Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai transaksi e-commerce Indonesia pada 2025 diperkirakan menembus Rp540 triliun, mengalami kenaikan sekitar 14 persen year-on-year dibandingkan tahun sebelumnya. Di dalam angka besar itu, segmen kecantikan dan perawatan diri menjadi salah satu motor utama pertumbuhan, seiring pergeseran perilaku konsumen yang menjadikan platform digital kanal utama belanja. Momentum tersebut kembali terlihat pada kampanye Shopee 9.9 Super Shopping Day yang menampilkan figur publik Naykilla untuk berbagi gaya belanja uniknya di tengah maraknya tren hiasan wajah dan aksesori rambut sebagai bentuk ekspresi diri.
Kehadiran figur publik dalam kampanye musiman bukan sekadar strategi promosi. Ia menjadi jembatan antara tren budaya dan perilaku konsumsi riil. Ketika seorang Naykilla menunjukkan cara meracik gaya dari hiasan wajah dan aksesori rambut, audiens tidak hanya meniru tampilan, tetapi juga pola belanjanya: mencatat kebutuhan, memanfaatkan kupon diskon, dan membandingkan harga sebelum menekan tombol pembayaran.
Tren Centyl dan Ekonomi Ekspresi Diri
Centyl merujuk pada gaya berhias yang menonjolkan detail wajah, mulai dari glitter, stiker wajah, hingga aksesori rambut seperti jepit dan headpiece. Bagi generasi muda, elemen-elemen ini bukan sekadar riasan, melainkan identitas yang dapat diganti setiap hari sesuai suasana hati. Data pencarian di platform digital menunjukkan istilah ini mengalami kenaikan interaksi yang signifikan dalam dua tahun terakhir, sejalan dengan meningkatnya konten tutorial kecantikan dari kreator lokal.
Dari sisi ekonomi, tren ini menghadirkan peluang baru bagi produsen kecil. Banyak pengrajin aksesori rambut rumahan yang kini menjual produknya ke seluruh Indonesia berkat marketplace. Mereka tidak lagi bergantung pada pasar fisik di daerahnya, sehingga jangkauan konsumen meluas dan pendapatan mengalami kenaikan. Inilah sisi inklusif dari ekonomi digital yang sering luput dari perhatian.
Belanja Musiman dan Likuiditas Platform
Di satu sisi, kampanye seperti 9.9 menjadi suntikan likuiditas bagi ekosistem digital. Merchant UMKM di sektor kecantikan mencatat lonjakan pesanan, sementara platform memperoleh kenaikan transaksi dalam waktu singkat. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, jumlah pesanan produk kecantikan tercatat melonjak hingga puluhan persen dibandingkan hari biasa. Bagi konsumen, diskon dan gratis ongkir menurunkan beban belanja sehingga daya beli kelompok menengah tetap terjaga di tengah tekanan inflasi.
Di sisi lain, para pengamat mengingatkan bahwa euforia diskon kerap memicu konsumsi di luar kebutuhan. Rasio pengeluaran produk kecantikan terhadap pendapatan bulanan pada sebagian konsumen muda dikabarkan meningkat, dan bila tidak dikendalikan, berpotensi mengganggu posisi keuangan pribadi. Harga murah juga belum tentu sejalan dengan kualitas. Konsumen dituntut lebih cermat memeriksa keaslian produk di tengah maraknya barang tiruan di pasar digital, termasuk produk kecantikan yang menyangkut keamanan kulit.
Sentimen Pasar dan Fundamental Industri
Dari sudut pandang industri, pertumbuhan ini mencerminkan fundamental permintaan yang sehat. Brand kecantikan lokal mulai menguasai pangsa pasar yang sebelumnya didominasi produk impor, tanda bahwa daya saing dalam negeri mengalami kenaikan. Pelaku industri menjadikan data transaksi kampanye sebagai indikator sentimen pasar karena angka tersebut mewakili minat beli riil, bukan sekadar proyeksi. Valuasi emiten kosmetik di bursa efek kerap merespons rilis data penjualan musiman semacam ini.
Kendati demikian, pertumbuhan yang ditopang diskon belum tentu berkelanjutan. Jika konsumen hanya membeli saat ada insentif, permintaan di luar periode kampanye berisiko mengalami penurunan dan berimbas pada perencanaan produksi pelaku usaha. Perpindahan belanja dari ritel fisik ke platform digital juga menjadi catatan tersendiri, meski dampaknya masih lebih kecil dibandingkan total belanja nasional yang terus tumbuh.
Proyeksi dan Catatan untuk Konsumen
Memasuki kuartal keempat 2026, proyeksi pertumbuhan e-commerce kecantikan diperkirakan tetap berada di kisaran dua digit, ditopang peluncuran produk baru, kampanye akhir tahun, dan daya beli masyarakat yang relatif stabil. Namun, proyeksi tersebut dapat berubah jika tekanan inflasi kembali meningkat atau daya beli kelompok menengah melemah.
Bagi konsumen, kuncinya adalah belanja berdasarkan kebutuhan, membaca ulasan produk, dan membandingkan harga antarpenjual. Tren Centyl pada akhirnya bukan soal seberapa banyak yang dibeli, melainkan bagaimana gaya dipilih secara sadar dan sesuai anggaran. Pola belanja yang terencana seperti yang dicontohkan Naykilla, bila dijalankan konsisten, sejalan dengan prinsip kesehatan finansial jangka panjang.
Comments (0)