Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal II 2026, kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional masih berada di kisaran 61 persen, dengan serapan tenaga kerja mencapai 97 persen dari total angkatan kerja. Angka tersebut menegaskan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian, bukan sekadar pelengkap. Di tengah lanskap itu, muncul kabar positif dari Sumatera Utara: sebuah merek kuliner lokal berhasil membawa produknya menembus pasar internasional dengan dukungan pembiayaan dan pemberdayaan dari BRI.
Dari Skala Rumahan Menuju Pasar Global
Quinn Kitchen, pelaku usaha kuliner asal Sumatera Utara, menjadi contoh bagaimana produk rumahan dapat bertransformasi menjadi komoditas ekspor. Melalui program pemberdayaan BRI, usaha yang semula melayani pasar lokal ini kini tercatat memasok produknya ke luar negeri. Perjalanan itu tidak ditempuh dalam semalam; pelaku usaha harus menyesuaikan kemasan, memenuhi sertifikasi keamanan pangan, serta mematuhi regulasi impor negara tujuan.
Peran perbankan dalam proses tersebut cukup krusial. Selain menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga bersubsidi, bank tersebut juga memberikan pendampingan manajemen, pelatihan standar mutu, dan fasilitasi pameran dagang. Kombinasi antara suntikan modal dan penguatan kapasitas inilah yang kerap menjadi pembeda antara UMKM yang stagnan dan UMKM yang mampu naik kelas.
Pro: Dukungan Pembiayaan Membuka Jalan Ekspor
Di satu sisi, tren pemberdayaan UMKM oleh perbankan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Data Bank Indonesia per Juni 2026 mencatat pertumbuhan kredit UMKM mengalami kenaikan year-on-year di kisaran dua digit, sejalan dengan meningkatnya minat bank menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif. Semakin banyak UMKM yang masuk sistem pembiayaan formal, semakin rendah pula ketergantungan mereka pada pinjaman informal berbunga tinggi.
Dari sisi pelaku usaha, pendampingan teknis membantu mereka memenuhi standar ekspor, seperti sertifikasi halal, HACCP, dan persyaratan label negara tujuan. Rasio kelayakan produk untuk pasar global pun meningkat, memperkuat fundamental usaha dalam jangka panjang. Akses ke pasar luar negeri juga membuka diversifikasi portofolio penjualan, sehingga risiko ketergantungan pada satu pasar domestik dapat ditekan. Namun, perlu dicatat bahwa keberhasilan ekspor juga bergantung pada konsistensi mutu dan kemampuan memenuhi tenggat pengiriman, dua hal yang kerap menjadi ujian bagi usaha skala kecil.
Kontra: Kesenjangan Akses dan Risiko Global
Di sisi lain, kisah sukses seperti Quinn Kitchen belum tentu menggambarkan kondisi mayoritas UMKM nasional. Berdasarkan data OJK, dari sekitar 65 juta unit UMKM, hanya sebagian kecil yang memiliki akses pembiayaan formal. Banyak pelaku usaha masih terkendala kelengkapan dokumen, agunan, dan pencatatan keuangan yang rapi — syarat yang sulit dipenuhi oleh usaha berstatus informal.
Selain itu, tantangan pascapengiriman tidak kalah berat. Fluktuasi nilai tukar rupiah dapat menggerus margin yang semula tipis: ketika rupiah terdepresiasi, biaya bahan baku impor melonjak, sementara ketika menguat, daya saing harga produk di pasar ekspor melemah. Sentimen pasar global, seperti perubahan kebijakan tarif dan ketegangan geopolitik, juga berpotensi memicu capital outflow yang menekan likuiditas domestik dan akhirnya menaikkan biaya pinjaman. Di tengah kondisi itu, eksportir pemula tanpa lindung nilai (hedging) menjadi pihak yang paling rentan.
Proyeksi dan Pekerjaan Rumah Bersama
Ke depan, proyeksi permintaan global terhadap produk kuliner olahan masih menunjukkan tren positif. Permintaan makanan siap saji dan bumbu olahan dari kawasan Asia Tenggara serta Timur Tengah terus tumbuh, membuka peluang bagi lebih banyak UMKM Indonesia untuk menyusul. Analis industri memperkirakan nilai ekspor produk makanan olahan nasional dapat tumbuh di kisaran 8 hingga 10 persen per tahun hingga akhir dekade ini, didorong perubahan pola konsumsi global. Namun, keberhasilan satu merek tidak boleh membuat kita lengah; yang dibutuhkan adalah ekosistem yang utuh.
Pekerjaan rumah tersebut mencakup simplifikasi perizinan ekspor, insentif bagi pelaku usaha pemula, perbaikan infrastruktur logistik, serta penguatan lembaga pembiayaan yang menjangkau usaha mikro. Tanpa perbaikan di sisi hulu dan hilir, kesenjangan antara UMKM yang naik kelas dan yang tertinggal berisiko semakin melebar. Diperlukan juga literasi keuangan yang merata agar lebih banyak pelaku usaha berani dan mampu mengakses pembiayaan formal.
Kisah Quinn Kitchen setidaknya membuktikan satu hal: dengan produk berkualitas, pembiayaan terjangkau, dan pendampingan yang konsisten, produk kuliner asal Sumatera Utara mampu berdiri sejajar di panggung internasional. Pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah UMKM Indonesia bisa ekspor, melainkan seberapa cepat ekosistem pendukung mampu memperbanyak resep keberhasilan serupa secara merata.
Comments (0)