Oct 14, 2026
Bisnis

UMKM Kuliner Sumut Tembus Pasar Global Lewat Pemberdayaan Modal

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2024, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga ker...

UMKM Kuliner Sumut Tembus Pasar Global Lewat Pemberdayaan Modal

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2024, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor baru berkisar 15,7 persen, sebuah rasio yang jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Thailand yang mampu mendorong UMKM berkontribusi lebih dari 30 persen terhadap nilai ekspor nasional. Kesenjangan inilah yang menjadi latar belakang penting ketika sebuah usaha kuliner asal Sumatera Utara, Quinn Kitchen, dilaporkan berhasil menembus pasar internasional berkat skema pemberdayaan permodalan dari perbankan nasional.

Kinerja Ekspor UMKM dan Fundamental yang Masih Rapuh

Bank Indonesia dalam laporan terbarunya mencatat bahwa kredit kepada UMKM tumbuh 7,8 persen year-on-year per kuartal III 2024, dengan total outstanding mencapai kisaran Rp1.500 triliun. Angka ini menunjukkan tren positif, tetapi likuiditas yang tersalurkan masih terkonsentrasi pada UMKM di wilayah Jawa yang menyumbang lebih dari 60 persen portofolio kredit UMKM nasional. Sumatera, termasuk Sumatera Utara, menerima porsi yang relatif lebih kecil meski memiliki basis industri kuliner dan olahan pangan yang kuat.

Dalam konteks ini, akses permodalan menjadi variabel fundamental yang menentukan apakah sebuah UMKM mampu naik kelas dari pasar lokal ke pasar ekspor. Skema pemberdayaan seperti pelatihan standarisasi produk, sertifikasi halal, hingga pendampingan penetrasi pasar global menjadi instrumen yang jamak digunakan perbankan untuk memperkuat valuasi usaha kecil. Di satu sisi, pendekatan ini terbukti mendorong sejumlah UMKM menembus pasar regional, terutama produk makanan olahan yang memiliki daya tahan lebih baik terhadap fluktuasi nilai tukar karena permintaannya cenderung inelastis.

Dua Perspektif: Peluang atau Ketergantungan Baru?

Pro: Dukungan permodalan yang disertai pendampingan teknis menciptakan efek berganda. UMKM yang berhasil ekspor tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menyerap tenaga kerja lokal, memperbaiki kualitas kemasan, dan mendorong standarisasi mutu. Dalam jangka menengah, ini memperkuat fundamental neraca perdagangan serta mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah. Sentimen pasar terhadap produk olahan bernilai tambah juga lebih stabil dibandingkan ekspor bahan baku yang rentan terhadap gejolak harga global.

Kontra: Ketergantungan pada satu sumber pembiayaan menimbulkan risiko konsentrasi. Jika terjadi pengetatan likuiditas atau kenaikan suku bunga acuan, UMKM yang baru merintis ekspor bisa terpapar risiko gagal bayar. Selain itu, biaya logistik antarnegara dan volatilitas kurs masih menjadi penghambat struktural. Capital outflow yang memicu pelemahan rupiah justru dapat menekan margin eksportir kecil yang tidak memiliki lindung nilai (hedging) atas transaksi valuta asingnya.

"Transformasi UMKM menuju ekspor bukan sekadar persoalan pembiayaan, melainkan ekosistem yang mencakup standarisasi mutu, akses pasar, dan ketahanan terhadap guncangan eksternal," demikian pandangan yang kerap disampaikan kalangan analis ekonomi dalam berbagai forum industri.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Ke depan, proyeksi pertumbuhan kredit UMKM diperkirakan berada di kisaran 8 hingga 10 persen year-on-year, sejalan dengan target pemerintah memperbesar porsi UMKM dalam ekspor nasional. Namun, tanpa perbaikan rasio inklusi keuangan di luar Jawa, tren ini berpotensi tidak merata. Pemerintah bersama otoritas moneter perlu memastikan bahwa program pemberdayaan tidak berhenti pada tahap pembiayaan, tetapi berlanjut pada pendampingan berkelanjutan, termasuk akses informasi pasar dan perlindungan terhadap fluktuasi nilai tukar.

Kisah seperti Quinn Kitchen menunjukkan bahwa potensi UMKM daerah memang nyata. Namun, keberhasilan satu-dua entitas tidak boleh dijadikan generalisasi. Indeks kepercayaan pelaku usaha kecil masih fluktuatif, dan sentimen pasar global yang tidak pasti menuntut kehati-hatian. Yang dibutuhkan bukan hanya semangat, melainkan ekosistem yang fundamental, terukur, dan berkelanjutan agar lebih banyak UMKM mampu menembus pasar internasional tanpa kehilangan likuiditas di tengah jalan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User