Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per 2024, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap produk domestik bruto nasional, dengan subsektor kriya menjadi salah satu penyumbang terbesar. Di tengah tren tersebut, sebuah usaha bernama EKKYTA yang berbasis di Semarang menunjukkan bagaimana hobi sederhana dapat bertransformasi menjadi unit usaha formal yang berkelanjutan. Pendirinya, Indah Prihatiningsih, memulai perjalanan ini dari aktivitas merajut yang awalnya hanya pengisi waktu luang, sebelum akhirnya membentuk identitas bisnis yang lebih terstruktur dengan penekanan pada inovasi produk dan pemberdayaan masyarakat sekitar.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Laporan Bank Indonesia mengenai ekonomi kreatif menyebutkan bahwa pelaku usaha mikro di subsektor kriya menghadapi tantangan klasik: keterbatasan modal kerja, akses pasar yang sempit, serta kapasitas produksi yang belum terstandarisasi. Namun, di sisi lain, permintaan pasar terhadap produk handmade dan ramah lingkungan mengalami tren kenaikan year-on-year, terutama di kota-kota besar dan pasar ekspor niche. Inilah yang membuat kisah EKKYTA relevan untuk dibaca lebih jauh, bukan semata sebagai kisah inspiratif, melainkan sebagai potret fundamental usaha kecil yang mencoba bertahan di tengah tekanan likuiditas dan persaingan impor.
Dari Hobi Menjadi Unit Usaha Formal
Indah memulai usaha ini dengan pola yang lazim ditemui pada pelaku UMKM pemula: produksi dilakukan dari rumah, tenaga kerja terbatas, dan pemasaran mengandalkan jaringan personal. Seiring waktu, ia mengarahkan bisnisnya pada diferensiasi produk, bukan sekadar bersaing di harga. Strategi ini sejalan dengan temuan lembaga riset bahwa usaha kriya yang bertahan lebih dari lima tahun umumnya memiliki ciri khas desain dan cerita merek yang kuat.
Dalam konteks ekonomi, langkah tersebut mencerminkan upaya membangun nilai tambah, yaitu selisih antara biaya bahan baku dan harga jual yang mampu ditawarkan ke konsumen. Pada produk rajut, nilai tambah bisa sangat bervariasi, bergantung pada tingkat kerumitan motif, kualitas benang, dan waktu pengerjaan. Jika dikelola dengan pencatatan yang disiplin, margin usaha kriya dapat mencapai kisaran dua digit, meskipun sangat sensitif terhadap fluktuasi harga bahan baku impor dan nilai tukar rupiah.
Pelatihan Masyarakat sebagai Strategi Jangka Panjang
Salah satu aspek yang membedakan EKKYTA adalah keterlibatan dalam pelatihan bagi masyarakat sekitar. Program semacam ini memiliki dua perspektif yang perlu ditimbang secara berimbang.
Di satu sisi, pelatihan keterampilan meningkatkan kapasitas komunitas, membuka peluang pendapatan tambahan bagi warga, dan memperluas basis pasokan tenaga kerja terampil bagi usaha itu sendiri. Ini menciptakan efek berganda pada perekonomian lokal, terutama di kota seperti Semarang yang memiliki biaya hidup moderat dan potensi pasar domestik yang cukup besar.
Di sisi lain, program pemberdayaan sering kali menghadapi kendala keberlanjutan. Tanpa pendampingan bisnis yang berkelanjutan, banyak peserta pelatihan kembali ke pekerjaan semula karena keterbatasan akses pasar dan modal lanjutan. Data dari berbagai program inkubasi menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil peserta yang benar-benar melanjutkan usaha secara mandiri setelah pelatihan berakhir. Artinya, pelatihan saja tidak cukup tanpa ekosistem pembiayaan dan pemasaran yang menopang.
"Usaha kriya yang tumbuh berkelanjutan biasanya adalah yang mampu menggabungkan inovasi produk dengan kedisiplinan manajemen keuangan. Tanpa itu, pertumbuhan hanya bersifat sementara," ujar seorang pengamat ekonomi kreatif dalam sebuah forum diskusi UMKM.
Prospek dan Tantangan di Tengah Sentimen Pasar
Proyeksi pertumbuhan ekonomi kreatif nasional pada 2025 berada di kisaran 5 hingga 6 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara umum. Namun, proyeksi ini bergantung pada sejumlah asumsi, termasuk stabilitas daya beli masyarakat dan kelancaran rantai pasok bahan baku. Bagi pelaku usaha seperti EKKYTA, sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh musim belanja, tren media sosial, serta kebijakan pemerintah terkait insentif usaha mikro.
Dari sisi valuasi usaha, bisnis kriya skala kecil umumnya sulit diukur dengan pendekatan konvensional karena belum memiliki laporan keuangan teraudit. Kendati demikian, indikator sederhana seperti pertumbuhan penjualan bulanan, rasio biaya terhadap pendapatan, dan tingkat pengembalian modal dapat menjadi acuan awal bagi pelaku usaha untuk menilai kesehatan fundamental bisnisnya.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya soal kemampuan berproduksi, melainkan kemampuan bertahan dalam siklus pasar yang fluktuatif. Capital outflow dari sektor ritel, perubahan preferensi konsumen, dan masuknya produk massal berharga murah menjadi tekanan nyata. Di sisi lain, kesadaran konsumen terhadap produk lokal dan handmade justru membuka ruang pertumbuhan baru yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha dengan portofolio produk yang tepat.
Kisah EKKYTA menunjukkan bahwa modal awal berupa keterampilan dan konsistensi bisa menjadi fondasi usaha, tetapi pertumbuhan jangka panjang tetap menuntut perencanaan keuangan, inovasi berkelanjutan, dan jejaring pemasaran yang luas. Tanpa ketiga hal tersebut, sebuah hobi berpotensi berhenti sebagai kegiatan sampingan, bukan menjadi bisnis yang memberi dampak ekonomi nyata bagi lingkungan sekitarnya.
Comments (0)