Oct 15, 2026
Bisnis

Transformasi Layanan BUMN Jadi Tolok Ukur Daya Saing Nasional

Berdasarkan data Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) per akhir 2024, terdapat lebih dari 40 perusahaan pelat merah yang menopang berbagai sektor strategis, mulai dari energi, perbankan, hingga...

Transformasi Layanan BUMN Jadi Tolok Ukur Daya Saing Nasional

Berdasarkan data Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) per akhir 2024, terdapat lebih dari 40 perusahaan pelat merah yang menopang berbagai sektor strategis, mulai dari energi, perbankan, hingga infrastruktur. Kinerja keuangan korporasi-korporasi ini memang kerap menjadi sorotan, tetapi ada satu dimensi yang belakangan dinilai sama pentingnya: kualitas pelayanan publik. Wakil Menteri BUMN, Dony Oskaria, secara terbuka menyoroti bahwa pelayanan kepada masyarakat harus menjadi tolok ukur utama keberhasilan transformasi BUMN, bukan semata-mata laba tahunan.

Pernyataan tersebut muncul di tengah dorongan transformasi yang digulirkan Kementerian BUMN agar perusahaan negara lebih responsif terhadap kebutuhan warga. Dalam berbagai forum, Dony menekankan bahwa daya saing BUMN tidak lagi bisa diukur hanya dari sisi neraca keuangan, melainkan juga dari seberapa cepat dan ramah layanan yang diberikan kepada publik.

Mengapa Pelayanan Publik Menjadi Indikator Fundamental?

Secara ekonomi, pelayanan publik adalah cerminan dari efisiensi operasional sebuah perusahaan. Ketika sebuah BUMN mampu memangkas antrean, mempercepat proses perizinan, atau menyederhanakan birokrasi, biaya transaksi di masyarakat ikut turun. Penurunan biaya transaksi ini pada akhirnya berdampak pada produktivitas nasional.

Dari sisi portofolio investasi negara, perbaikan layanan juga berpotensi memperbaiki valuasi aset. Misalnya, jika sebuah perusahaan listrik negara mampu menekan waktu pemulihan gangguan jaringan dari rata-rata 6 jam menjadi 3 jam, indeks kepuasan pelanggan naik dan risiko sentimen negatif pasar menurun. Ini bukan sekadar soal citra, tetapi berkaitan erat dengan likuiditas dan kepercayaan investor terhadap fundamental perusahaan.

Pro: Transformasi layanan mendorong BUMN keluar dari zona nyaman monopoli. Dengan standar pelayanan yang terukur, perusahaan negara dipaksa berbenah, meningkatkan transparansi, dan menekan praktik inefisiensi. Dalam jangka panjang, daya saing global ikut terangkat karena BUMN terbiasa bersaing di level layanan, bukan hanya mengandalkan regulasi.

Kontra: Di sisi lain, fokus berlebihan pada pelayanan bisa mengalihkan perhatian dari persoalan struktural yang lebih mendesak, seperti beban utang dan tata kelola. Sejumlah pengamat menilai tanpa perbaikan mendasar pada manajemen risiko dan akuntabilitas, program layanan hanya menjadi kosmetik. Ada pula kekhawatiran bahwa target pelayanan yang ambisius menambah beban biaya operasional, yang ujung-ujungnya dibebankan ke masyarakat melalui tarif.

"Kualitas layanan adalah cermin dari kualitas tata kelola. Jika pelayanan buruk, jangan harap kepercayaan publik tumbuh," tegas Dony Oskaria dalam sebuah kesempatan, menggambarkan arah kebijakan yang ingin ditempuh.

Konteks Makro dan Tekanan Global

Bank Indonesia mencatat bahwa capital outflow dari pasar keuangan domestik sempat menekan nilai tukar rupiah sepanjang kuartal tertentu. Dalam situasi likuiditas global yang ketat, investor cenderung menempatkan dana pada aset yang fundamentalnya kuat dan tata kelolanya bersih. Di sinilah reputasi pelayanan menjadi relevan: perusahaan dengan tingkat keluhan publik tinggi berisiko dinilai memiliki manajemen yang lemah.

Proyeksi ke depan, transformasi layanan BUMN diperkirakan menyentuh sektor-sektor padat modal seperti perbankan, transportasi, dan energi. Rasio kepuasan pelanggan ditargetkan naik signifikan dibandingkan tahun pembanding 2022. Tren digitalisasi menjadi kunci, mulai dari layanan berbasis aplikasi hingga integrasi data antarinstansi.

Namun, tanpa pengukuran yang konsisten, target tersebut berisiko menjadi angka di atas kertas. Diperlukan indeks pelayanan yang dipublikasikan berkala agar publik dapat menilai secara objektif. Di satu sisi, keterbukaan data seperti itu meningkatkan akuntabilitas. Di sisi lain, perusahaan bisa tergoda memoles angka demi citra jangka pendek.

Antara Reformasi Struktural dan Ekspektasi Publik

Pada akhirnya, wacana yang diangkat Dony Oskaria menyentuh inti persoalan: BUMN dibentuk untuk melayani, bukan sekadar mencari laba. Transformasi pelayanan adalah investasi jangka panjang bagi daya saing bangsa. Persoalannya, apakah komitmen ini mampu bertahan melampaui siklus politik dan pergantian pejabat, atau hanya menjadi retorika musiman yang menguap begitu sorotan media berpindah.

Bagi pembaca awam, indikator sederhana bisa dipakai: apakah waktu tunggu layanan memendek, apakah keluhan ditanggapi cepat, dan apakah biaya yang dikeluarkan masyarakat sepadan dengan manfaat yang diterima. Selama pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab dengan data, tolok ukur pelayanan publik masih akan menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User