Trump Pertimbangkan Pecat Gubernur The Fed Lisa Cook, Pasar Waspada

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir Agustus 2025, suku bunga acuan BI Rate berada di level 5,25 persen, sementara Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan (fed funds rate) di kisaran 4,25...

Aug 09, 2026 - 22:38
0 0
Trump Pertimbangkan Pecat Gubernur The Fed Lisa Cook, Pasar Waspada

Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir Agustus 2025, suku bunga acuan BI Rate berada di level 5,25 persen, sementara Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan (fed funds rate) di kisaran 4,25 hingga 4,50 persen sejak awal tahun. Di tengah dinamika kebijakan moneter global tersebut, kabar dari Washington mengejutkan pelaku pasar: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan untuk memberhentikan Lisa Cook, anggota Dewan Gubernur Federal Reserve (The Fed). Cook, yang dilantik pada 2022 dan tercatat sebagai perempuan kulit hitam pertama yang duduk di dewan bank sentral AS, memiliki masa jabatan yang seharusnya berlangsung hingga 2038.

Rencana ini memicu perdebatan serius karena menyangkut independensi bank sentral, yakni prinsip bahwa kebijakan suku bunga seharusnya bebas dari intervensi politik jangka pendek. Bagi pembaca awam, independensi bank sentral berarti keputusan menaikkan atau menurunkan suku bunga didasarkan pada data ekonomi seperti inflasi dan ketenagakerjaan, bukan tekanan penguasa.

Akar Ketegangan antara Gedung Putih dan The Fed

Ketegangan antara Trump dan bank sentral AS bukan hal baru. Sejak periode pertama kepemimpinannya, Trump berulang kali mendesak The Fed memangkas suku bunga secara agresif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kali ini, sorotan diarahkan kepada Cook menyusul tudingan terkait dokumen kepemilikan properti sebelum ia menjabat, yang oleh kubu Gedung Putih dijadikan dasar evaluasi posisinya. Cook sendiri membantah melakukan pelanggaran dan menegaskan tidak akan mundur.

Dari sisi hukum, undang-undang Federal Reserve menyatakan anggota dewan gubernur hanya dapat diberhentikan "for cause" atau dengan alasan yang sah dan terbukti, bukan sekadar perbedaan pandangan kebijakan. Inilah yang membuat langkah Trump berpotensi terseret ke pengadilan dan menjadi preseden bersejarah dalam sejarah bank sentral AS yang berdiri sejak 1913.

Di Satu Sisi Otoritas Presiden, di Sisi Lain Kredibilitas Bank Sentral

Di satu sisi, pendukung langkah Trump berargumen bahwa presiden terpilih memiliki mandat untuk memastikan pejabat publik, termasuk di bank sentral, memenuhi standar integritas tertinggi. Jika ada dugaan pelanggaran, menurut pandangan ini, evaluasi merupakan bagian dari akuntabilitas pemerintahan. Sebagian pihak juga menilai komposisi dewan gubernur perlu mencerminkan arah kebijakan ekonomi pemerintahan yang baru.

Di sisi lain, mayoritas ekonom memperingatkan bahwa politisasi bank sentral dapat menggerus kredibilitas kebijakan moneter. Sejarah ekonomi menunjukkan negara dengan bank sentral yang independen secara konsisten mencatat inflasi lebih rendah dan stabil. Jika pasar menilai The Fed tunduk pada tekanan politik, ekspektasi inflasi bisa terlepas dari jangkar, premi risiko obligasi pemerintah AS (US Treasury) berpotensi mengalami kenaikan, dan dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia bisa menghadapi pertanyaan serius.

"Independensi bank sentral bukan sekadar norma, melainkan fondasi kepercayaan pasar. Begitu fondasi itu retak, biaya pemulihannya jauh lebih mahal daripada manfaat politik jangka pendek," demikian pandangan sejumlah ekonom yang dikutip dalam berbagai diskusi kebijakan publik.

Dampak ke Pasar Keuangan Global dan Indonesia

Sentimen pasar langsung bereaksi. Indeks dolar AS (DXY) sempat melemah tipis, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bergerak di kisaran 4,2 hingga 4,3 persen, mencerminkan kehati-hatian investor. Harga emas, sebagai aset lindung nilai (safe haven), bertahan di level tinggi di atas 3.300 dolar AS per troy ons.

Bagi Indonesia, risiko utama datang dari kanal nilai tukar dan arus modal. Ketidakpastian di tubuh The Fed dapat memicu volatilitas portofolio asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Jika kepercayaan terhadap aset dolar AS menurun, ada dua kemungkinan berlawanan: capital outflow dari pasar negara berkembang karena risk-off, atau justru aliran dana masuk karena investor mencari alternatif di luar aset AS. Nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.400 per dolar AS menjadi barometer yang perlu dicermati. Bank Indonesia, dengan cadangan devisa sekitar 150 miliar dolar AS, memiliki bantalan likuiditas untuk menstabilkan pasar valuta asing.

Proyeksi dan Skenario ke Depan

Ke depan, terdapat beberapa skenario. Pertama, jalur hukum berjalan panjang dan Cook tetap menjabat hingga putusan pengadilan final, yang berarti ketidakpastian menggantung selama berbulan-bulan. Kedua, kompromi politik tercapai dan The Fed tetap menjalankan mandatnya. Ketiga, skenario paling berisiko, preseden pemberhentian terjadi dan mengubah lanskap tata kelola bank sentral AS secara permanen.

Dari sisi fundamental, inflasi AS per Juli 2025 tercatat sekitar 2,7 persen year-on-year, masih di atas target 2 persen. Artinya, ruang pemangkasan suku bunga tetap bergantung pada data, siapa pun yang duduk di dewan gubernur. Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, tren yang patut dipantau adalah arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan indeks dolar, serta respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas. Valuasi aset berisiko, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), akan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan dari Washington dalam beberapa pekan ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User