Tenun Troso Tembus Pasar Global: Peluang dan Tantangan bagi UMKM

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Koperasi dan UKM per awal 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto ...

Aug 09, 2026 - 07:02
0 0
Tenun Troso Tembus Pasar Global: Peluang dan Tantangan bagi UMKM

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Koperasi dan UKM per awal 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional serta menyerap hampir 97 persen dari total angkatan kerja Indonesia. Dengan fundamental sebesar itu, setiap terobosan di segmen UMKM layak dicermati—termasuk kabar dari sentra tenun Troso di Jepara, Jawa Tengah, di mana pelaku usaha tenun ikat KAINRATU berhasil membawa produknya ke pasar mancanegara berkat program pemberdayaan yang dijalankan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Pendampingan yang diberikan mencakup pelatihan peningkatan kapasitas produksi, standardisasi mutu, hingga pembukaan akses pasar melalui kurasi dan kanal promosi. Bagi usaha berbasis kerajinan tradisional, kombinasi dua faktor tersebut kerap menjadi penentu apakah sebuah produk hanya berputar di pasar lokal atau mampu naik kelas menembus jalur ekspor.

Konteks Makro: Kredit UMKM Tumbuh, Ekspor Tekstil Tertekan

Data Bank Indonesia menunjukkan penyaluran kredit ke segmen UMKM mengalami kenaikan di kisaran 9 hingga 10 persen year-on-year sepanjang 2023 hingga awal 2024, melampaui pertumbuhan kredit korporasi besar. BRI sendiri mencatatkan portofolio kredit UMKM sekitar Rp 1.100 triliun atau setara kurang lebih 83 persen dari total kredit yang disalurkan—rasio yang menegaskan positioning bank pelat merah itu sebagai pemain terbesar di segmen mikro dan kecil di Asia Tenggara.

Namun di sisi hilir, kinerja ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional justru menunjukkan tren melemah. Nilai ekspor TPT Indonesia tercatat sekitar USD 12 miliar pada 2023, mengalami penurunan dibandingkan capaian 2022 yang berada di kisaran USD 13 miliar. Pemicunya adalah perlambatan permintaan dari Amerika Serikat dan Eropa, pasar utama produk garmen dan kain Tanah Air. Indeks aktivitas manufaktur nasional—diukur melalui Purchasing Managers' Index (PMI)—memang masih berada di zona ekspansi di atas level 50, tetapi tekanan pada industri padat karya belum sepenuhnya mereda.

Di Satu Sisi: Produk Artisanal Memiliki Valuasi Premium

Di satu sisi, keberhasilan KAINRATU menembus pasar global mencerminkan pergeseran sentimen pasar internasional. Konsumen di negara maju kini cenderung memburu produk berbasis keberlanjutan, kerajinan tangan, dan narasi budaya—kategori di mana tenun ikat Troso memegang keunggulan komparatif. Produk handmade dengan cerita di baliknya umumnya diperdagangkan pada valuasi premium, dengan margin yang bisa dua hingga tiga kali lipat dibandingkan tekstil massal.

Dukungan ekosistem juga kian lengkap. Pemerintah menargetkan 30 juta UMKM masuk ke ekosistem digital, sementara plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2024 ditetapkan sebesar Rp 297 triliun. Likuiditas perbankan yang memadai memberi ruang bagi pembiayaan usaha kecil untuk terus tumbuh, termasuk pembiayaan modal kerja bagi perajin yang hendak memenuhi pesanan skala ekspor.

Di Sisi Lain: Tantangan Struktural Belum Terselesaikan

Di sisi lain, satu kisah sukses tidak otomatis berarti sektor ini bebas masalah. UMKM kerajinan masih menghadapi kendala klasik: kapasitas produksi terbatas, konsistensi kualitas antar-batch, serta kebutuhan sertifikasi standar internasional yang biayanya tidak murah. Biaya logistik Indonesia juga tergolong tinggi, berkisar 14 hingga 23 persen dari PDB, jauh di atas rata-rata negara tetangga—faktor yang menggerus daya saing harga.

Faktor eksternal turut menambah risiko. Persaingan dengan produsen Vietnam dan India kian ketat, sementara tekanan capital outflow membuat rupiah bergerak di kisaran Rp 15.500 hingga Rp 16.200 per dolar AS. Pelemahan kurs memang menguntungkan dari sisi daya saing ekspor, tetapi di saat bersamaan mengerek harga bahan baku impor seperti benang dan pewarna. Perlambatan ekonomi global juga berpotensi menahan permintaan produk non-primer, termasuk kain etnik.

Proyeksi: Replikasi Menjadi Kunci

Sejumlah ekonom menilai capaian semacam ini perlu dibaca secara proporsional.

"Satu UMKM yang berhasil ekspor adalah sinyal positif, tetapi kontribusinya terhadap devisa baru akan terasa signifikan apabila model pemberdayaannya direplikasi lintas sentra dan ditopang rantai pasok yang konsisten," demikian pandangan yang berkembang di kalangan pengamat ekonomi.

Proyeksi ke depan, sektor kerajinan dan tekstil tradisional berpotensi tumbuh moderat seiring pemulihan permintaan global yang diperkirakan menguat pada 2025. Kuncinya ada pada tiga hal: keberlanjutan pendampingan, penguatan kelembagaan klaster penenun, serta akses pembiayaan berkelanjutan. Tanpa ketiganya, terobosan pasar global berisiko berhenti sebagai pencapaian individual, alih-alih menjadi tren yang benar-benar mengangkat devisa dan kesejahteraan perajin secara luas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User