Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto nasional mencapai sekitar 61 persen, dengan serapan tenaga kerja mencapai 97 persen dari total angkatan kerja. Namun, dari sekitar 65 juta unit usaha yang terdaftar, baru sekitar 15,7 persen yang berhasil menembus pasar ekspor. Angka ini menunjukkan bahwa kapasitas UMKM untuk berorientasi global masih menyisakan ruang besar yang belum tergarap secara optimal, terutama bagi pelaku usaha di kawasan Indonesia timur.
Salah satu contoh nyata datang dari Sukma Ayu Mayangsari, pendiri PT MJEthnic Craft Indonesia yang berbasis di Jayapura, Papua. Usaha yang ia rintis bergerak di bidang kerajinan etnik dengan memanfaatkan motif dan kearifan lokal Papua. Melalui serangkaian program pelatihan ekspor yang difasilitasi perbankan nasional, produknya kini mulai menjangkau pembeli di mancanegara.
Kinerja Ekspor UMKM di Tengah Tekanan Global
Merujuk data Badan Pusat Statistik per Februari 2024, nilai ekspor nasional tercatat US$19,31 miliar, atau mengalami penurunan sekitar 4,15 persen secara year-on-year dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tren perlambatan ini dipicu oleh melemahnya permintaan dari negara mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Uni Eropa, serta tekanan harga komoditas global.
Di satu sisi, kondisi tersebut mencerminkan tingginya ketergantungan ekspor Indonesia pada komoditas mentah dan sektor padat modal, sehingga guncangan eksternal langsung terasa pada kinerja neraca dagang. Sentimen pasar global yang masih dibayangi ketidakpastian suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga memperkuat capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi lain, ekspor produk jadi berbasis kriya dan manufaktur kreatif justru menunjukkan ketahanan. Data Kementerian Perdagangan mencatat ekspor produk ekonomi kreatif pada 2023 mencapai US$26,6 miliar, tumbuh sekitar 8,9 persen. Segmen ini memiliki nilai tambah lebih tinggi, tidak terlalu terpapar volatilitas harga komoditas, dan menyerap tenaga kerja secara masif di daerah.
Peran Pendampingan dan Literasi Ekspor bagi Pelaku Usaha
Kendala utama UMKM untuk masuk pasar ekspor bukan semata permodalan, melainkan rendahnya pemahaman atas prosedur kepabeanan, standar mutu, sertifikasi, hingga kemampuan negosiasi dengan buyer internasional. Rasio literasi ekspor pelaku UMKM diperkirakan baru sekitar 20 persen, artinya mayoritas belum memahami rantai pasok global secara utuh.
Dalam konteks inilah program pelatihan dan pendampingan menjadi krusial. Intervensi perbankan melalui pembiayaan, pelatihan, dan fasilitasi kurasi produk membantu UMKM beralih dari orientasi pasar domestik menuju portofolio pasar yang lebih terdiversifikasi. Bagi pelaku di Papua, tantangan bertambah dengan faktor logistik dan biaya pengiriman yang relatif lebih tinggi dibanding Jawa, sehingga efisiensi kemasan dan pemilihan moda transportasi menjadi penentu margin.
"UMKM yang naik kelas bukan yang hanya mampu memproduksi, tetapi yang mampu membaca standar pasar global, mengelola likuiditas, dan menjaga konsistensi kualitas," ujar seorang pengamat ekonomi kerakyatan.
Dari sisi valuasi usaha, keikutsertaan dalam pasar ekspor umumnya meningkatkan pendapatan tiga hingga lima kali dibanding pasar lokal, meskipun risiko fluktuasi kurs dan permintaan harus dikelola. Pelaku yang bertahan cenderung memiliki fundamental produksi kuat serta kemampuan beradaptasi pada tren desain dan keberlanjutan.
Proyeksi dan Tantangan ke Depan
Pemerintah menargetkan kontribusi ekspor UMKM mencapai 17 persen dari total ekspor nasional dalam beberapa tahun mendatang. Untuk mencapainya, dibutuhkan sinergi antara pembiayaan, sertifikasi, dan akses jaringan pasar internasional. Pro: pendekatan ini berpotensi mendorong pemerataan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja di daerah. Kontra: tanpa perbaikan infrastruktur logistik dan stabilitas nilai tukar, target tersebut berisiko hanya menyentuh UMKM di wilayah tertentu.
Kisah kerajinan Papua yang menembus pasar global menunjukkan bahwa peluang ekspor tidak lagi terbatas pada korporasi besar. Dengan pendampingan yang tepat, produk berbasis kearifan lokal dapat menjadi instrumen penguatan struktur ekspor nasional yang lebih inklusif.
Comments (0)