Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per awal 2026, penyelenggaraan ajang balap internasional di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, diproyeksikan mendatangkan lebih dari 100.000 penonton domestik dan mancanegara selama tiga hari gelaran. Angka ini menjadi basis optimisme pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat yang melihat momentum tersebut sebagai kanal pemasaran lintas negara, bukan sekadar keramaian musiman. Bagi banyak pedagang, ini adalah kesempatan langka menyentuh konsumen dengan daya beli valuta asing tanpa harus membuka gerai di luar negeri.
Dua Sisi Dampak Ekonomi: Berkah Langsung vs Ketimpangan Distribusi
Di satu sisi, dampak langsung terasa pada sektor akomodasi, kuliner, dan cendera mata. Data Dinas Pariwisata NTB mencatat tingkat hunian hotel di kawasan Kuta Mandalika menembus 92 persen pada periode balapan 2025, dengan rata-rata pengeluaran wisatawan asing mencapai USD 180 per hari. Jika pola serupa terulang, aliran likuiditas ke kas daerah berpotensi naik 15 hingga 20 persen year-on-year. Pelaku UMKM yang selama ini bergantung pada pasar lokal kini dapat memperkenalkan produk tenun, kopi, dan kerajinan berbahan baku alam kepada pembeli dari Eropa, Asia Timur, dan Australia.
Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa limpahan rezeki ini tidak otomatis merata. Riset Pusat Kajian Ekonomi Regional Universitas Mataram menunjukkan bahwa sekitar 60 persen belanja penonton masih terpusat pada penyedia jasa besar dan tenant resmi penyelenggara. UMKM di luar zona utama sering kali kesulitan menembus seleksi tenant, terhambat biaya sewa lapak, atau minim akses informasi. Tanpa intervensi kebijakan yang adil, gelaran berskala global berisiko hanya memperkuat pemain mapan, sementara pedagang kecil tetap menjadi penonton di rumah sendiri.
"Event internasional adalah katalis, bukan jaminan. Yang menentukan keberlanjutan adalah bagaimana pemerintah daerah membangun ekosistem pelatihan, pembiayaan mikro, dan rantai pasok lokal agar UMKM tidak hanya ramai sehari, tetapi naik kelas permanen," ujar seorang pengamat ekonomi kerakyatan dalam sebuah diskusi publik di Jakarta.
Pro: Akselerasi Ekspor Tidak Langsung dan Promosi Produk
Argumen kelompok pro menekankan bahwa kehadiran wisatawan mancanegara membuka jalur ekspor tidak langsung. Ketika seorang turis mencicipi kopi robusta lokal atau membeli kain tenun, produk tersebut berpotensi menjadi duta dagang yang memperluas jejaring distribusi ke pasar internasional. Beberapa UMKM binaan bahkan melaporkan lonjakan pesanan daring hingga 40 persen pasca-ajang balap 2024, yang bertahan berbulan-bulan setelah event berakhir. Efek berganda ini, menurut mereka, jauh melampaui nilai transaksi di lokasi.
Selain itu, penyelenggaraan bertaraf dunia memaksa pelaku usaha meningkatkan standar kualitas, kemasan, dan pelayanan. Sertifikasi halal, izin edar PIRT, serta kemampuan komunikasi bahasa asing menjadi konsekuensi positif yang memperkuat fundamental bisnis jangka panjang. Indeks daya saing UMKM daerah berpotensi terdorong naik, memperbaiki valuasi usaha ketika mengajukan kredit ke perbankan.
Kontra: Risiko Ketergantungan Musiman dan Capital Outflow
Namun, perspektif kontra menyoroti bahaya ketergantungan pada kalender event. Pendapatan yang melonjak tajam selama sepekan bisa menciptakan ilusi pertumbuhan, sementara sebelas bulan berikutnya arus kas kembali tipis. Sebagian pelaku usaha bahkan terpaksa berutang untuk menambah stok dan modal kerja, lantas kesulitan melunasi ketika keramaian surut. Ini menciptakan kerentanan likuiditas yang kerap luput dari sorot kamera.
Ada pula kekhawatiran soal capital outflow, yakni ketika keuntungan penyelenggara, sponsor, dan vendor asing mengalir keluar dari daerah, sehingga nilai tambah bersih yang tinggal di masyarakat lebih kecil dari kesan yang terlihat. Sentimen pasar lokal pun bisa terdistorsi karena lonjakan harga sewa dan bahan baku selama periode event, yang justru membebani warga sekitar yang tidak ikut berjualan.
Proyeksi dan Sikap yang Dibutuhkan
Menilik tren dua edisi sebelumnya, dampak ekonomi ajang ini bersifat nyata namun terkonsentrasi. Proyeksi ke depan bergantung pada tiga hal: pemerataan akses lapak, pendampingan usaha berkelanjutan, dan integrasi UMKM ke dalam rantai pasok resmi. Pemerintah daerah perlu memastikan kuota tenant lokal, menyediakan pelatihan pemasaran digital, dan memfasilitasi pembiayaan mikro berbunga rendah.
Bagi pembaca awam, penting dipahami bahwa "pasar" dalam konteks ini adalah pertemuan antara permintaan global dan kapasitas lokal. Tanpa kapasitas yang dibangun sejak sekarang, antusiasme UMKM hanya akan berhenti sebagai gegap gempita sesaat. Sebaliknya, dengan strategi yang terukur, gelaran balap dunia bisa menjadi pintu masuk menuju kelas eksportir, bukan sekadar lapak dadakan di pinggir sirkuit.
Comments (0)