Oct 10, 2026
Bisnis

Teknologi Carbon Capture Janjikan Pemangkasan Emisi Industri Hingga 95 Persen

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta proyeksi International Energy Agency (IEA) per 2024, sektor industri dan pembangkit listrik masih menyumbang sekitar 40 persen dari to...

Teknologi Carbon Capture Janjikan Pemangkasan Emisi Industri Hingga 95 Persen

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta proyeksi International Energy Agency (IEA) per 2024, sektor industri dan pembangkit listrik masih menyumbang sekitar 40 persen dari total emisi gas rumah kaca nasional. Di tengah tekanan global untuk menurunkan suhu bumi maksimal 1,5 derajat Celsius, teknologi penangkapan karbon atau carbon capture disebut-sebut sebagai salah satu jalan tengah yang paling realistis. Utusan Khusus Presiden bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkap bahwa teknologi ini berpotensi memangkas emisi dari cerobong industri hingga 95 persen—sebuah angka yang secara teori setara dengan menghilangkan hampir seluruh jejak karbon dari satu fasilitas produksi.

Apa Itu Carbon Capture dan Mengapa Angka 95 Persen Penting?

Carbon capture adalah teknologi yang menangkap gas karbon dioksida (CO2) sebelum dilepaskan ke atmosfer, lalu mengompresinya dan menyimpannya di formasi geologi bawah tanah atau memanfaatkannya kembali untuk industri lain. Bagi pembaca awam, bayangkan seperti memasang filter raksasa di ujung pipa pembuangan pabrik—bukan menghilangkan asapnya, tetapi menahan kotorannya agar tidak keluar. Angka 95 persen menjadi penting karena mayoritas teknologi ramah lingkungan saat ini baru menekan emisi di kisaran 30–50 persen, terutama yang berbasis efisiensi energi. Jika klaim tersebut terbukti pada skala komersial, carbon capture bisa menjadi katalis besar dalam transisi energi nasional.

Di Satu Sisi: Peluang Besar dan Daya Tarik Investasi

Dari kacamata ekonomi, teknologi ini menawarkan beberapa keunggulan. Pertama, Indonesia memiliki formasi saline aquifer dan ladang gas depleted yang secara geologis cocok untuk penyimpanan karbon permanen, terutama di cekungan Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur. Kedua, biaya penangkapan karbon global diperkirakan turun dari sekitar USD 50–100 per ton CO2 pada 2020 menjadi USD 30–50 per ton pada 2030 seiring skala ekonomi dan inovasi. Ketiga, proyek ini membuka peluang pendanaan internasional, termasuk skema carbon credit yang valuasinya diproyeksikan menembus USD 1 triliun pada 2030. Bagi perusahaan, penerapan carbon capture dapat menjaga likuiditas jangka panjang karena menghindari denda karbon dan memperbaiki skor ESG—faktor yang semakin menentukan akses ke pasar modal global.

"Transisi energi bukan soal memilih antara pertumbuhan dan lingkungan. Kita bisa memiliki keduanya jika teknologinya tepat," ujar Hashim dalam sebuah forum diskusi ekonomi hijau.

Di Sisi Lain: Biaya, Infrastruktur, dan Risiko Sentimen Pasar

Namun, optimisme perlu diimbangi catatan kritis. Secara fundamental, biaya investasi awal carbon capture masih sangat tinggi. Studi lembaga riset energi global memperkirakan pembangunan satu fasilitas penangkapan karbon skala industri membutuhkan dana USD 500 juta hingga USD 1 miliar, tergantung kapasitas dan lokasi. Ini bisa membebani neraca perusahaan, terutama di tengah volatilitas harga komoditas dan tekanan capital outflow dari pasar negara berkembang. Selain itu, infrastruktur pipa transportasi CO2 di Indonesia masih minim, sementara kerangka regulasi mengenai hak penyimpanan bawah tanah belum sepenuhnya final. Risiko lain adalah sentimen pasar: jika proyek ini dianggap terlalu mahal tanpa insentif fiskal yang jelas, investor bisa menahan diri dan memilih portofolio energi terbarukan yang lebih matang seperti solar dan hidro.

Posisi Indonesia dalam Tren Global

Menariknya, Indonesia tidak berjalan sendiri. Berdasarkan data Global CCS Institute per 2024, ada sekitar 40 fasilitas carbon capture komersial beroperasi di dunia dengan kapasitas total di atas 50 juta ton CO2 per tahun. Negara seperti Norwegia, Kanada, dan Amerika Serikat menjadi pionir. Jika Indonesia mampu mengeksekusi proyek percontohan dalam 3–5 tahun ke depan, indeks daya saing energi nasional berpotensi naik dan memperkuat posisi diplomasi iklim. Sebaliknya, tanpa eksekusi, wacana ini hanya akan menjadi retorika tahunan tanpa dampak terhadap rasio emisi per kapita yang saat ini masih di kisaran 2,3 ton CO2.

Kesimpulannya, teknologi carbon capture menawarkan dua wajah: peluang strategis untuk mendekarbonisasi industri sekaligus tantangan fiskal dan struktural yang nyata. Angka 95 persen adalah target yang menggugah, tetapi keberhasilannya bergantung pada eksekusi kebijakan, kepastian regulasi, dan kemauan politik untuk menutup celah pembiayaan. Tanpa itu, narasi besar ini berisiko berhenti sebagai proyeksi di atas kertas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User