Waspada Kekeringan: 10 Kecamatan di NTB Ditetapkan BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan penetapan status waspada kekeringan meteorologi di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Barat. Setidaknya 10 kecamatan yang tersebar di enam ...

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan penetapan status waspada kekeringan meteorologi di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Barat. Setidaknya 10 kecamatan yang tersebar di enam kabupaten kini masuk kategori siaga akibat minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir. Langkah ini diambil sebagai bagian dari sistem peringatan dini untuk mengantisipasi potensi krisis air dan gagal panen di daerah yang bergantung pada sektor pertanian tadah hujan.

10 Kecamatan dalam Status Waspada

Berdasarkan pemetaan terbaru BMKG, kecamatan yang paling awal menunjukkan indikasi kekeringan meteorologi adalah Gerung dan Lembar di Kabupaten Lombok Barat. Kedua wilayah tersebut mencatat hari tanpa hujan (HTH) berturut-turut yang cukup panjang, yakni lebih dari 30 hari. Selain itu, delapan kecamatan lain yang juga masuk dalam daftar waspada adalah Praya Barat dan Pujut di Lombok Tengah, Sakra dan Terara di Lombok Timur, Utan dan Sumbawa di Kabupaten Sumbawa, Dompu di Kabupaten Dompu, serta Woha di Kabupaten Bima.

Enam kabupaten yang menjadi lokasi persebaran status waspada tersebut meliputi Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu, dan Bima. Penetapan status didasarkan pada ambang HTH di atas 30 hari yang disertai prakiraan peluang hujan sangat rendah dalam 10 hari ke depan. Kategori waspada ini merupakan level terendah dari tiga tingkatan kekeringan meteorologi yang diterbitkan BMKG, sebelum meningkat menjadi siaga dan awas.

Penyebab dan Prognosis Cuaca

Munculnya status waspada kekeringan di NTB tidak lepas dari fenomena musim kemarau yang dipengaruhi oleh menguatnya El Niño pada level moderat serta anomali suhu permukaan laut di sekitar perairan Indonesia bagian timur yang cenderung lebih dingin. Kondisi ini menghambat proses penguapan dan pembentukan awan hujan, sehingga sebagian besar wilayah NTB hanya menerima curah hujan di bawah 20 mm per dasarian.

Data satelit BMKG menunjukkan bahwa dalam dua minggu terakhir, tutupan awan di atas Pulau Lombok dan Sumbawa sangat minim. Prediksi untuk satu hingga dua bulan ke depan juga masih menempatkan NTB pada zona merah kekeringan meteorologi. Oleh karena itu, status waspada ini diperkirakan dapat bertahan hingga akhir musim kemarau atau hingga munculnya awal musim hujan yang diprakirakan baru tiba pada akhir November di sebagian besar wilayah NTB.

Dampak dan Saran BMKG

Kekeringan meteorologi yang melanda 10 kecamatan ini berpotensi mengganggu ketersediaan air bersih bagi lebih dari 50 ribu jiwa serta mengancam ribuan hektare lahan pertanian, terutama di daerah yang mengandalkan irigasi sederhana. Di Kecamatan Gerung dan Lembar, sejumlah petani mulai melaporkan penurunan debit sumur dan mata air. Sementara itu, di wilayah Sumbawa dan Dompu, sawah tadah hujan terancam puso karena pasokan air yang terus menyusut.

BMKG menyarankan pemerintah kabupaten dan provinsi untuk segera menyiapkan langkah mitigasi, seperti penyediaan tangki air bersih, normalisasi embung, serta distribusi pompa air ke wilayah terdampak. Masyarakat juga diimbau untuk menghemat penggunaan air, menghindari pembakaran lahan di musim kering, serta memanfaatkan prakiraan cuaca harian yang diperbarui secara berkala melalui kanal resmi BMKG. Kepala Stasiun Klimatologi NTB menegaskan bahwa pemantauan akan terus dilakukan dan status dapat dinaikkan sewaktu-waktu jika kondisi memburuk.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User