Aug 26, 2026
Hukum

Urban Foraging Memburu Pangan Liar Kian Populer di Kota Afrika Selatan

Di tengah gemerlap gedung pencakar langit Johannesburg dan permukiman padat Cape Town, sebuah gerakan sunyi tengah tumbuh. Warga kota berjalan menelusuri t

Urban Foraging Memburu Pangan Liar Kian Populer di Kota Afrika Selatan

Di tengah gemerlap gedung pencakar langit Johannesburg dan permukiman padat Cape Town, sebuah gerakan sunyi tengah tumbuh. Warga kota berjalan menelusuri taman, pinggir jalan, dan lahan kosong membawa keranjang—bukan untuk membuang sampah, melainkan untuk memanen. Daun kelor, buah marula, jamur liar, dan sayuran hijau tradisional seperti imbuya kini menjadi buruan. Fenomena yang dikenal sebagai urban foraging atau pemanenan pangan liar di perkotaan ini berkembang pesat di seluruh kota-kota Afrika Selatan.

Praktik ini bukan sekadar tren gaya hidup. Bagi banyak warga, meramu merupakan jembatan antara masa lalu dan masa kini—cara mempertahankan pengetahuan kuliner leluhur sekaligus strategi menghadapi harga pangan yang terus menanjak. Penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh akademisi dari universitas-universitas Afrika Selatan mengonfirmasi bahwa aktivitas ini memberikan manfaat ganda: ketahanan pangan rumah tangga dan kesejahteraan psikologis bagi para peramunya.

Pangan Gratis, Warisan Budaya yang Hidup Kembali

Bagi generasi tua, meramu di perkotaan adalah cara mengenalkan anak cucu pada warisan budaya. Tanaman-tanaman liar yang dulu menjadi makanan pokok masyarakat pribumi kini kembali masuk ke dapur-dapur urban. Seorang peramus veteran di Cape Town yang telah puluhan tahun memanen tanaman liar mengungkapkan makna mendalam dari aktivitas tersebut.

"Ketika saya memanen daun liar bersama cucu saya, saya tidak hanya memberinya makan. Saya mewariskan pengetahuan yang tidak akan pernah dia temukan di supermarket," ujarnya.

Narasi serupa terdengar dari berbagai sudut kota. Di Durban, komunitas peramus berkumpul secara rutin untuk saling berbagi lokasi panen yang aman. Di Pretoria, ibu-ibu rumah tangga menjadikan sayuran liar sebagai pelengkap ekonomis menu harian keluarga. Yang jelas, praktik ini telah menyatu dalam denyut kehidupan urban Afrika Selatan lintas garis rasial dan kelas sosial.

Ruang Hijau Ada, Aturan Main Belum Jelas

Meski populer, para peramus menghadapi tantangan serius: tidak ada kerangka hukum yang jelas yang mengatur aktivitas meramu di wilayah perkotaan. Sebagian taman kota melarang pemanenan apa pun, sementara lahan-lahan kosong kerap tercemar pestisida atau limbah industri. Ketidakpastian ini membuat para peramus beroperasi dalam area abu-abu yang rawan konflik dengan petugas kebersihan kota maupun pengelola properti.

Para peneliti mendorong pemerintah kota untuk tidak memandang urban foraging sebagai ancaman, melainkan peluang tata kelola. Beberapa rekomendasi konkret telah dirumuskan:

  • Pembentukan zona meramu resmi di taman kota dan ruang hijau publik
  • Penyusunan panduan pemanenan berkelanjutan agar biodiversitas tetap terjaga
  • Sosialisasi identifikasi tanaman aman untuk mencegah keracunan
  • Kolaborasi antara pemkot, komunitas lokal, dan ahli botani

Model serupa telah berhasil diterapkan di sejumlah kota dunia. Perbandingan pendekatan menunjukkan perbedaan mencolok:

PendekatanContoh KotaDampak
Zona meramu resmiSeattle, ASPangan gratis legal & terkelola
Larangan totalBanyak kota globalAktivitas ilegal & konflik
Tidak diaturMayoritas kota AfrikaRisiko kontaminasi & eksploitasi

Menyeimbangkan Manusia dan Ekosistem Kota

Kritik terhadap urban foraging umumnya berfokus pada potensi kerusakan lingkungan—pemanenan berlebihan dapat memangkas populasi tanaman asli dan mengganggu habitat satwa. Namun para ahli menegaskan bahwa masalahnya bukan pada aktivitas meramu itu sendiri, melainkan pada absennya manajemen yang bijaksana.

"Dengan perencanaan yang tepat, kota bisa memanen dua manfaat sekaligus: warga yang lebih sehat dan ekosistem perkotaan yang lebih lestari," jelas salah satu peneliti yang terlibat dalam kajian tersebut.

Ke depan, kota-kota Afrika Selatan berdiri di persimpangan penting. Urban foraging sudah terjadi, tumbuh dari bawah, digerakkan warga sendiri. Pertanyaannya bukan lagi apakah praktik ini harus ada, melainkan bagaimana pemerintah kota merangkulnya secara terstruktur. Jika jawabannya tepat, rerumputan di pinggir trotoar hari ini bisa menjadi ladang pangan masa depan—dan simbol kota yang hidup berdampingan dengan alamnya.

[SOCIAL_TWEET]: Warga kota Afrika Selatan ramai-ramai "berburu" pangan gratis di taman dan pinggir jalan. Tren urban foraging naik daun—kini pemerintah kota diminta segera menyusun aturan mainnya. #UrbanForaging #KetahananPangan[SOCIAL_TG]: 🌿 URBAN FORAGING MENDUNIA — Di Afrika Selatan, warga kota kini memanen pangan liar di taman dan lahan kosong. Penelitian menunjukkan manfaat besar untuk ketahanan pangan dan kesejahteraan mental. Tapi ada satu masalah: belum ada aturan main. Simak analisis lengkapnya hanya di Beritadua.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User