depan, proyeksi menunjukkan volume transaksi digital akan terus tumbuh dua digit secara year-on-year. Namun, jumlah insiden penipuan berpotensi ikut meningkat apabila literasi tidak mengejar kecepatan adopsi teknologi. Otoritas berencana memperketat pengawasan terhadap penyedia jasa pembayaran dan memperluas program edukasi. Bank juga didorong memperkuat sistem deteksi dini berbasis kecerdasan buatan.

Bagi nasabah, pesan utamanya sederhana: kewaspadaan adalah benteng pertama. Teknologi canggih tidak akan banyak berarti jika data akses diserahkan sendiri kepada pelaku. Dengan memahami modus, memperketat izin aplikasi, serta respons cepat saat ada kejanggalan, risiko rekening terkuras dapat ditekan secara bermakna. Kepercayaan pada sistem keuangan digital hanya bisa terjaga jika perlindungan berjalan seiring dengan kenyamanan bertransaksi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User