Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) per akhir 2024, adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di sektor korporasi Indonesia baru menyentuh kisaran 15-20 persen, jauh tertinggal dibanding rata-rata Asia Tenggara yang berada di level 35-40 persen. Kesenjangan ini menjadi pijakan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dalam merancang peta jalan menuju Digital Transformation Indonesia International Forum (DTIIF) 2026, sebuah agenda yang diproyeksikan menjadi katalis percepatan transformasi digital nasional.
Perusahaan pelat merah itu menegaskan bahwa percepatan adopsi AI tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan ekosistem terintegrasi yang menyatukan tiga pilar utama: infrastruktur komputasi, tata kelola data, dan kolaborasi lintas sektor. Pendekatan ini berbeda dari strategi sebelumnya yang cenderung menempatkan AI sebagai proyek teknologi tunggal, bukan sebagai fondasi bisnis jangka panjang.
Infrastruktur dan Likuiditas Data sebagai Fondasi
Di satu sisi, Telkom memiliki modal dasar yang cukup kuat. Jaringan serat optik yang membentang lebih dari 180.000 kilometer, ditambah keberadaan data center berstandar tier III dan tier IV di berbagai wilayah, memberikan keunggulan infrastruktur yang sulit ditandingi pemain swasta. Kapasitas ini menjadi prasyarat mutlak bagi pelatihan model AI berskala besar, yang membutuhkan daya komputasi tinggi dan latensi rendah.
Di sisi lain, tantangan terbesar justru terletak pada likuiditas dan kualitas data. Berdasarkan survei internal industri yang dipublikasikan pada kuartal ketiga 2024, sekitar 60 persen perusahaan di Indonesia masih menyimpan data dalam silo yang terfragmentasi, tidak terstandardisasi, dan sulit diintegrasikan. Tanpa perbaikan tata kelola data, investasi infrastruktur berpotensi menghasilkan valuasi yang tidak optimal karena model AI tidak dapat dilatih secara efektif.
"AI bukan sekadar teknologi, melainkan lapisan baru dalam arsitektur ekonomi digital. Negara yang gagal membangun ekosistem data yang sehat akan kehilangan momentum pertumbuhan," ujar seorang pengamat ekonomi digital dalam sebuah forum industri di Jakarta.
Proyeksi Kontribusi AI terhadap PDB
Mengacu pada kajian lembaga riset internasional, kontribusi AI terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia diproyeksikan mencapai USD 366 miliar pada 2030, atau setara 12 persen dari total PDB. Angka ini merupakan proyeksi akumulatif yang mencakup sektor manufaktur, jasa keuangan, kesehatan, dan perdagangan. Namun, proyeksi tersebut hanya dapat tercapai apabila laju adopsi tahunan tumbuh konsisten di atas 25 persen year-on-year.
Pro: percepatan adopsi AI berpotensi menciptakan lapangan kerja baru di bidang data science, rekayasa perangkat lunak, dan layanan berbasis kecerdasan buatan. Kontra: tanpa kesiapan sumber daya manusia, otomatisasi justru berisiko menimbulkan disrupsi tenaga kerja di sektor padat karya. Rasio kesiapan talenta digital Indonesia saat ini baru sekitar 0,45 dari skala 1,0, menandakan masih ada ruang perbaikan yang signifikan.
Sentimen Pasar dan Kolaborasi Lintas Sektor
Dari kacamata sentimen pasar, langkah Telkom memperkuat ekosistem AI turut memengaruhi persepsi investor terhadap sektor telekomunikasi. Indeks saham sektor infrastruktur digital mencatat fluktuasi moderat sepanjang 2024, dengan capital outflow bersih di pasar modal domestik mencapai Rp 12,4 triliun pada periode Januari-September. Meski demikian, fundamental emiten telekomunikasi relatif terjaga, tercermin dari rasio utang terhadap ekuitas yang stabil di kisaran 0,6-0,7 kali.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kata kunci berikutnya. Telkom dinilai perlu menggandeng perguruan tinggi, startup, dan institusi pemerintah untuk membangun portofolio solusi AI yang aplikatif. Model kemitraan ini memungkinkan transfer pengetahuan sekaligus mempercepat komersialisasi riset. Tren serupa telah diadopsi sejumlah negara tetangga yang berhasil menaikkan indeks kesiapan AI mereka di atas 0,6 dalam kurun tiga tahun.
Dengan menyongsong DTIIF 2026, arah kebijakan Telkom menegaskan bahwa transformasi digital nasional tidak lagi berbicara soal konektivitas semata, melainkan soal bagaimana data, infrastruktur, dan sumber daya manusia dirangkai menjadi satu ekosistem yang utuh. Keberhasilan agenda ini akan sangat bergantung pada konsistensi eksekusi serta dukungan regulasi yang kondusif bagi pertumbuhan industri AI dalam jangka panjang.
Comments (0)