Vietnam dan Filipina Kini Berpendapatan Menengah Atas, Airlangga Ingatkan RI Lebih Dahulu

Dua negara Asia Tenggara, Vietnam dan Filipina, resmi menyandang status negara berpendapatan menengah ke atas (upper middle income) dalam klasifikasi terbaru Bank Dunia. Pencapaian ini menandai loncat...

Vietnam dan Filipina Kini Berpendapatan Menengah Atas, Airlangga Ingatkan RI Lebih Dahulu

Dua negara Asia Tenggara, Vietnam dan Filipina, resmi menyandang status negara berpendapatan menengah ke atas (upper middle income) dalam klasifikasi terbaru Bank Dunia. Pencapaian ini menandai loncatan signifikan dalam peta ekonomi kawasan, namun pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Indonesia telah mencapai status tersebut lebih dahulu dan kini tengah fokus melangkah ke jenjang berikutnya: negara berpendapatan tinggi.

Klasifikasi terbaru yang dirilis Bank Dunia per 1 Juli 2024 menggunakan data Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per kapita tahun 2023. Vietnam mencatat PNB per kapita sebesar 4.010 dolar AS, sementara Filipina menyentuh 4.230 dolar AS. Kedua angka ini melampaui ambang batas terendah kategori menengah atas, yaitu 4.046 dolar AS. Sementara itu, Indonesia sendiri telah berada di level menengah atas sejak 2020 dengan PNB per kapita kini berkisar 4.580 dolar AS. Dengan demikian, posisi Indonesia sejatinya masih lebih tinggi secara nominal, meski jurangnya tidak terlalu lebar.

Kenaikan Kelas Vietnam dan Filipina: Cerminan Reformasi Struktural

Lonjakan status Vietnam tidak terlepas dari konsistensi pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada ekspor manufaktur, investasi asing langsung (FDI), dan stabilitas makroekonomi yang terjaga. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa selama periode 2018–2023, rata-rata pertumbuhan PDB riil Vietnam mencapai hampir 6 persen per tahun, jauh di atas rerata global. Sektor elektronik, tekstil, dan alas kaki menjadi motor penggerak, didukung oleh relokasi rantai pasok global yang memindahkan basis produksi dari Tiongkok ke Vietnam.

Filipina, di sisi lain, mengalami akselerasi pasca-pandemi yang cukup impresif. Didorong oleh lonjakan konsumsi domestik dan pengiriman uang dari pekerja migran (remitansi) yang mencapai 37,2 miliar dolar AS pada 2023, perekonomian Filipina tumbuh 5,6 persen tahun lalu. Sektor jasa, terutama business process outsourcing (BPO) dan pariwisata, ikut menopang peningkatan pendapatan nasional. Kenaikan kelas ini memperkuat optimisme bahwa kedua negara dapat keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) dalam satu dekade mendatang.

Respons Airlangga: Indonesia Sudah Lebih Dulu, Kini Fokus ke High-Income

Menanggapi eksposur media yang ramai memuji pencapaian Vietnam dan Filipina, Menko Airlangga menekankan bahwa Indonesia tidak perlu berkecil hati. “Indonesia sudah masuk upper middle income sejak 2020, lebih awal dari Vietnam maupun Filipina. Sekarang fokus kita adalah keluar dari middle income trap dan menuju high income per 2045, sesuai Visi Indonesia Emas,” ujarnya dalam sebuah forum ekonomi di Jakarta, Selasa (2/7).

Pernyataan Airlangga merujuk pada data historis Bank Dunia yang mencatat Indonesia naik kelas pada Juli 2020, saat PNB per kapita menyentuh 3.870 dolar AS (saat itu ambang batasnya sedikit lebih rendah). Sejak itu, Indonesia sempat turun kelas ke lower middle income pada 2021 akibat kontraksi pandemi, namun kembali ke upper middle income pada 2022. Kini dengan PNB per kapita di 4.580 dolar AS, Indonesia berada di posisi yang relatif nyaman, meski harus waspada terhadap dinamika global yang dapat menggerus pendapatan.

Lebih lanjut Airlangga menyoroti pentingnya hilirisasi industri sebagai strategi kunci untuk mendongkrak nilai tambah dan pendapatan per kapita secara signifikan. “Dengan hilirisasi, kami menargetkan PNB per kapita bisa menembus 7.000–8.000 dolar AS dalam 10 tahun. Ini modal penting agar kita tidak sekadar numpang lewat di upper middle income, tapi benar-benar melesat ke high income,” tegasnya.

Tantangan Kolektif ASEAN: Jebakan Pendapatan Menengah

Naiknya Vietnam dan Filipina menambah daftar panjang negara ASEAN yang kini berstatus menengah atas, selain Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Malaysia bahkan sudah berada di ambang high income dengan PNB per kapita di atas 11.000 dolar AS. Namun, para ekonom mengingatkan bahwa status ini bukanlah jaminan keberlanjutan. Prof. Rizal Sukma, ekonom senior CSIS, mengingatkan bahwa “risiko penurunan kelas (downgrade) tetap membayangi jika fondasi ekonomi tidak diperkuat melalui diversifikasi dan inovasi.”

Kawasan ASEAN menghadapi tantangan struktural yang mirip: ketergantungan pada ekspor komoditas atau manufaktur padat karya, tingkat informalitas tenaga kerja yang masih tinggi, serta perlunya percepatan transisi digital dan hijau. Indonesia, misalnya, harus mendorong kontribusi industri pengolahan non-migas terhadap PDB yang saat ini masih stagnan di kisaran 18 persen. Sementara Vietnam perlu naik kelas dari perakitan menjadi penciptaan merek dan desain sendiri agar tidak terjebak di posisi upah rendah.

Respon Pasar dan Prospek Investasi

Dari sisi sentimen pasar, reklasifikasi ini memberikan sinyal positif bagi investor global. Indeks saham Vietnam (VN-Index) dan Filipina (PSEi) mengalami penguatan tipis pasca pengumuman. Analis menilai peningkatan status ini dapat menurunkan persepsi risiko (risk premium) dan membuka akses ke sumber pembiayaan yang lebih murah. Namun, di sisi lain, kenaikan kelas juga berarti kedua negara akan kehilangan beberapa fasilitas perdagangan preferensial yang selama ini dinikmati negara berpendapatan rendah, seperti tarif bebas bea dari Uni Eropa.

Bagi Indonesia, Airlangga optimistis bahwa fundamental ekonomi yang solid—inflasi terkendali di 2,84 persen pada Juni 2024, cadangan devisa 139 miliar dolar AS, dan pertumbuhan kredit yang tetap ekspansif—akan menjaga kepercayaan investor. Pemerintah menargetkan realisasi investasi triwulan II 2024 mencapai Rp428 triliun, atau tumbuh sekitar 15 persen secara year-on-year.

Dengan demikian, rivalitas sehat di kawasan justru menjadi katalis bagi reformasi domestik. Pencapaian Vietnam dan Filipina tidak sepatutnya dijadikan ajang perbandingan sempit, melainkan momentum bagi seluruh negara ASEAN untuk berlomba membangun ketahanan ekonomi menuju kemakmuran bersama.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User