Sep 17, 2026
Nasional

TWC dan YOAI Gelar Eduwisata Ramah Anak Kanker di Borobudur

MAGELANG — Kawasan Cagar Budaya Candi Borobudur bertransformasi menjadi ruang inklusif melalui inisiatif terpadu yang memadukan pelestarian sejarah dengan

TWC dan YOAI Gelar Eduwisata Ramah Anak Kanker di Borobudur

MAGELANG — Kawasan Cagar Budaya Candi Borobudur bertransformasi menjadi ruang inklusif melalui inisiatif terpadu yang memadukan pelestarian sejarah dengan pemulihan psikososial. PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko menjalin kolaborasi strategis bersama Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) guna menghadirkan program eduwisata ramah anak bagi para penyintas dan pasien kanker anak dari berbagai wilayah di Indonesia.

Inisiatif ini dirancang bukan sekadar sebagai agenda wisata rekreasi biasa, melainkan intervensi psikososial terstruktur untuk mendukung ketahanan mental anak-anak yang tengah menjalani fase pengobatan intensif. Kunjungan edukatif ini menyoroti urgensi ruang publik ramah disabilitas dan rentan kesehatan di destinasi wisata berkelas dunia.

Rekam Jejak Kolaborasi dan Misi Inklusi

Pihak TWC menegaskan bahwa komitmen pengelolaan destinasi cagar budaya saat ini mengedepankan asas keberlanjutan sosial dan keterbukaan akses. Anak-anak pejuang kanker sering kali menghadapi pembatasan mobilitas dan isolasi sosial yang berkepanjangan akibat siklus terapi medis yang berat. Melalui kegiatan edukatif ini, lingkungan cagar budaya difungsikan sebagai media terapi ruang terbuka.

"Kami berupaya memastikan kawasan Candi Borobudur memberikan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali. Kolaborasi bersama YOAI ini merupakan manifestasi dari tanggung jawab sosial kami dalam menyediakan ruang pemulihan emosional dan edukasi yang aman, nyaman, serta bermartabat bagi anak-anak pejuang kanker," ungkap perwakilan manajemen TWC.

Kronologi Kegiatan Eduwisata di Pelataran Borobudur

Rangkaian agenda eduwisata ini berlangsung melalui tahapan sistematis yang mengutamakan protokol kenyamanan dan kesehatan para peserta:

  1. Sesi Penyambutan dan Orientasi Edukatif: Para peserta dan pendamping diterima di area peristirahatan khusus dengan pendampingan tim medis dan pemandu terlatih.
  2. Aktivitas Membatik dan Seni Terapan: Anak-anak diajak mengenal filosofi motif batik Borobudur serta mempraktikkan proses pewarnaan kain secara langsung untuk mengasah motorik dan kreativitas.
  3. Penjelajahan Jejak Sejarah Terbimbing: Peserta menyusuri zona pelataran candi dengan rute yang telah disesuaikan agar tidak membebani stamina fisik pasien.
  4. Sesi Interaksi Emosional dan Pembagian Dukungan: Agenda ditutup dengan pertukaran motivasi antara keluarga pasien dan relawan untuk memperkuat jejaring dukungan psikologis.

Dampak Terapi Psikososial bagi Kesembuhan Pasien

Dukungan non-medis seperti eduwisata terbukti memiliki korelasi positif terhadap kondisi psikis anak dengan penyakit kritis. Aktivitas luar ruang yang terkelola dengan baik mampu menekan tingkat kecemasan (anxiety) dan kejenuhan akibat perawatan rumah sakit.

Pihak YOAI memaparkan sejumlah poin krusial terkait manfaat kegiatan ini:

  • Peningkatan Kesejahteraan Emosional: Suasana rekreasi yang interaktif memicu produksi hormon endorfin yang penting bagi daya tahan tubuh anak.
  • Stimulasi Kognitif: Pembelajaran narasi sejarah dan kerajinan tangan membantu menjaga daya fokus serta semangat eksplorasi peserta.
  • Penguatan Ikatan Keluarga: Memberikan ruang relaksasi bagi para orang tua dan pendamping yang kerap mengalami kelelahan mental selama masa pengobatan.

Langkah kolaboratif antara TWC dan YOAI ini diharapkan menjadi tolok ukur bagi pengelola destinasi wisata lain di tanah air dalam menyusun program wisata yang aksesibel, empatik, dan berorientasi pada kemanusiaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User