UMKM Mebel Sukoharjo Tembus Pasar Global Berkat Pelatihan Ekspor

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per kuartal I/2024, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 61%, dengan nilai ekspor UMKM yang terus meningkat year-on-year...

Aug 07, 2026 - 08:24
0 0
UMKM Mebel Sukoharjo Tembus Pasar Global Berkat Pelatihan Ekspor

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per kuartal I/2024, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 61%, dengan nilai ekspor UMKM yang terus meningkat year-on-year sebesar 15,7%. Di tengah tren positif ini, kisah sukses Swakarya Jaya Furniture, sebuah usaha mebel dari Sukoharjo, Jawa Tengah, menjadi bukti nyata bahwa pelatihan ekspor yang tepat dapat membuka jalan bagi UMKM untuk menembus pasar global.

Dari Lokal ke Internasional: Transformasi Swakarya Jaya Furniture

Swakarya Jaya Furniture, yang sebelumnya hanya melayani pasar domestik, kini berhasil mengekspor produk mebelnya ke berbagai negara, termasuk Australia dan beberapa negara Eropa. Keberhasilan ini tidak datang secara instan. Pemilik usaha, Bapak Joko Susilo, mengungkapkan bahwa pelatihan ekspor yang diikutinya melalui program BRI Peduli menjadi titik balik yang fundamental. "Sebelumnya, kami hanya berjualan di pasar lokal dengan omzet rata-rata Rp50 juta per bulan. Setelah mengikuti pelatihan, kami memahami standar internasional, dokumentasi ekspor, dan strategi penetapan harga yang kompetitif," ujarnya.

Program pelatihan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari pengemasan produk yang memenuhi standar keamanan internasional, pemahaman tentang letter of credit (L/C), hingga strategi pemasaran digital untuk menjangkau pembeli luar negeri. Data dari Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa sektor mebel dan kerajinan menyumbang devisa sebesar USD 1,9 miliar pada tahun 2023, dan potensi ini masih terus berkembang seiring dengan meningkatnya permintaan global akan produk ramah lingkungan.

Dua Sisi: Peluang dan Tantangan Ekspor bagi UMKM

Di satu sisi, peluang ekspor bagi UMKM sangatlah besar. Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai ekspor nonmigas Indonesia pada Maret 2024 mencapai USD 22,8 miliar, dengan kontribusi UMKM yang terus meningkat. Program pelatihan seperti yang dilakukan BRI Peduli membantu UMKM mengatasi hambatan utama, yaitu kurangnya pengetahuan tentang prosedur ekspor dan akses ke pasar internasional. Dengan pendampingan yang tepat, UMKM dapat meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan pasar.

Di sisi lain, tantangan yang dihadapi UMKM untuk ekspor tidaklah ringan. Biaya logistik yang tinggi, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan persaingan dengan produk dari negara lain seperti Vietnam dan China menjadi hambatan yang nyata. "Rasio biaya logistik terhadap total biaya produksi di Indonesia masih sekitar 25%, lebih tinggi dibandingkan negara tetangga yang hanya 15%," kata seorang analis ekonomi dari Universitas Indonesia. Selain itu, perubahan regulasi di negara tujuan juga dapat mempengaruhi kelancaran ekspor.

Peran Perbankan dalam Mendorong Ekspor UMKM

Peran perbankan, khususnya BRI, tidak hanya sebatas memberikan pelatihan. BRI juga menyediakan fasilitas pembiayaan dengan skema kredit usaha rakyat (KUR) yang memiliki bunga kompetitif, serta layanan perbankan digital yang memudahkan transaksi internasional. "Kami tidak hanya memberikan modal, tetapi juga pendampingan bisnis yang berkelanjutan," ujar Direktur BRI. Hal ini penting karena likuiditas menjadi salah satu faktor kunci bagi UMKM untuk memenuhi pesanan dalam jumlah besar.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran KUR hingga April 2024 mencapai Rp110 triliun, dengan sektor produksi termasuk mebel menyerap sekitar 30% dari total tersebut. Sentimen pasar yang positif terhadap produk Indonesia, terutama yang berbasis kayu jati dan rotan, juga menjadi pendorong. Namun, para pelaku UMKM perlu waspada terhadap potensi capital outflow jika terjadi gejolak ekonomi global, yang dapat mempengaruhi nilai tukar dan daya saing.

Proyeksi dan Harapan ke Depan

Melihat tren yang ada, proyeksi ekspor mebel Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan akan tumbuh sebesar 8-10%, didorong oleh permintaan pasar yang terus meningkat. Dengan adanya program pelatihan yang berkelanjutan, diharapkan semakin banyak UMKM yang mampu go global. "Kami berharap pemerintah dan perbankan terus bersinergi untuk memberikan akses pelatihan dan pembiayaan yang lebih luas," tutup Joko.

Keberhasilan Swakarya Jaya Furniture menjadi inspirasi bagi ribuan UMKM lainnya di Indonesia. Dengan fundamental yang kuat, dukungan perbankan, dan kemauan untuk belajar, tidak ada yang mustahil untuk menembus pasar internasional. Meskipun tantangan tetap ada, optimisme tetap terjaga seiring dengan meningkatnya kapasitas dan daya saing UMKM Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User