Trump Pertimbangkan Pecat Gubernur The Fed Lisa Cook, Independensi Bank Sentral Dipertaruhkan
Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir Agustus 2025, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp16.200 per dolar AS, sementara suku bunga acuan Federal Reserve (fed funds rate) bertahan di level 4,25...
Berdasarkan data Bank Indonesia per akhir Agustus 2025, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp16.200 per dolar AS, sementara suku bunga acuan Federal Reserve (fed funds rate) bertahan di level 4,25%-4,50% sejak Desember 2024. Di tengah dinamika tersebut, kabar dari Washington DC mengejutkan pasar keuangan global: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan langkah untuk memberhentikan Lisa Cook dari posisinya sebagai Gubernur Dewan Federal Reserve.
Lisa Cook merupakan anggota Dewan Gubernur The Fed yang diangkat pada 2022 dengan masa jabatan hingga 2038. Ia tercatat sebagai perempuan kulit hitam pertama yang duduk di dewan bank sentral AS tersebut. Sebagai anggota tetap Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC)—lembaga penentu arah suku bunga AS—Cook memegang hak suara dalam setiap keputusan kebijakan moneter negeri ekonomi terbesar dunia itu.
Kerangka Hukum dan Batas Kewenangan Presiden
Secara hukum, posisi Gubernur The Fed dirancang terlindungi dari intervensi politik. Berdasarkan Federal Reserve Act, anggota dewan hanya dapat diberhentikan dengan alasan yang jelas dan terbukti (for cause), bukan semata karena perbedaan pandangan kebijakan. Ketegangan antara Gedung Putih dan The Fed sendiri bukan fenomena baru; Trump sejak periode pertama kepresidenannya kerap mengkritik kebijakan suku bunga yang dinilai terlalu tinggi dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Data inflasi AS per Juli 2025 tercatat sebesar 2,7% year-on-year, masih berada di atas target The Fed sebesar 2%. Kondisi inilah yang membuat bank sentral enggan menurunkan suku bunga secara agresif, meski tekanan politik dari pemerintahan terus menguat dalam beberapa bulan terakhir.
Dua Sisi: Akuntabilitas Pejabat versus Independensi Moneter
Di satu sisi, kubu pendukung langkah Trump berargumen bahwa presiden memiliki mandat konstitusional untuk memastikan seluruh pejabat publik memenuhi standar integritas tertinggi. Apabila terdapat dugaan pelanggaran etik maupun hukum, evaluasi terhadap pejabat—termasuk di lingkungan bank sentral—dipandang sah secara hukum. Pendekatan ini menekankan prinsip akuntabilitas lembaga publik kepada rakyat.
Di sisi lain, kalangan ekonom mengingatkan risiko besar apabila independensi bank sentral terkikis. Independensi bank sentral adalah prinsip di mana kebijakan moneter, seperti penentuan suku bunga, diputuskan bebas dari tekanan politik jangka pendek. Riset empiris lintas negara secara konsisten menunjukkan bahwa ekonomi dengan bank sentral independen cenderung mencatat inflasi lebih rendah dan stabil dalam jangka panjang.
"Kredibilitas bank sentral dibangun selama puluhan tahun, tetapi bisa rusak dalam hitungan hari jika pasar menilai kebijakan moneter tunduk pada kepentingan politik jangka pendek," ujar seorang ekonom senior yang memonitor kebijakan The Fed.
Implikasi bagi Pasar Keuangan Global dan Indonesia
Bagi pasar global, isu ini menyentuh sentimen terhadap imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) serta arah pergerakan dolar AS. Jika pelaku pasar mempersepsikan The Fed akan lebih akomodatif terhadap keinginan Gedung Putih, ekspektasi penurunan suku bunga dapat meningkat. Skenario tersebut berpotensi melemahkan dolar AS dan mendorong capital inflow—aliran modal masuk—ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, di sisi lain, ketidakpastian institusional justru dapat memicu risk-off sentiment, yakni kondisi ketika investor menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen aman seperti emas. Dalam skenario negatif, capital outflow dari pasar saham dan obligasi domestik berpotensi menekan rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang saat ini berada di level sekitar 7.800. Valuasi aset emerging markets secara umum menjadi lebih sensitif terhadap gejolak kebijakan di Washington.
Bank Indonesia, dengan suku bunga acuan BI Rate di level 5,25% per Agustus 2025, dinilai masih memiliki ruang memadai untuk menjaga stabilitas. Rasio cadangan devisa yang berada di atas US$150 miliar memberikan bantalan likuiditas menghadapi potensi volatilitas eksternal. Meski demikian, gejolak institusional di AS tetap menjadi variabel penting dalam proyeksi ekonomi domestik ke depan.
Proyeksi dan Hal yang Perlu Dicermati
Fundamental ekonomi AS masih relatif solid, dengan pertumbuhan PDB sekitar 2% dan tingkat pengangguran di kisaran 4,2%. Namun, pertarungan antara otoritas eksekutif dan bank sentral akan menjadi penentu arah kebijakan moneter global dalam beberapa kuartal mendatang. Tren penurunan suku bunga yang diantisipasi pasar bisa tertunda atau justru dipercepat, bergantung pada hasil pergulatan politik dan hukum ini.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati dua hal utama: proses hukum yang menyertai wacana pemberhentian Cook, serta respons FOMC dalam rapat kebijakan berikutnya. Keduanya akan menentukan apakah sentimen pasar bergerak menuju stabilisasi atau justru memasuki fase volatilitas berkepanjangan yang berdampak pada portofolio global dan arus modal ke negara berkembang.
Comments (0)